Oleh : Kurnia Fajar*

WS Rendra, Penyair, Dramawan sekaligus Budayawan besar di Republik ini suatu ketika pernah mengatakan daya hidup masyarakat jawa amatlah hebat. Ia seperti karet, lentur dan dapat melenting serta tidak bisa dihancurkan. Itulah sebabnya masyarakat jawa menghadirkan konsep ratu adil di dalam kepalanya. Ia pelihara konsep itu sepanjang hidupnya. Jika sang ratu tak kunjung hadir. Ia hadirkan semangat hidupnya pada sesuatu yang rutin hadir pada dirinya, dalam kasus saya : Roti bakar, biskuit dan secangkir teh tarik. Ada orang menutup hari dengan Shalat dan doa-doa khusyuk ke arasy, ada yang dengan segelas susu hangat, ada juga yang dengan meditasi sambil mendengarkan suara hujan. Saya, Yudho Prasodjo, menutup banyak hari saya dengan Teh tarik, biskuit yang dibuatkan oleh sahabat saya Andi namanya. Serta kadang-kadang roti bakar cari rasa milik Deni cirebon. Tidak ada ritual lain yang lebih konsisten menemani perjalanan saya di kotak kubus ini. Isi kepala saya kadang isi kadang pula kosong. Separuh kewarasan dan separuh kebodohan. Kalau hidup ini adalah kitab suci yang ditulis dengan tinta asap knalpot, maka teh tarik dan roti bakar adalah tafsirnya: sederhana, lengket, tapi selalu membuat orang kembali. Roti bakar dan teh tarik telah menjadi semacam guru filsafat jalanan bagi saya. Sartre, Kierkegaard, Diogenes hingga Albert Camus—semua bisa saya temukan di sana, tanpa perlu repot-repot ke perpustakaan kampus. Roti Bakar isi kacang mengajari saya bahwa hidup memang berantakan tapi tetap layak disantap; Teh Tarik dan biskuit mengingatkan bahwa cinta selalu penuh ketidakpastian; dan potongan-potongan yang tidak merata itu membisikkan bahwa makna hidup tidak pernah stabil. Saya tidak butuh kuliah filsafat penuh catatan kaki, cukup duduk di ujung kamar sambil menatap Andi menjerang air dan mengaduk teh tarik.
Tapi, Roti Bakar dan teh tarik bukan hanya guru, ia juga teman. Saat hati saya dipukul realita, saat kepala saya macet, saat cinta saya dihancurkan isi kantong yang terus memburuk, Roti Bakar dan Teh tarik hadir seperti sahabat yang tidak pernah menolak telepon tengah malam. Ia tidak pernah bertanya “kenapa kamu gagal lagi?” atau “kapan kamu sugih?” Ia hanya hadir, dengan bau manis yang harum menusuk, dengan minyak mentega murah yang merembes ke jari-jari, dengan rasa kenyang yang lebih jujur daripada janji politisi yang mulutnya berbusa-busa di layar kaca. Saya pernah membaca Mary Oliver menulis tentang bagaimana alam mengajarkan kesederhanaan. Tapi kotak kubus ini bukan hutan pinus atau danau biru; Tempat ini menjadi miniatur peradaban. Semakin rendah akhlak orang-orang disini maka semakin rendah peradaban yang sedang diciptakan. Saya menemukannya di dalam Teh tarik dan roti bakar. Api, minyak, adonan, telur, gula—itulah unsur-unsur kosmos saya. Di situ saya bisa merasakan keajaiban kecil: bagaimana adonan tersebut bisa berubah jadi makanan yang membungkus luka, bagaimana tumpukan kacang dan meses bisa menutupi kesepian.
Namun saya juga harus jujur: setiap gigitan roti bakar selalu menyisakan luka. Bukan hanya luka hati karena teringat peristiwa tragedi kehidupan, tapi juga luka perut karena darah tinggi dan vertigo yang menyergap. Setiap kali saya menyuap potongan manis itu, saya tahu bahwa saya sedang menumpuk risiko. Tapi bukankah hidup memang begitu? Kita tahu cinta bisa menghancurkan, tapi kita tetap jatuh cinta. Kita tahu gorengan bisa mematikan, tapi kita tetap mengunyahnya. Dan kita tahu roti bakar dan teh tarik bisa bikin perut kembung, tapi kita tetap memotongnya kecil-kecil seolah sedang berbagi, padahal ingin melahap semuanya sendiri. Ada ironi yang indah di sana. Roti bakar adalah penghibur patah hati, tapi sekaligus penyebab patah lambung. Roti bakar adalah teman yang setia, tapi juga penjahat yang menambah lingkar pinggang. Roti bakar adalah doa yang selalu dikabulkan, tapi juga peringatan bahwa setiap doa punya konsekuensi. Saya rasa Tuhan memang punya selera humor: Ia tidak memberikan saya cinta yang bertahan, tapi Ia memberi saya Roti bakar, dan lewat itu saya tetap belajar tertawa.
Pernah suatu malam, setelah tiga potong roti bakar terlalu banyak untuk perut saya, saya termenung. Saya sadar bahwa roti bakar juga seperti doa itu sendiri: selalu ada sisanya. Tidak pernah ada orang yang benar-benar menghabiskan roti bakar deni cirebon sendirian tanpa merasa bersalah. Sama seperti doa: selalu ada yang tersisa, selalu ada yang tidak terkabul, selalu ada yang menggantung di udara. Dan justru di sisa-sisa itulah hidup kita menemukan maknanya. Roti bakar yang tersisa bisa dimakan besok pagi—meski sudah keras dan basi, tetap memberi tenaga. Doa yang tersisa bisa dikabulkan nanti, atau tidak pernah, tapi tetap memberi harapan. Jadi kalau ada orang bertanya siapa guru terbesar saya, saya tidak akan menyebut nama filsuf atau penyair. Saya akan menjawab: tukang roti bakar di pasar. Dialah yang mengajari saya sabar menunggu, ikhlas menerima topping seadanya, dan tertawa saat minyak meledak ke wajah. Dialah yang tanpa sadar membantu saya menulis puisi, hanya dengan suara sendok yang tak-tak-tak di atas loyang.
Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, saya menutup tulisan ini dengan sebuah doa yang sederhana: semoga kelak ada roti bakar syariah rendah kolesterol. Roti bakar yang bisa menjaga cinta dan kadar trigliserida tetap stabil. Roti bakar yang bisa membuat orang jatuh cinta tanpa takut patah hati, dan makan tanpa takut kolesterol. Roti bakar yang bisa hadir sebagai simbol ketulusan. Keras di luar, lembut di dalam, dan selalu dibagi-bagi meski setiap orang ingin lebih banyak untuk dirinya sendiri. Karena ujung-ujungnya saya percaya: sepotong roti bakar selalu menyisakan luka, tapi juga alasan untuk tertawa. Dan kalau hidup harus dijalani dengan luka, biarlah luka itu berminyak, manis, dan bisa dipotong menjadi dua belas bagian kecil. Dan yang paling penting, Roti bakar ini pantas dibawa ke rumah mertua dan menghadirkan senyum yang tulus meski ia tahu, menantunya sedang kalah dalam pertarungan hidupnya. Tabik!
*)Gerilyawan Selatan