Oleh : Kurnia Fajar*

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa jalur komunikasi menuju Presiden RI ke 8 Prabowo Soebianto semuanya difilter melalui ajudan yang melekat kepada dirinya, dan sekarang menjabat sebagai Sekretaris Kabinet. Yaitu Letnan Kolonel Infanteri Teddy Indra Wijaya. Letkol Teddy adalah abituren Akademi Militer tahun 2011 dan menjadi sedikit perwira yang memiliki prestasi membanggakan salah satunya ia menjadi Perwira lulusan Ranger School US. Army. Kursus Ranger terbuka untuk prajurit AD, AL, AU dan Marinir AS. Selain itu, diikuti pula oleh prajurit terpilih dari negara-negara yang memiliki kerja sama militer dengan AS. Pendidikan ini telah digelar sejak 1950. Kursus ini diadakan di berbagai lokasi. Pelatihan di Fase Benning berlangsung di sekitar Camp Rogers di Fort Benning, Georgia. Pelatihan Fase Gunung dilakukan di Camp Merrill, pegunungan terpencil dekat Dahlonega, Georgia. Sedangkan Fase Florida dilakukan di berbagai lokasi dekat Camp Rudder, Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Florida. Dalam sejarah TNI baru ada empat jenderal yang kini telah purnatugas juga pernah menyandang Tab Ranger Yaitu : Jenderal SBY, Letjen Hotmangaradja Pandjaitan, Letjen Syaiful Rizal, Letjen Nugroho Widyotomo dan terakhir Letkol Teddy. Selain kesempatan yang susah juga kemampuan tempur harus baik dan prima.
Dalam perjalanannya Mayor teddy di bulan maret 2025 dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Kolonel. Kenaikan ini membuat kekisruhan secara administrasi di kalangan perwira menengah Angkatan Darat. Abituren 2007 baru menyelesaikan Seskoad tahun 2023, abituren 2008 tahun 2024. Yang mendapat berkah tentu abituren 2009 selain Sesko-nya menjadi ringkas (5 bulan) kenaikan pangkatnya pun jadi bersamaan dengan Abituren 2007 dan 2008. Sehingga 1 Oktober kemarin 3 angkatan abituren Akmil alumni seskoad naik Letnan Kolonel bersamaan. Sedangkan abituren 2011 saat ini sedang melaksanakan Sesko yang juga ringkas (5 bulan) sehingga 1 April 2026 mendatang sudah bisa naik pangkat menjadi Letnan Kolonel. Dalam kenaikan pangkat bersamaan dan ruang/golongan jabatan yang tersedia pasti membuat pusing para pengambil kebijakan di Mabesad. Siang tadi bocor alus politik juga membahas bagaimana sentralnya peran Letkol Teddy dalam melanjutkan informasi dari seluruh pejabat ke Presiden Prabowo. Bahkan seorang Tokoh Muhammadiyah senior Prof Dien Syamsudin tidak bisa bertemu langsung dengan Prabowo meskipun sudah dibuatkan janji sebelumnya dan sudah menunggu selama 1,5 jam di istana. Yang akhirnya membuat Dien pamit dari istana karena sudah terjadwal buka puasa bersama di tempat lain.
Ada pernyataan menarik dalam bocor alus Tempo tadi yang membuat saya merenung cukup dalam yaitu katanya informasi mengenai driver gojek yang terlindas rantis milik Brimob dan kemudian wafat baru diterima oleh Prabowo keesokan paginya, padahal kejadiannya berlangsung pada malam hari sebelumnya, ada delay sekitar 8-10 jam agar berita tersebut tiba di kepala Presiden. Saya jadi khawatir dengan masa depan bangsa dan pemerintahan Presiden Prabowo, bagaimana tidak? Informasi sepenting itu bisa delay dalam waktu yang cukup panjang. Tahun 2025 ini ekonomi tidak baik-baik saja. Belanja pemerintah menurun karena diterapkan efisiensi, Industri baru tidak tumbuh, dan Industri lama stagnan bahkan banyak yang terpaksa harus tutup, generator ekonomi baru tidak ada. PHK dimana-mana, saya punya kawan yang berprofesi sebagai penjual nasi kuning, lontong kari dan bubur ayam bercerita bahwa dalam 6 bulan terakhir omzet jualan di hari kerja (weekday) menurun drastis bisa mencapai 50-60%. Omzet masih bisa bertahan di akhir pekan. Saya menyimpulkan bahwa hampir semua kelas menengah di perkotaan sudah mengubah kembali pola sarapannya, yang tadinya jajan ke luar sekarang membuat sarapan sendiri.
Apakah Presiden tahu kelesuan ekonomi di masyarakat? Saya gak yakin! Presiden dalam alam pikirnya merasa bahwa semua stimulus ekonomi yang ia rencanakan berjalan baik, padahal? Silakan nilai sendiri suasana ekonomi hari-hari belakangan ini. Saya rasa, harus ada kawan dekatnya Letkol Teddy yang pernah satu sekolah baik di SMA TN maupun di Akmil dulu yang harus memberikan saran dan masukan kepada Letkol Teddy. Biasanya masukan dari kawan semasa muda lebih didengar dibandingkan dengan orang-orang yang sekarang ingin berebut perhatian dalam rangka mencari pengaruh kekuasaan. Saya punya orang tua angkat yang punya kebiasaan mengkonsumsi Kopi pahit dan telur mentah. Telur ayam mentah dikocok, kemudian dikasih lima sendok kopi cair robusta yang sudah ditambahkan asam amino. Hasilnya adalah sebuah protein tinggi, sel hidup masuk ke dalam tubuh untuk menggantikan sel-sel yang mati. Setiap kali saya coba mengkonsumsinya saya selalu gagal, saya dikalahkan oleh rasa amis (hanyir) dari telur ayam mentah dan rasa pahit kopi. Sebuah kombinasi suplemen makanan yang memerlukan keberanian sendiri untuk mampu mengkonsumsinya. Opa Zul begitu saya biasa memanggilnya, selalu meledek saya bahwa saya harus mampu mengalahkan diri saya, mengendalikan pikiran saya sehingga tidak ada barrier lagi bagi saya untuk mengkonsumsi kopi telur tersebut. Pahit dan amisnya harus dengan ikhlas saya terima bahkan harus diubah menjadi semangat.
Nah! Saya kira, dalam konteks lain, Presiden Prabowo harus mulai belajar untuk mengkonsumsi kopi telur, mulai menghilangkan barrier komunikasi. Bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk Republik Indonesia. Saya gak ingin, Negara ini seolah-olah autopilot karena informasi dari para stakeholder dibatasi. Dalam menulis ini, saya pun bersikap cuek aja, karena saya yakin, artikel ini tidak akan pernah sampai ke meja Presiden. Namun, saya masih berdoa dan berharap setiap Pak Prabowo ambil keputusan penting juga ikut mengawalnya. Jangan hanya menjadi retorika kosong di panggung-panggung dengan pidato berapi-api namun nihil action. Saya juga tidak membenci Teddy, bahkan saya sangat bangga dengan Prestasinya. Namun saran saya besok-besok jangan hadirkan madu di hadapan Presiden namun hadirkan kopi telor mentah tadi. Komando! Tabik!
*)Senopati, Perhimpunan Gerilyawan Nusantara