Oleh : Yudho Prasodjo*

Ada hal yang terus mengganggu pikiran saya sejak kabar itu datang: mengapa nasib tragis sering jatuh kepada mereka yang sehari-hari justru menjadi penopang kota? Para pekerja informal, seperti tukang parkir, pedagang kaki lima, kurir paket, pengemudi bajaj, hingga ojol seperti Affan, seolah menjadi “pasukan bawah sadar” yang memastikan Jakarta tetap hidup. Tanpa mereka, jalanan akan lebih macet, perut kita lebih sering lapar, logistik lebih sering tersendat. Tapi dalam hirarki sosial, mereka kerap berada di urutan paling rendah. Dalam berita, mereka jadi sekadar nama dan umur, seakan-akan perannya tak lebih dari angka.
Tragedi yang menimpa Affan adalah semacam ironi besar. Bayangkan: ia mungkin baru saja menuntaskan satu order, atau sedang menunggu pesanan berikutnya, ketika ricuh pecah di dekatnya. Ia bukan aktor utama di panggung demonstrasi itu, tapi panggung kota yang gaduh menyeretnya tanpa ampun. Kehidupannya terhenti, bukan karena kesalahan pribadi, tapi karena ia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah. Namun, benarkah ini hanya persoalan “waktu dan tempat”? Atau ada sistem yang membuat orang kecil lebih rentan menjadi korban?
Saya teringat teori tentang “kewarganegaraan kelas dua” dalam kajian urban studies: mereka yang hidup di lapisan bawah kota sering tidak mendapat perlindungan yang sama seperti warga yang lebih mapan. Mereka bekerja di jalanan yang berbahaya, tanpa jaminan keamanan. Jika terjadi sesuatu, negara baru datang setelah tragedi menimpa, dengan permintaan maaf dan janji evaluasi. Padahal, keamanan seharusnya bukan barang mewah. Ia adalah hak setiap orang, tak peduli status sosialnya.
Kehadiran Kapolri di RSCM malam itu bisa dibaca sebagai simbol. Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa negara tidak tutup mata. Tapi di sisi lain, ia juga menyiratkan bahwa aparat selalu berlari mengejar tragedi, bukan mencegahnya. Affan sudah tiada ketika pelukan itu diberikan. Yang tersisa hanyalah keluarga yang berduka dan masyarakat yang bertanya-tanya: sampai kapan pola ini akan berulang?
Di titik ini, kita perlu merenungkan makna kematian Affan sebagai bagian dari narasi sejarah kota. Jakarta sudah sering menyaksikan korban di tengah pergolakan politik: dari peristiwa 1966, 1998, hingga gelombang demonstrasi yang lebih kecil dalam satu dekade terakhir. Selalu ada tubuh-tubuh muda yang tumbang, seringkali bukan karena pilihan politik pribadi, melainkan karena terjebak di arus besar sejarah. Affan kini menjadi salah satu nama di daftar panjang itu—sebuah daftar yang seharusnya tidak perlu terus bertambah.
Namun, apakah kita hanya akan berhenti pada kesedihan? Tidak seharusnya. Tragedi ini bisa, dan harus, menjadi momentum refleksi. Pertama, refleksi bagi aparat keamanan: bagaimana mereka memahami demonstrasi bukan semata-mata sebagai ancaman, tetapi sebagai bagian dari kehidupan demokrasi yang harus dikelola dengan humanis. Kedua, refleksi bagi kita sebagai masyarakat: bagaimana kita memperlakukan para pekerja lapangan seperti Affan, tidak sekadar sebagai perantara layanan, tetapi sebagai manusia penuh martabat yang layak dihormati.
Ada pelajaran lain yang lebih personal. Affan adalah anak muda. Usianya barangkali tidak jauh berbeda dengan adik atau sepupu kita. Ia punya mimpi, cita-cita, mungkin punya rencana sederhana—membeli motor baru, membahagiakan orang tua, atau sekadar menabung untuk masa depan. Saat hidupnya terhenti, kita diingatkan bahwa kematian bisa menimpa siapa saja, kapan saja, tanpa aba-aba. Tragedi ini seharusnya membuat kita lebih peka, lebih berempati, lebih berhenti menganggap enteng nyawa orang lain.
Bagi saya, momen paling menyayat adalah membayangkan ibu atau ayah Affan menerima kabar anaknya meninggal. Tidak ada orang tua yang siap mengubur anaknya. Normalnya, anaklah yang mengantar orang tua ke liang lahat. Ketika urutan itu terbalik, dunia seolah runtuh. Luka itu akan menetap, mungkin tidak pernah sembuh. Kita hanya bisa berharap doa-doa masyarakat sedikit meringankan beban mereka.
Namun, di tengah gelap, saya percaya ada secercah terang: solidaritas. Saya melihat bagaimana komunitas ojol cepat sekali bergerak, menggalang dana, mendatangi keluarga korban, memberikan dukungan moral. Inilah kekuatan masyarakat urban yang sering kita lupakan: jaringan informal yang saling menopang, bahkan ketika negara terlambat hadir. Di jalanan, para ojol bukan hanya rekan kerja, tapi juga saudara. Mereka tahu betul betapa rapuh hidup ini, betapa mudah tergilas oleh sistem. Solidaritas itulah yang membuat mereka bisa bertahan, dan yang kini bisa sedikit menghibur keluarga Affan.
Tragedi ini juga membuat kita bertanya: apa arti sebuah kota tanpa rasa aman? Jakarta bisa membanggakan gedung pencakar langit, pusat belanja mewah, dan transportasi modern. Tapi jika seorang pemuda bisa kehilangan nyawanya begitu saja di tengah jalan, apakah semua itu masih relevan? Kota sejati adalah kota yang melindungi warganya, terutama yang paling rentan. Tanpa itu, pembangunan hanya kosmetik.
Di akhir hari, kita tahu tak ada esai atau berita yang bisa menghidupkan Affan kembali. Tapi menulis tentangnya adalah cara kecil untuk menjaga agar namanya tidak hilang ditelan berita-berita baru. Ini juga cara kita untuk berkata: hidupmu berarti, perjuanganmu penting, dan kepergianmu tidak akan sia-sia jika kami belajar darinya.
Kepada Affan Kurniawan, kami kirim doa. Kepada keluarganya, kami kirim pelukan meski dari jauh. Kepada masyarakat, kami ajak untuk tidak melupakan. Kepada aparat, kami tuntut perubahan. Tragedi ini harus menjadi titik balik, bukan sekadar catatan kecil di pinggiran koran.
Malam itu, di jalanan Jakarta, satu nyawa melayang. Tapi gema kehilangan itu jauh lebih besar daripada yang terlihat. Ia menegur kita semua: bahwa setiap manusia, sekecil apa pun perannya di mata publik, adalah bagian penting dari kehidupan kota. Dan ketika satu di antara kita tumbang, kita semua seharusnya ikut berduka.
Selamat jalan, Affan. Jalanan kota yang dulu kau lalui dengan sabar, kini akan selalu menyimpan jejakmu.
*)Gerilyawan Selatan