Oleh : Kurnia Fajar*

Hmmm… Barangkali benar, manusia sudah berada pada level yang jauh lebih buruk dari makna keburukan itu sendiri. Atau jangan-jangan, kita sudah tak mengerti batas antara kebaikan dan keburukan lantas melakukan apa saja hal-hal yang “melampaui batas”. Jauh sebelum hari ini, kita begitu kaget mendengar kabar seorang ayah yang membunuh anaknya sendiri. Tapi hari ini, kabar itu menjadi teman makan siang kita. Jauh sebelum hari ini, kita begitu bergidik melihat perselingkuhan seorang anak gadis dengan ayahnya sendiri, seorang ibu dengan anak lelakinya sendiri. Kini, semua itu biasa saja kita dengar. Oh, ada apa dengan kemanusiaan kita? Jauh sebelum hari ini, penguasa lalim, hakim yang berkhianat, pejabat yang bangsat, politisi yang penipu, hanyalah bagian dari cerita dongeng yang membuat kita membenci mereka setengah mati. Kini, setiap hari kita bersitatap dengan mereka. Berbincang dengan mereka. Dan merasa biasa-biasa saja. Oh, ada apa dengan kemanusiaan kita? Kita sedang menuju kemana? Hidup seperti lari sprint dikejar kewajiban setiap waktu. Kita menua. Beberapa hal tak lagi sama. Kita pemburu hujan, keluar rumah bila hujan, guling-gulingan di aspal jalanan. Lalu mojok sendirian kedinginan, sambil diam-diam kencing di celana. Celana pendek, tanpa sendal, bertelanjang dada, lalu kita mencari genangan, berseluncur di atasnya. Sambil diam-diam berdoa Emak tidur dengan lelap. Sebab sebentar nanti dia bangun, kita dibawakan sapu lidi. Kita bahagia. Kita tidak marah dengan kenakalan-kenakalan semacam itu.
Hari ini kita ribut di sosial media mempersoalkan apakah pak Harto layak jadi pahlawan? Saya gak mengerti apakah Pak Harto layak atau tidak layak mendapat gelar pahlawan. Yang saya mengerti, terima kasih Pak Harto atas SD Inpres, Kelompencapir dan Posyandu itu. Tanpa itu, kami selesai. Setiap ayah adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Bagaimanapun caranya, seorang ayah akan berusaha asal kebutuhan anak-anak terpenuhi. Pada satu titik kepahlawanan menjadi relatif. Siapa pemilik pahlawan nasional? Keluarganya, atau seluruh bangsa Indonesia? Pangeran Diponegoro adalah pahlawan bagi kita dan pemberontak yang merugikan kas negara bagi Belanda. Saya rasa, malanglah sebuah negeri yang tak punya pahlawan. Dan malang jugalah sebuah negeri yang masih membutuhkan pahlawan.
Ada tujuan yang berkilau seperti emas, tetapi tak memiliki jiwa. Ada cita-cita yang tampak megah, tetapi di dalamnya kosong dan hambar, seperti istana yang dibangun di atas pasir. Di zaman yang berisik oleh ambisi ini, manusia sering berlari mengejar hasil, tanpa pernah bertanya dari mana arah angin moral berhembus. Maka lahirlah generasi yang pandai menghitung untung, tetapi gagap memahami kehormatan. Sebab tujuan tanpa idealisme—tanpa kejujuran hati, tanpa kompas nilai, tanpa keberanian menolak yang bengkok—tak lain hanyalah hasrat personal yang dibungkus kata indah. Ia tak lebih dari nafsu yang berdandan rapi. Dan kepada tujuan semacam itu, sejarah tidak akan menundukkan kepala. Ia akan melewatinya seperti debu yang terbang sesaat di udara—tanpa makna, tanpa bekas. Idealisme adalah sesuatu yang tidak dijual di pasar. Ia tidak tumbuh di kepala manusia yang pandai, tetapi mekar di dada manusia yang berani. Idealisme tidak hidup dari kata-kata, melainkan dari keberanian menolak untuk menyerah, sekalipun keadaan menghimpit dan dunia mengejek. Ia bukan slogan, bukan pidato, bukan poster di dinding perjuangan—ia adalah nyala kecil yang dijaga agar tidak padam, bahkan ketika angin badai memporak-porandakan harapan.
Mereka yang memperjuangkan idealisme tak selalu menang di panggung dunia. Banyak dari mereka justru kalah secara kasat mata. Mereka terluka, diremehkan, bahkan dihukum zaman. Tetapi nama-nama mereka menyeberangi waktu. Karena yang dikenang bukanlah mereka yang menang dengan kelicikan, melainkan mereka yang tumbang dengan kehormatan. Sebab kekalahan yang jujur lebih mulia daripada kemenangan yang dilumuri tipu daya. Dalam hidup, kita sering dipanggil untuk memilih: Hidup cepat dengan kompromi, atau berjalan pelan dengan martabat.Mengejar ambisi pribadi, atau membawa cahaya bagi banyak jiwa. Membangun diri di atas keserakahan, atau membangun peradaban dari keikhlasan. Itulah ujian setiap insan—bukan tentang berapa tinggi ia naik, tapi apa yang ia perjuangkan selama pendakiannya. Ada orang yang mencapai puncak tetapi kehilangan dirinya. Ada pula yang tetap di lereng, namun menemukan makna untuk apa ia hidup. Dan sungguh, lebih baik hidup sederhana dengan tujuan yang suci, daripada bergelimang kemewahan tanpa arah. Saya kira, itulah makna kepahlawanan. Mampu menyesap makna untuk dirinya dan juga bagi orang lain, seperti pesan Rasullullah SAW Khoirunnas anfauhum linnas” Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Tabik!
*)Senopati, Perhimpunan Gerilyawan Nusantara