Pandji Pragiwaksono vs Wapres Gibran, Paradoks Indonesia

Oleh : Kurnia Fajar*

Seperti kisah cinta segitiga antara Rahwana, Rama dan Shinta dalam mitologi Ramayana. Tafsiran umum kisah Ramayana akan menyatakan bahwa kisah cinta sejati antara Rama dan Shinta. Sementara Rahwana adalah tokoh antagonis yang merebut istri Rama secara tidak sah! Namun jika kita telusuri lebih mendalam, maka sesungguhnya yang dilakukan oleh Rahwana adalah sebuah peristiwa cinta yang penuh dengan ketulusan. Berikut saya coba tafsirkan ramayana untuk memberikan gambaran utuh betapa ketulusan Rahwana harus dibayar dengan kehilangan kekuasaan dan bahkan nyawa-nya pun ikut hilang. Berabad-abad kita mengenali mitologi Ramayana melalui kebesaran Sri Rama dan kesucian Sinta, baik yang dituturkan para dalang maupun yang dituliskan para pujangga. Kondisi ini membuat kita tak sempat merenungkan perilaku para tokoh dalam mitologi besar ini. Menyebabkan kita merasa apapun yang terkabar dalam mitologi Ramayana adalah baku, pakem, sakral, dan kebenaran mutlak belaka. Rahwana selalu digambarkan sebagai tokoh yang kuasanya berlebihan, tanpa batas, serakah, pemarah, dan sangat jahat, atau Sri Rama yang selalu digambarkan sebagai tokoh kebenaran yang menjadi korban kebengisan Rahwana.

Penggambaran karakter sedemikian itu, terlalu baik dan terlalu jahat, memposisikan mereka menjadi sekedar dongeng belaka dan terjauhkan dari nilai kemanusiaan. Diperlukan sebuah cerita baru berupa review, refleksi, dan antitesis kepada kondisi beku seperti tertulis di atas. Ketika tafsir baru lahir menggugat konvensi yang tertanam ratusan tahun silam, seperti Ramayana, adalah kesempatan emas untuk terjadinya dialektika dan perang gagasan yang akan memperkuat nilai dan rasa kebanggaan Negara yang berbudaya. Karena itu, jika cintamu melampaui batas pikiran dan kekuasaan, dianggap melanggar tatanan yang sudah jadi bagi sekelompok orang, membuatmu kalah di dalam kemenangan, apa yang mesti ditakutkan? Biarlah terjadi keonaran. Biarlah, meski sejarah akan dicatat oleh para pemenang, seperti Rahwana yang kalah karena cintanya sendiri.” Bagaimana ketika cinta harus berhadapan dengan hegemoni kekuasaan dan politik pencitraan, yang berakhir dengan peperangan, maka kita akan dihadapkan pada kerumitan kesimpulan siapa yang pantas diberi predikat yang benar siapa yang bersalah, dan siapa yang abu-abu. Inilah yang dinamakan Paradoks.

Akhir-akhir ini viral materi stand up comedy yang dibawakan secara cerdas oleh Pandji Pragiwaksono. Salah satu hal yang menjadi perdebatan publik adalah kritiknya terhadap Wapres Gibran yang dilakukan dengan sarkasme dan mimik muka yang terkesan merendahkan dan mencemooh. Memang, sejak mencalonkan dan terpilih menjadi wakil Presiden, telah muncul sebuah opini publik kepada Wapres Gibran sebagai wapres yang tidak tahu apa-apa dan hanya berbekal nama besar ayahnya Presiden Joko Widodo. Namun seperti kisah Rahwana di atas, jangan-jangan ini sebuah paradoks seperti kebenaran dan realita yang tidak selalu sama. Rasa frustasi yang muncul dari masyarakat melalui ketidakmampuan dan ketidakberdayaan mendapatkan akses baik itu akses pendidikan, kesehatan dan pangan. Gibran mewakili generasi milenial yang aksinya sederhana yaitu  blusukan sambil membagikan susu kemasan. Bisa dibayangkan, di tengah-tengah perdebatan tentang kebijakan ekonomi, Fiskal, moneter, reformasi hukum, atau strategi pembangunan infrastruktur, apa yang kalian dapatkan? Yak betul, Gibran yang berjalan-jalan di pasar, tersenyum ramah, dan membagikan susu. Aksi yang tampak bodoh bagi sebagian orang cerdas namun berarti bagi sebagian besar masyarakat yang memang sudah kehilangan harapan.

Aksi blusukan ini, menyenangkan dan humanis, menjadi penanda dari kemampuan untuk memahami hal.paling simple bagi masyarakat kecil yaitu bahwa harapan masih ada. Bukankah sebagian manusia tetap hidup karena memelihara harapan? Benar bahwa aksi ini tidak akan menyelesaikan problema pendidikan, kesehatan, ataupun korupsi yang merajalela. Ini hanya sebuah gestur, sebuah tindakan yang dimaksudkan menyenangkan hati untuk menciptakan momen, Gibran adalah sebuah kontra narasi dari definisi kepemimpinan sebagian lagi berfikir bahwa Gibran sedang cosplay jadi pemimpin. Tidak ada lagi Wakil Presiden yang bicara tentang visi, kebijaksanaan, dan kemampuan untuk membawa perubahan nyata seperti Wapres sebelum-sebelumnya. Gibran mencoba menyajikan gaya baru Wapres dari Generasi Milenial. Dia menjadi antitesa dari definisi kepemimpinan di buku-buku kuliah. Maka, ketika saya teringat mitologi Ramayana saya menjadi berfikir, jangan-jangan Gibran adalah seorang Rahwana. Gibran adalah paradoks itu. Ini adalah kesempatan seluruh rakyat Indonesia untuk bercermin ketika mengatakan Gibran bodoh, planga-plongo, dan kekanak-kanakan jangan-jangan justru hal itulah yang ada di dalam diri kita. Seperti kata pepatah, satu jari menunjuk keluar sedangkan tiga jari lainnya mengarah ke diri sendiri. Selamat merenung dan berfikir Paradoks. Tabik!

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar