Menyebut Tanpa Percaya
Maaf, Tuhan.
Aku pernah tak percaya,
dan mungkin masih.
Tapi anehnya,
saat gelap mencium ubun-ubun,
yang pertama kusebut
tetap Kau.
Bukan karena yakin,
tapi karena di dalam ragu
ada nama yang tak pernah bisa
sepenuhnya kutinggalkan.
Mungkin itu bukan iman,
tapi semacam luka
yang terlalu dalam
hingga tak tahu
siapa yang paling layak
untuk disalahkan.