Ojek Online potret rakyat Indonesia hari ini

Oleh : Yudho Prasodjo*

Lalat lalat itu mengganggu, dengungnya seakan ocehan kaum sekuler yang menghamba pada cinta dan kemanusiaan. Meniadakan keberadaan yang substansial, menuntut kemerdekaan akal fikiran.
Awalnya kita gagap mengikuti irama mereka, bahasa anak anak bumi yang menggelorakan mimpi mimpi yang nisbi, mimpi mimpi yang sering membutakan mata hati, mimpi mimpi yang hanya melahirkan fatamorgana dan kerap membuat lelah jiwa, lelah fikiran, kecewa lalu putus asa. Perlahan namun pasti gelombang itu membuat kita menjadi terbiasa dengan aneka gaya dan irama, lalu dengan bangga mengklaim sebagai bagian orang orang modern, budak kemajuan jaman. Batas antara boleh dan tidak boleh menjadi bias, baik buruk bukan ukuran, hitam putih semakin samar. Kebenaran seakan potongan puzle yang butuh kesabaran untk menyatukan menjadi bentuk bangun kesejatian. Hidup seakan labirin labirin membingungkan yang menawarkan kesangsian. Kita dibuat tidak sadar jika telah menjadi rabun hingga sulit membedakan gelap terang.

Saya tidak pernah bisa menghitung dengan pasti sudah berapa kali saya naik ojol sejak pertama kali aplikasi hijau dan oranye itu menghiasi layar ponsel orang-orang di Jakarta. Kalau harus jujur, mungkin sudah ribuan kali. Kadang jaraknya hanya 10,5 kilometer—perjalanan dari apartemen saya di bilangan Jaksel ke stasiun kereta. Kadang jauh, menyusuri beberapa provinsi sekaligus (Tangerang Banten -Jakarta – Depok /Bekasi Jawa Barat). Di antara perjalanan-perjalanan itu, saya menemukan sesuatu yang lebih dari sekadar moda transportasi murah dan cepat. Saya menemukan potongan hidup, percakapan rawan canggung yang bisa berubah jadi intim dalam 10 menit, juga wajah-wajah manusia Jakarta yang membawa seluruh beban kotanya di balik helm dan jaket lusuh. Di kursi belakang motor itulah saya sering merasa Jakarta menyingkapkan dirinya tanpa basa-basi. Angin sore yang membawa aroma gorengan dari pinggir jalan, klakson beruntun di lampu merah, tawa kecil pengemudi yang bercerita tentang anaknya kelas dua SD yang baru bisa mengaji. Ada pula yang hanya diam, memilih biar suara mesin saja yang mengisi udara. Setiap perjalanan adalah fragmen, kadang banal, kadang mengejutkan, dan bagi saya, fragmen-fragmen itu membentuk bahan mentah bagi puisi, esai, dan cerpen. Saya mulai mengoleksi kalimat-kalimat yang lahir dari jok belakang motor: sebuah “antologi tak tertulis” yang mengiringi saya sepanjang jalan.

Sosiolog kota Henri Lefebvre pernah menulis tentang “the right to the city”—hak untuk memiliki, mengubah, dan menafsirkan ruang kota. Bagi saya, ojol adalah manifestasi paling sehari-hari dari hak itu. Mereka bukan sekadar penyedia jasa, melainkan mediator antara saya dan Jakarta. Tanpa mereka, saya mungkin hanya bergerak di jalur yang itu-itu saja: kantor, rumah, mal, bioskop. Bersama mereka, saya dipaksa masuk ke gang sempit yang tak pernah saya tahu ada, berbelok ke jalur tikus yang membelah permukiman, bahkan melewati jembatan reyot yang tak masuk Google Maps. Saya jadi mengerti: kota tidak hanya dibaca lewat peta resmi, tapi juga lewat rute-rute alternatif yang diketahui para ojol. Di titik itu, saya sadar, Jakarta yang sesungguhnya bukanlah Jakarta yang megah di brosur pariwisata, melainkan kota yang ditenun setiap hari oleh para pengemudi. Mereka adalah narator jalanan. Setiap kali saya bertanya, “Lewat sini bisa, Bang?”, dan ia menjawab dengan yakin “Tenang aja, saya tahu jalannya,” saya merasa sedang membaca sebuah puisi urban yang penuh improvisasi. Ada ritme, ada kepercayaan, ada seni bertahan hidup di antara jalan yang macetnya seperti kutukan.

Tapi di balik semua itu, ada realitas getir: pekerjaan ojol adalah pekerjaan yang rapuh. Ia mengandalkan tubuh, waktu, dan sedikit keberuntungan. Sekali jatuh, sekali salah arah, atau sekali terkena musibah, seluruh hidup bisa berubah. Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan pada 28 Agustus 2025 mengingatkan saya pada rapuhnya garis batas itu. Affan, seorang pengemudi muda, hilang nyawanya bukan karena kelalaiannya, tapi karena terjebak di pusaran ricuh yang ia sendiri mungkin tak pernah berniat ikuti. Tubuhnya dilindas mobil aparat, dan seketika, dunianya runtuh. Kabar itu menghantam saya seperti pukulan yang datang dari belakang. Saya tak mengenalnya, tapi berita tentang kematiannya terasa seperti kehilangan saudara sendiri. Barangkali karena saya memang pernah kehilangan saudara. Dalam The City of Collective Memory, Christine Boyer menulis bahwa kota adalah arsip emosional. Ia menyimpan jejak tragedi sekaligus kenangan pribadi. Maka setiap kali saya melewati jalan besar di Pejompongan—tempat Affan tewas—saya tahu jalan itu tidak lagi netral. Ia menjadi palimpsest, lapisan sejarah yang menampung darah seorang anak muda.

Sebagai penulis, saya sering merasa tidak berdaya di hadapan peristiwa macam ini. Apa gunanya kata-kata di tengah nyawa yang hilang? Tapi justru di situ, saya merasa menulis bisa menjadi cara kecil untuk menjaga nama, agar Affan tidak hanya jadi statistik di laporan kepolisian. Kata-kata bisa menjadi bunga yang tidak layu, bisa menjadi penanda bahwa hidupnya, meski singkat, tetap berarti. Dan di jok belakang motor ojol yang lain, saya berjanji dalam hati: setiap kali menulis puisi tentang jalanan, saya akan menyelipkan jejak itu. Saya jadi teringat apa yang ditulis Walter Benjamin tentang flâneur: pengembara kota yang berjalan tanpa tujuan jelas, menyerap detail kehidupan urban. Bagi saya, ojol adalah flâneur modern, meskipun dengan kecepatan motor dan aplikasi peta digital. Mereka bergerak bukan untuk melamun, tapi untuk bekerja. Namun, sama seperti flâneur, mereka menyaksikan denyut kota paling dekat. Saya yang menumpang di belakang motor mereka juga jadi flâneur sementara, mencatat, menyerap, dan menulis. Jakarta bergerak, saya bergerak, kata-kata ikut bergerak.

Namun ada satu hal yang sering saya pikirkan: bagaimana kita bisa menghormati mereka lebih dari sekadar bintang lima di aplikasi? Kehormatan itu mestinya diwujudkan dalam sistem yang melindungi keselamatan mereka, dalam ruang kota yang tidak memaksa mereka jadi tumbal. Kehormatan itu juga bisa diwujudkan lewat ingatan kolektif, memastikan bahwa nama-nama seperti Affan tidak tenggelam di arsip berita. Dalam konteks ini, puisi, esai, dan cerpen bukanlah pelarian, tapi cara lain untuk menulis ulang sejarah kota: sejarah dari bawah, dari jok motor yang sering diabaikan. Setiap kali saya naik ojol, saya tahu saya sedang menumpang pada tubuh yang bekerja keras, tubuh yang bisa rapuh kapan saja. Dan di dalam kerentanan itu, saya belajar tentang arti keberanian. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam setiap perjalanan: dua orang asing yang berbagi jalan, berbagi waktu, berbagi sedikit kepercayaan. Dari situlah, saya percaya, sastra bisa tumbuh.

Kini, ketika saya menulis esai ini, saya merasa setiap denyut kota terhubung dengan denyut kehilangan yang masih saya bawa. Kehilangan adik saya, kehilangan Affan, kehilangan yang mungkin akan terus terjadi pada orang-orang kecil di jalanan Jakarta. Tapi daripada menyerah pada putus asa, saya memilih untuk menuliskannya, menaruh nama mereka di halaman yang tidak mudah dihapus. Sebab, seperti kota, sastra juga adalah arsip: arsip cinta, arsip duka, arsip perlawanan. Dan esai ini, semoga, bisa menjadi lilin kecil untuk menerangi nama Affan, sekaligus pelukan untuk semua pengemudi ojol yang setiap hari menyusuri kota dengan tubuh mereka sebagai taruhan. Terima kasih telah membawa saya ke rumah, ke stasiun, ke halte Trans-Jakarta, ke kafe, dan bahkan ke lorong-lorong puisi yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya. Tabik!

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar