Sabar itu Rumit, namun Kunci menuju Kesadaran (Bagian 2)

Oleh : Yudho Prasojo*

Setelah waktu berada di ujung limit, dan usia tak bisa dipungkiri telah menggerogoti tubuh bersama ragam penyakit penyerta, serta kisah perilaku yang padu antara baik dan buruk, kesadaran untuk membenahi diri muncul. Ada beragam cara yang dilakukan manusia, seperti menata diri dengan menjadi lebih baik, beralih pada agama dengan fanatisme yang militan yang terkadang disertai opini pada pendapat tentang keyakinan seseorang bersama argumen ‘like or dishlike’ padahal dia sendiri belum pernah ke surga atau neraka. Ada juga yang berbenah diri menjadi sosok yang lebih alim bersama atribut tampilan untuk menunjukkan bahwa perilaku awal telah ditutup dengan segala sesuatu yang membentuk opini bahwa saya  dekat dengan Sang Pemilik Semesta. Ragam perilaku itu sah-sah saja. Jika manusia di usia menjelang tua masih berkutat pada nafsu dunia seperti korupsi, selingkuh, berdusta, menipu, sombong tak rendah hati, penuh intrik dan manipulatif, serakah, rakus, ego, tidak berempati pada kaum marginal yang menderita akibat kemiskinan serta sakit penyakit, untuk apa atribut kebaikan yang diperlihatkan sehingga itu hanya sekedar topeng?

Aku terlahir sebagai underdog dan tidak diunggulkan, sepanjang usia aku berjuang untuk mendapatkan kemenangan. Tuhan mengizinkan aku sampai di titik kemenangan itu. Sampai satu waktu aku kembali terjatuh dan dikalahkan dunia. Aku terjerembab di titik paling hina. Dan dari titik itulah aku belajar untuk memperbaiki diriku dengan bersabar. Bersabar yang aktif. Bersabar yang tidak putus asa. Mencari solusi. Bersabar agar bisa beruntung. Man shabara, Zhafiraa. Sebenarnya, kesabaran sangat erat kaitannya dengan kesadaran. Bila benar-benar menyadari tabiat kemanusiaan kita yang tak lepas dari salah dan lupa, juga hakikat penciptaan kita yang senantiasa bersujud kepada Sang Maha Pengampun lagi Penyayang, maka tiada alasan untuk tidak bersabar. Di sini, Syekh Ibnu Abid Dunya sedang berusaha menguak kesadaran umat sehingga menjadi pribadi yang penyabar, seperti tukang kebun yang sabar menunggu benih tumbuh menjadi pohon raksasa yang berbuah emas. Karena itu, kitab as-Shabru wa Tsawâb ’alaihi ini, adalah harta karun, penuh dengan nasihat-nasihat sabar yang menyejukkan hati. Baik dari Al-Qur’an, hadist, kalam para sahabat, dan para ulama salafuna as-shalih yang lain. Seperti nasihat Imam Ibrahim at-Taimiy yang mengatakan:
“Setiap kali Allah menganugerahi kesabaran pada hamba-Nya, baik atas rasa sakit, malapetaka, dan musibah, pasti juga memberinya yang labih baik dari (ganjaran) keimanan itu sendiri”. (as-Shabru wa Tsawâb ’alaihi hal. 28)

Kalam at-Taimiy di atas, membuatku merenung dalam-dalam. Ia mengajarkan kita bahwa mempertahankan keimanan jauh lebih penting daripada keimanan itu sendiri. Ini seperti memiliki permata, tapi yang lebih berharga adalah kemampuan untuk menjaganya agar tidak hilang atau tercoreng. Segala bentuk kesusahan dan derita yang dirasakan umat adalah ujian keimanan dari Allah. Mengingat, iman yang hakiki yaitu iman yang tak lekang waktu, tempat dan kondisi; suka ataupun duka, lapang atau sempit. Sungguh, nasihat yang besar. Ia seperti jembatan yang menghubungkan dunia fana dengan keabadian, dan jembatan itu terbuat dari benang-benang kesabaran. Aku pernah mendengar seorang guru spiritual, konon Ibnu Arabi, pernah berkata, “Sabar itu adalah tidak melakukan apa-apa ketika segalanya terasa mendesak untuk dilakukan. Dan melakukan segalanya ketika tidak ada yang terasa mungkin untuk dilakukan.” Sungguh sebuah paradoks yang memusingkan, tapi entah mengapa terasa benar. Di lain waktu, Imam Al-Ghazali mengajarkan, “Sabar adalah menahan diri dari apa yang tidak kamu sukai demi apa yang kamu sukai.” Ia seperti seorang pelatih yang tegas, memaksa kita berlari marathon padahal inginnya rebahan, demi medali emas kebahagiaan sejati.

Namun, yang paling melekat dalam benakku adalah analogi keimanan dari Imam Ali bin Abi Thalib. Ia berkata:
“Ingatlah! Sabar mempertahankan keimanan layaknya kepala dalam satu tubuh. Bila dipenggal, habislah tubuh itu… Kemudian Sayyidina Ali mengangkat suaranya, dan menyampaikan, Ingatlah! Sungguh, tiada iman bagi yang tak memiliki kesabaran”. (as-Shabru wa Tsawâb ’alaihi hal. 24) Kalam ini menancap dalam diriku seperti panah kebijaksanaan. Sabar bukan sekadar nilai tambah, melainkan fondasi. Sebuah kepala yang bisa berpikir, merasakan, dan mengarahkan seluruh tubuh. Tanpa sabar, keimanan kita akan seperti tubuh tanpa kepala, tergeletak tak berdaya di tengah badai kehidupan. Kendatipun sabar memiliki tingkatan, dari yang paling rendah sampai yang tertinggi, namun sejatinya bukan tentang tingkatan itu sendiri. Tetapi soal misi mempertahankan keimanan. Terkait tingkatan sabar, itu hanya indikasi dari tingkat keimanan seseorang. Semakin tinggi sabar seseorang, semakin kokoh imannya, seolah ia adalah pohon raksasa yang akarnya menancap kuat di bumi, tak gentar diterpa angin topan.

Syair Imam al-Husain bin Abdurrahman tentang sabar semakin menegaskan ini:
“Bila engkau tak berlapang dada hadapi segala urusan, tentu akan mempersulit dirimu, maka lapangkanlah dadamu dan permudahkanlah setiap kesulitan … Belum pernah kutemukan hal yang paling komplet hadapi malapetaka selain takwa, belum juga kudapati sesuatu yang paling ampuh obati kebencian selain sabar” (as-Shabru wa Tsawâb ’alaihi hal. 45). Syair ini membuatku merenung. Bukankah kita seringkali memperumit hidup dengan ketidaksabaran kita? Mempersulit diri dengan mengeluh, dengan mencari kambing hitam, alih-alih berlapang dada dan mencari solusi. Takwa adalah perisai dari malapetaka, dan sabar adalah obat paling mujarab untuk kebencian. Sebuah resep yang sederhana, tapi sulit sekali dipraktekkan di dunia yang penuh hiruk pikuk ini.

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar