True Love based on Compromised, Respect, and Trustworthy

Oleh : Kurnia Fajar*

Save me, save me, save me
I can’t face this life alone
Save me, save me, save me
I’m naked and I’m far from home

Refrain lagu Queen berjudul save me yang rilis di bulan Januari tahun 1980 persis kelahiran saya, melengking keras, menemani saya makan siang. Lagu yang membuat saya menjadi merenung, Kita hidup di zaman ketika cinta pun tak bisa lepas dari neraca. “In this economy” ujar para pengguna media sosial dengan nada getir, menyiratkan bahwa setiap keputusan, termasuk urusan hati dan pernikahan, harus melewati kalkulator. Cinta mungkin masih buta, tapi ia tak lagi tuli terhadap biaya resepsi, cicilan KPR, dan ongkos hidup. Lihat saja data dari Badan Pusat Statistik (BPS). Jumlah pernikahan di Indonesia terus menurun dalam lima tahun terakhir. Pada 2018 tercatat dua juta pasangan menikah, namun pada 2022 angka itu menyusut menjadi 1,7 juta (BPS, 2023). Angka ini bukan semata soal tren, tapi cermin dari kegelisahan ekonomi: gaji yang stagnan, harga kebutuhan pokok yang melambung, dan pekerjaan yang tak lagi menjanjikan masa depan. Cinta kini bersaing dengan inflasi. Bahkan untuk mencintai pun, kita harus punya dana darurat. Mereka yang belum menikah sering berkata: “Kami bukan takut berkomitmen, kami takut tidak mampu.” Sebuah survei dari Populix (2023) mengungkap 62% responden usia 25–35 tahun menyebut alasan utama menunda pernikahan adalah persoalan ekonomi. Biaya hidup harian, pengeluaran pesta pernikahan, hingga ketidakmampuan membeli rumah menjadi alasan utama. Bahkan, satu pasangan di Jakarta menyatakan bahwa mereka menabung selama tujuh tahun hanya untuk menggelar resepsi sederhana di gedung kelurahan.

Dan ini bukan gejala lokal. Di Amerika Serikat, Pew Research menunjukkan lebih dari 50% orang dewasa di bawah 30 tahun memilih hidup tanpa menikah karena tekanan ekonomi. “Marriage has become a luxury good,” tulis The Atlantic. Di Jepang, angka pernikahan menurun drastis. Pada tahun 2021, hanya 501.000 pasangan yang menikah, angka terendah sejak Perang Dunia II (Japan Times, 2022). Sebuah angka yang tidak hanya dijelaskan secara demografis, tetapi juga berdampak pada strategi sektor-sektor. Daya saing Jepang, terutama dalam industri teknologi dan elektronik di dunia, perlahan meredup. Nama-nama besar seperti Toshiba, Sharp, hingga Panasonic tak lagi mendominasi seperti era 1980–1990-an. Bukan karena mereka tidak lagi mempunyai teknologi. Tetapi karena ide ekosistem mulai sepi. Generasi mudanya berkurang, enggan menikah, enggan beranak, dan lambat laun, enggan pula mencipta sesuatu yang baru. Pusat-pusat inovasi mulai kosong. Yang tersisa adalah generasi tua, yang justru mempertahankan gagasan lama, model lama, dan cara berpikir lama. Sementara dunia sudah bergerak cepat, lebih adaptif, lebih digital, dan lebih terhubung lintas generasi. Jepang, yang dahulu memimpin dalam teknologi konsumen, kini tertinggal oleh Korea Selatan dan Tiongkok yang penuh dengan pemuda-pemudi haus perubahan.

Sosiolog Norihiro Kato pernah menyebut Jepang sebagai “bangsa nostalgia”. Bangsa yang tidak hanya menua, tapi juga lebih sering menengok ke belakang daripada menatap ke depan. Dan itu dimulai dari krisis demografi, dari kesepian yang mengakar, dari pernikahan yang tertunda, atau bahkan dilupakan. Di titik ini, kita mungkin bisa bertanya ulang: benarkah pernikahan adalah urusan privat belaka? Fenomena ini menciptakan ironi: negara membutuhkan generasi muda menikah dan beranak-pinak demi bonus demografi. Tapi kebijakan ekonomi justru membebani generasi itu dengan utang pendidikan, kredit konsumtif, dan harga rumah yang menembus langit. Mereka yang sudah menikah pun tak luput dari kegetiran. Bagi pasangan menikah di era ini, realitas finansial kerap kali menggerus romansa. Studi LIPI pada 2022 mencatat bahwa 34% konflik rumah tangga berakar pada masalah ekonomi. Cinta diuji tagihan, diuji ekspektasi gaya hidup, diuji oleh kemampuan untuk bertahan dalam harga sembako yang naik turun seperti harga saham. Menikah hari ini bukan hanya perihal cinta dan restu. Ia adalah keputusan finansial. Ia adalah strategi bertahan. Tapi apakah itu berarti kita harus menyerah? Barangkali, jawabannya bukan pada mengurungkan niat menikah, melainkan pada cara pandang.

Pernikahan bukan lagi soal pesta besar atau rumah minimalis tipe 45. Ia bisa dimulai dari ruang kontrakan mungil, dari dua piring dan sepasang cangkir teh. Karena yang penting bukan mewahnya resepsi, melainkan cukupnya pengertian. Karena cinta yang paling kokoh mungkin lahir justru dari kekurangan, bukan kelimpahan. Dari perjuangan bersama, bukan kemewahan yang datang serta merta. Dan untuk mereka yang masih ragu menikah: kalkulasi, boleh-boleh saja. Tapi jangan lupa, hidup bukan hanya soal angka. Kadang, keputusan terbaik lahir bukan dari nalar, tapi dari keberanian. Bukan dari saldo rekening, tapi dari keyakinan dua orang untuk tumbuh bersama, meski dunia seolah menertawakan mimpi itu. In this economy, cinta diuji. Tapi barangkali, di sanalah ia justru menemukan nilainya. Bahwa banyak orang bisa merasakan hal ini, ingin diselamatkan dan merasa hidup sendiri. Kita bisa mencintai seseorang sampai rela mengubah diri kita dan menjadi orang lain. Jadi, yang paling penting dari semua itu adalah Kompromi, penghormatan dan rasa percaya. Karena menikah adalah Cinta yang sudah berubah bentuk. Selamat berakhir pekan. Tabik!

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar