Oleh : Kurnia Fajar*

Tiga hari yang lalu saya dikejutkan dengan berita seorang ibu yang meracuni dua orang anaknya dan akhirnya menggantung dirinya sendiri. Ini adalah sebuah pukulan telak bagi kemanusiaan. Bagi masyarakat yang katanya gemar bergotong royong. Seorang ibu yang husbandless dan dua orang anak yang fatherless. Dalam suratnya ibu itu menulis kekalahannya kepada hidup dan menyerah kepada suaminya. Sambil merenung saya bergumam, jika kelak nanti Malaikat ingin tahu detilnya, saya akan jawab: dia sudah minta bantuan ke keluarganya. Dikasih kagak, digibahin iya. Sang ibu sudah tempuh semua perjalanan, lalu dia tiba di akhir. Bukannya dibantu, dia jadi bahan omongan. Mengapa muncul fenomena anak-anak Fatherless, kemudian istri yang husbandless karena mayoritas laki-laki kini kalah ditekuk dunia. Dunia hanya berputar di kaum elit. Kesempatan, akses, pekerjaan dan sumberdaya. Semuanya hanya dinikmati elit. Sedangkan laki-laki medioker terpaksa harus menjadi bromocorah jalanan dan kalah bahkan berkali-kali. Minggu ini di bioskop sedang diputar film “andai ibu tidak menikah dengan ayah”. Diperankan dengan ciamik oleh Bucek dan Sha Ine Febriyanti, Amanda Rawless dan pendukung lainnya.
Ada satu quote yang sangat bagus yang diucapkan oleh ibu kepada anaknya yang sedang kesal-kesalnya dengan kelakuan sang ayah “ayah kamu itu bukan orang yang jahat dia cuma orang yang kalah”. Quote yang pasti bergetar di setiap dada laki-laki yang kalah, mereka yang gagal membawa 50rb-100rb untuk sekedar mengisi perut anak dan istrinya. Mereka yang hidup di penjara jauh dari istri dan anak-anaknya. Mereka yang menganggur karena tidak bekerja. Laki-laki seperti ini mayoritas akan menyerah kepada harapan dan mimpi hidupnya, ia akan bertemu dengan judi online, togel dan mungkin narkoba. Bagaimana mendefinisikan laki-laki yang kalah? Untuk hal ini saya teringat Film-filmnya Liam Neeson, Aktor yang sepertinya menjiwai dalam setiap perannya. Liam terkenal melalui Film Taken dan sequelnya Taken 2 dan Taken 3 kemudian Cold Pursuit, Ice Road 1 dan 2, Marksman dan Honest Thief. Hampir semua film-nya murung dan digambarkan sebagai lelaki yang harus berdamai dengan mimpi-mimpinya. Kematian istrinya aktris Natasha Richardson kelihatannya sangat membekas kepada hidupnya. Sehingga barangkali ketika disodorkan suatu naskah film dengan tema laki-laki kalah yang harus berdamai dengan dirinya, maka produser langsung menunjuk Liam untuk memerankan-nya.
Dalam Taken, ia memerankan seorang ayah yang harus jauh dari putrinya dan mendapati kenyataan harus bercerai dengan istrinya karena pekerjaan sebagai agen rahasia menuntut ia harus jauh dengan keluarganya. Akhirnya ketika pensiun ia mendapatkan kenyataan bahwa putrinya telah jauh dan ia hidup sendiri. Untuk menebus dosanya ia menjadi over protektif dan menemani putrinya semaksimal mungkin. Kemudian dalam Marksman, ia menjadi mantan marinir yang hidup sendiri dan ditinggal istrinya. Memutuskan tinggal di peternakan di perbatasan. Dalam cold pursuit Liam memerankan lelaki yang baik kemudian murung karena mendapati anaknya harus mati karena terjebak dalam perang kartel narkoba dan istrinya lagi-lagi meninggalkannya. Kemudian dalam the Honest thief ia sebagai lelaki yang telah kehilangan semuanya kemudian memutuskan menjadi perampok bank, setelah sukses kemudian ia jatuh cinta dan seperti kembali mendapatkan hidupnya. Ia berniat mengembalikan semua hasil pencuriannya dan hidup sederhana dengan kekasihnya. Begitu pula dalam Ice Road, Liam harus kehilangan adiknya dan hidup tanpa memiliki arti. Liam yang murung dan kehilangan hidupnya. Seorang kawan pernah mengatakan begini kepada saya “Lelaki yang kehilangan baik kehilangan cinta dan kasih sayang maka ia akan kehilangan hidupnya. Dia hanya berdamai dan melanjutkan hidup. Namun hatinya sudah mati”. Melihat Liam Neeson dalam film-filmnya saya setuju dan mengamini kata-kata kawan ini. Saya kira, kita semua, laki-laki yang bertarung untuk mimpinya, keluarganya pasti pernah kalah dan ditekuk dunia.
Dalam situasi kalah saya biasanya seperti Liam. Diam, murung, kesepian dan membeku. Namun semua berubah ketika saya bertemu Surat Ar-rahman. Saya suka surat Ar Rahman. Surat panjang yang memendekkan ingatan saya tentang melihat ke dalam, menikmati yang dekat. Harapan boleh panjang, boleh gede segede Gunung Gede. Tapi yang dekat, yang di sekeliling, pada semua kita menaruh syukur. Dalam puncak kebingungan saya mencari dan menemukan Islam, Muhammad SAW dan Allah SWT pun melalui Ar Rahman. Tuhan itu dekat, kita yang menjauh. Barangkali saya sudah menjelang Ashar, sebentar lagi Maghrib lalu Isya. Pulang harusnya menjadi ikhtiar yang menyenangkan. Tak lagi menakutkan. Bertemu Tuhan. Tiap Subuh, tiap Ar Rahman dilagukan, saya selalu bisa merasa sangat dekat dengan Tuhan. Sangat dekat, sampai saya bisa membisikkan apa saja. Dunia ini memang menipu kok. Keinginan kita bisa lebih besar dari jagad raya, tapi yang kita butuhkan hanyalah segelas kopi, mungkin sebatang rokok, dan obrolan yang kadang menyenangkan kadang tidak. Saya suka Ar Rahman, lalu dari situ saya dibawa ke mana-mana. Kemudian kembali ke titik awal: nikmat mana yang kamu dustakan. Pulang bukan lagi perjalanan yang mencemaskan. Nanti kalau kita sempat berjamaah, Subuh misalnya, tolong surat kedua Ar Rahman. Nanti kubisikkan ke Tuhan: kabulkan semua apa-apa yang ada di hati imam ini. Setelah itu yakinlah bahwa kita semua laki-laki yang murung ditekuk dunia bukanlah lelaki yang kalah ia sudah dipeluk oleh Ar Rahman. Tabik!
*)Senopati, Perhimpunan Gerilyawan Nusantara