Tabayyun dan Ukhuwah Islamiyah yang hilang dari umat islam hari ini

Oleh : Kurnia Fajar*

Kemarin hari jumat tanggal 5 September 2025 kota Bandung dikejutkan dengan berita bunuh diri seorang ibu yang mengajak serta kedua orang anaknya. Sang ibu menulis surat yang isinya kira-kira seperti ini : “Mama, bapak, ibu, teteh, aa, semuanya maafkan saya, maafkan saya melakukan hal ini. Saya sudah lelah lahir batin, saya sudah tidak kuat menjalani hidup seperti ini.
Saya lelah hidup terhimpit utang yang tidak ada habisnya, malah semakin lama semakin bertambah.  Sementara saya sendiri tidak tahu utang ke siapa saja, berapa jumlahnya, atau dari mana asalnya. Saya lelah punya suami yang hanya besar omongan dan penuh kebohongan, tidak ada kesadarannya. Saya lelah terus disakiti, padahal orang lain sudah mengucilkan, banyak yang membicarakan, banyak yang merasa jijik, sementara saya sendiri merasa tidak salah. Punya suami malah semakin banyak bohong dan utang. Saya pikir kalau saya dan anak sudah mati, mungkin dia baru sadar. Kalau pun tidak sadar ya biarlah, yang penting tidak menyengsarakan anak saya. Saya malu dan kasihan terus merepotkan kakak dan orang tua. Kalau saya sudah tidak ada, setidaknya tidak akan terus merepotkan. Maafkan saya karena tidak bisa membalas budi kepada orang tua dan kakak-kakak.”

Peristiwa kedua, tentu semua ingat peristiwa G30S/PKI. Para pelaku, sebagian besar adalah pasukan Tjakrabirawa dihukum penjara dan kemudian divonis mati. Semua pelaku ketika berada di dalam penjara disudutkan dan dihujat serta dianggap atheis. Hal ini digunakan oleh para rohaniawan kristen untuk memperhatikan mereka. Memberi makan, pakaian dan lebih dari itu mereka memberi harapan. Eks Tjakrabirawa ini rata-rata orang madura dan beragama islam yang taat. Berada di kawasan tapal kuda, seorang Tjakra mengatakan bahwa kami ini ngaji kitab kuning sejak kecil. Namun karena tugas sebagai Tjakra dan dianggap PKI, maka mereka dianggap atheis alias tidak bertuhan. Dengan kondisi terpojok seperti itu akhirnya mereka semua masuk menjadi agama Katolik. Serka Surono menjadi Yohannes Surono, Serma Satar menjadi Paulus Satar Suryanto, serda sulaiman menjadi simon petrus soelaiman dan Rohayan menjadi Nobertus Rohayan. Serta ada beberapa nama lain seperti Anastasius Buang, dari 30-an Tjakra yang menculik para Jenderal hanya Gijadi, Bungkus dan Mukidjan yang tetap beragama islam.

Barangkali dari contoh peristiwa di atas tadi sesungguhnya mewakili kondisi masyarakat kita hari ini. Kesulitan, meskipun hanya untuk sekedar bertahan hidup dan menyekolahkan anak. Rantai sosial kita telah patah. Meskipun Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar, namun tampaknya ukhuwah islamiyyah kita ada yang salah. Para ulama tidak lagi membersamai mereka yang kalah, yang kehilangan harapan. Dahulu pada masa Umar bin Khattab ada kisah seorang ibu yang membakar batu. Ibu tersebut menjelaskan bahwa ia memasak batu untuk menghibur anaknya, dan bahkan menyumpahi pemimpin yang membiarkan rakyatnya kelaparan, tanpa mengetahui bahwa Umar adalah pemimpin yang dimaksud. Merasa prihatin dan sedih atas kelalaiannya, Umar bin Khattab menangis dan segera pulang untuk mengambil sekarung gandum. Ia kemudian datang kembali ke rumah ibu itu dan memasak gandum untuk mereka, serta membawa mereka ke Baitul Mal untuk mendapat jatah makanan dari negara. Lalu afa kisah seorang ibu memakan bangkai yang wanginya tercium sehingga saudaranya menghampiri dan menginginkannya. Lalu dikatakan bahwa daging ini haram bagi engkau dan halal bagi kami. Setelah selesai mendengarkan penjelasan ibu tersebut. Saudara tadi akhirnya menyerahkan uangnya dan membatalkan untuk berhaji. Inilah ukhuwwah, dimana seorang yang berdaya bisa hadir bagi orang yang tidak berdaya dan tidak memiliki harapan. Hari ini jumlahnya amat banyak dan perlu cara pikir yang tepat untuk memulai kesadaran ini.

Pada tataran global, ukhuwah yang tercerabut terjadi pada genosida umat islam di Palestina. Kita hanya bisa terdiam dan berdoa saja. Maka benar apa yang dikatakan hadits Rasullullah SAW : Akan datang suatu masa di mana bangsa-bangsa akan mengerubungi kalian seperti orang-orang yang makan mengerubungi piring makanannya.” Seseorang bertanya, “Apakah karena jumlah kami yang sedikit saat itu?” Nabi ﷺ menjawab, “Tidak, bahkan jumlah kalian saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih di air bah. Allah akan mencabut rasa takut terhadap kalian dari hati musuh-musuh kalian dan akan melemparkan dalam hati kalian penyakit ‘wahan’.” Seseorang bertanya, “Ya Rasulullah, apa itu ‘wahan’?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud, Hadits No. 4297). Betapa kerasnya kehidupan ketika sumber persaudaraan itu habis dan mata air cinta karena Allah telah mengering. Akibat peradaban materialistik yang membanjiri umat manusia, ikatan-ikatan mulai melemah dan kedekatan hati terputus, dan bahkan terkadang hilang. Betapa berbedanya antara masyarakat yang didominasi oleh kedekatan hati, kasih sayang, persaudaraan dan cinta, dengan masyarakat yang individualis dan egoistis. Tabayyun juga kian pudar nilai dan praktik tabayyun (klarifikasi, pengecekan, dan penelitian informasi) semakin jarang diamalkan dalam masyarakat, yang dapat berujung pada mudahnya penyebaran hoaks, fitnah, kesalahpahaman, dan bahkan konflik. Fenomena ini sangat berbahaya terutama di era digital, di mana informasi menyebar dengan cepat dan perlu adanya sikap kritis untuk menyaring kebenarannya. Semoga dengan fenomena ini, umat Islam makin sadar dan merapatkan barisan. Tabik!

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar