Tahun Baru, saatnya pulang menuju Kesadaran

Oleh : Kurnia Fajar*

Lihatkah kau bagaimana burung-burung
memuji kebesaran Tuhan. Langit terpesona semak-semak, rerumputan menyerahkan diri, bagi keagungan semesta?

Aku sudah lelah bicara
tapi tak juga semesta mengerti
berdiri di bawah kakiku aku menatap sepi
Hanya mimpi berkali-kali berjatuhan dari cabang-cabang pohon
Memenuhi tidurku, menutup jalan-jalan, dan mungkin kelak menimbun kuburku

Lalu bagaimana aku harus bicara?
ajarilah aku bicara!
angin hanya tahu ranting, uap air
kedinginan cuaca yang membeku di lereng

Duhai, mengapa aku tahu dan mengerti
sedang dari daun-daun gugur musim mengubur kesepiannya sendiri

Seharusnya aku diam!
ya, seharusnya aku diam…

Fajar ini pandangan saya tentang hidup semakin berubah. Saya sengaja salat subuh di Masjid Raudhah Banjar Kalimantan Selatan, bersebelahan makam Guru Sekumpul, Martapura. Datang sebelum adzan, saya masih sempat tahajud dan witir terlebih dulu. Sekitar jam 5.10 waktu setempat adzan subuh. Lagu rost, tempo andante yang menyayat. Selesai adzan saya mulai merasakan perbedaan dengan masjid-masjid di Jakarta. Entahlah, saya merasa kehidupan Jakarta begitu tergesa-gesa. Berlomba mengejar fatamorgana dunia. Jarak menuju iqamah begitu singkat. Di Raudhah setelah adzan jamaah khusyuk berdzikir dan doa. Santai sekali. Padahal tempat sudah penuh. Saya sempat dengan tenang membaca ‘subhanallah wabihamdihi subhanalahil adzim astaghfirullah’ (100x) + Al Fatihah (41x) masih lanjut mengikuti doa dari Guru Raudhah. Sekitar 40 menit baru iqamah. Ini mirip masjid Nabawi, Madinah yang memepetkan subuh ke waktu syuruq. Saya lihat wajah para jamaah. Tak ada yang tergesa untuk memburu pagi. Khatib membaca surah Asy Syams di rakaat pertama, dan Ad Duha di rakaat kedua. Di sini dengan doa Qunut. Ada yang juga membuat berbeda. Setelah salam, semua jamaah tetap di tempat dengan duduk tawaruk. Duduk tasyahud akhir. Ini duduk yang dianggap paling sopan, membuat senang para malaikat. Posisi kaki jamaah baru berubah bersila setelah dzikir awal usai. Dzikir bakda subuh ditutup dengan Yasin, dan doa. Saya lirik jam 6.05 baru usai. Sebagian jamaah pulang, dan masih banyak yang bertahan di Raudhah itu. Saya perhatikan wajah para jamaah. Tenang. Tak kelaparan. Dan tak ada rasa was-was dikejar-kejar aparat hukum. Saya kembali ke penginapan sederhana dekat masjid. Dan kesimpulan saya tentang hidup semakin berubah.

Sebentar lagi, hari akan berubah angka tahun. Bumi semakin rusak, manusia semakin serakah. Saya teringat trilogi Film mitologi yang dibuat Hollywood “Lord of the Rings”. Film yang menurut saya perlawanan hakiki dalam hidup adalah tentang melawan hawa nafsu di dalam diri. Bagaimana cara melawannya? Tentu dengan terus mengembangkan kesadaran. Dalam bahasa Jawa sering disebut Eling lan waspodo. Itulah tantangan terbesar manusia melawan dirinya di tengah arus budaya post truth dan postmodern yang materialistis. Manusia cenderung mencintai dan dicintai secara berlebihan—hingga ia kehilangan ruang untuk mencintai dirinya sendiri. Dalam kacamata heterotopia ala Foucault, dunia memang lama diposisikan sebagai “ruang lain”, tempat orang menyimpan memori tentang kebaikan dirinya. Dunia bagi sebagian orang adalah tempat nostalgia bukan lagi mengecap pengalaman, menjadi komoditas yang harus ditelan cepat. Manusia berubah menjadi turis di dunia ini yang memperlakukan bumi layaknya tempat wisata yang hanya berharap fun and leisure. Padahal sesungguhnya manusia itu sedang menziarahi bumi, membaca tanda kebesaran Tuhan. Manusia cenderung menolak kesedihan dan kesengsaraan, padahal sejatinya Ziarah adalah perjuangan dan perjalanan mengarungi kesulitan-kesulitan kehidupan.

Ketika Dunia berubah menjadi lorong simulakra konsumsi, yang rusak bukan hanya estetika ruang, tetapi juga ekologi relasi. Air tanah yang menyusut, sampah yang menggunung, hingga ruang publik yang terampas adalah gejala klasik yang menolak refleksi diri. Saatnya manusia untuk melakukan koreksi struktural. Bukan memperluas beton tetapi memperdalam makna. Daya dukung lingkungan yang semakin menurun tidak membuat manusia menjadi merenung. Tetap saja berlaku menjadi homo consumens. Terus menerus mengunyah makanan sepanjang hidupnya. Filosofi jawa Memayu Hayuning Bawana menuntut keberanian untuk berkata “cukup”. Cukup dalam jumlah, cukup dalam ritme, cukup dalam hasrat eksploitasi. Merawat keindahan dunia bukan berarti memamerkannya tanpa batas, tetapi melindunginya dari cinta yang serakah. Bumi yang sehat bukan bumi yang selalu penuh, tetapi bumi yang tahu kapan harus memberi jeda.
Jika bumi terus memosisikan dirinya sebagai “murah, ramah, dan selalu tersedia”, ia akan menjadi korban dari kebaikannya sendiri. Hutan yang seharusnya melindungi manusia kini hilang karena bumi selalu menyatakan tersedia. Manusia menganggap itu adalah karunia Tuhan untuk dihabiskan tanpa pernah ingat bahwa keturunannya masih memerlukan hutan untuk kehidupannya.

Maka, kini saatnya kita semua pulang menuju kesadaran Sebelum bumi Benar-benar Pergi. Bumi tidak butuh lebih banyak pengunjung; ia butuh lebih banyak peziarah.” Saya menambahkan: bumi juga butuh keberanian politik untuk membatasi dirinya sendiri demi tetap menjadi dirinya. Saatnya bumi mengundang manusia pulang. Pulang ke kesadaran bahwa perjalanan sejati bukan tentang berapa banyak tempat yang dikunjungi, tetapi seberapa dalam kita berubah –menjadi lebih baik– setelahnya. Jika bumi terus dikejar tanpa diberi waktu bernapas, kita kelak akan merindukannya. Saya teringat pesan dari puisi WS Rendra  “Kesadaran adalah matahari, Kesabaran adalah bumi, Keberanian menjadi cakrawala, dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”. Kata kesadaran yang diibaratkan sebagai matahari selalu disandingkan dengan kesabaran yang diibaratkan bumi. Memang untuk menjadi sadar kita haruslah pandai bersabar. Selamat menempuh angka tahun yang baru. Selamat menjalani kesadaran baru bahwa sesungguhnya kita adalah Peziarah bukan turis yang hanya menginginkan Leisure and Fun. Tabik!

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar