Kisah Cinta Soekarno dan Tan Malaka : Dari luka pribadi ke perjuangan bangsa

(Serial politik Sejarah : Membaca Pertanda Zaman)

Oleh : Kurnia Fajar*

Saya dulu percaya bahwa perjuangan besar lahir dari buku, pidato, dan ide-ide besar. Bahwa para Founding parents bergerak karena teori dan kesadaran politik yang matang sejak awal. Sampai pada satu titik saya menyadari satu hal yang jarang diajarkan secara resmi yaitu banyak perjuangan justru berangkat dari pengalaman yang sangat personal—sunyi, memalukan, dan menyakitkan. Soekarno dan Tan Malaka bukan pengecualian. Di balik pidato kemerdekaan dan teks-teks revolusioner, ada luka yang nyaris tak pernah dibicarakan dalam buku pelajaran: cinta yang ditolak, masa depan yang direnggut struktur sosial, dan kesadaran pahit bahwa dalam sistem yang tidak adil, bahkan perasaan paling manusiawi pun tunduk pada kuasa. Dari sanalah, bagi keduanya, perjuangan tidak lagi bersifat abstrak. Ia menjadi personal. Sejak itu cinta berhenti menjadi urusan privat. Cinta sering kita anggap sebagai wilayah paling netral dalam hidup manusia. Kita jatuh cinta karena rasa, bukan karena politik. Karena perasaan, bukan karena struktur. Namun anggapan ini runtuh ketika cinta hidup di dalam masyarakat kolonial dan feodal. Dalam masyarakat seperti itu, cinta tidak sepenuhnya bebas. Ia dibatasi oleh ras, kelas, status, dan rasa aman.

Siapa yang pantas dicintai dan siapa yang sebaiknya tidak, sering kali sudah ditentukan bahkan sebelum dua orang saling mengenal. Soekarno dan Tan Malaka sama-sama mengalami momen ketika cinta memperlihatkan wajah asli kekuasaan. Di masa mudanya, Soekarno pernah mencintai seorang gadis Belanda. Kisah ini kerap diceritakan sepintas, lalu dilupakan sebagai drama remaja. Padahal, dampaknya jauh lebih dalam.
Penolakan itu bukan semata soal “aku tidak mencintaimu.” Ia adalah penolakan yang berakar pada identitas. Soekarno ditolak bukan karena karakternya, bukan karena kecerdasannya, melainkan karena ia pribumi. Di titik itulah, kolonialisme berhenti menjadi konsep. Ia menjelma menjadi pengalaman konkret yang menghantam harga diri. Soekarno menyadari bahwa sejauh apa pun ia menguasai bahasa, pendidikan, dan cara berpikir Barat, ada tembok tak kasat mata yang tak bisa ia lewati. Ia boleh pintar, tapi tidak pernah setara.
Pengalaman ini tidak serta-merta menjadikannya nasionalis. Namun ia meruntuhkan ilusi: ilusi bahwa kolonialisme bisa dinegosiasikan melalui kecerdasan dan asimilasi. Dari sinilah, perlahan, Soekarno membaca kolonialisme bukan hanya sebagai sistem eksploitasi, tetapi sebagai sistem penghinaan terhadap martabat. Kelak, kesadaran ini menjelma menjadi politik martabat. Bahwa kemerdekaan bukan sekadar soal pemerintahan sendiri, melainkan soal berdiri sejajar. Bahwa bangsa ini tidak boleh terus hidup dalam posisi meminta diakui.

Jika pengalaman Soekarno menunjuk keluar—ke kolonialisme—pengalaman Tan Malaka justru menunjuk ke dalam: ke feodalisme. Tan Malaka mencintai Syarifah, seorang perempuan terdidik dari lingkungan elite. Namun cinta itu tidak berakhir dengan pernikahan. Syarifah memilih menikah dengan bangsawan dan pejabat priyayi Priangan RAA Wiranatakusumah V. Bahkan setelah bercerai dari suaminya di tahun 1924, ia tidak kembali pada Tan Malaka. Kisah ini sering dibaca secara sentimental. Tan Malaka ditinggalkan. Tetapi pembacaan seperti itu terlalu dangkal. Yang sesungguhnya terjadi adalah benturan dua cara hidup. Di satu sisi, Tan Malaka: revolusioner tanpa jabatan, tanpa rumah tetap, tanpa jaminan keselamatan. Di sisi lain, dunia priyayi-feodal yang menawarkan stabilitas, status, dan perlindungan. Pilihan Syarifah bukan semata pilihan cinta. Ia adalah pilihan struktur. Tan Malaka memahami itu. Ia tidak mengubahnya menjadi dendam personal. Ia tidak menyerang individu. Ia membaca pola. Feodalisme, dalam pengalaman ini, tampil sebagai sistem yang menyediakan rasa aman—dan rasa aman sering kali lebih kuat daripada idealisme.

Di titik ini, feodalisme berhenti menjadi konsep dalam buku. Ia hadir sebagai kekuatan konkret yang menentukan masa depan seseorang, bahkan dalam urusan paling intim seperti pernikahan. Luka personal bukan sebab, tetapi pemicu Penting untuk berhenti sejenak di sini. Soekarno tidak berjuang karena cintanya ditolak. Tan Malaka tidak melawan feodalisme karena ditinggal menikah. Namun luka-luka itu berfungsi sebagai pemicu kesadaran. Ia membuat ketidakadilan terasa dekat, nyata, dan tidak lagi bisa dipandang sebagai teori. Pengalaman itu adalah titik di mana ideologi bertemu tubuh dan perasaan. Di sanalah kemarahan menemukan fokus, dan perjuangan menemukan musuh utamanya. Menariknya, kedua tokoh ini mengalami luka yang sama-sama menyentuh martabat, tetapi membaca sumber lukanya secara berbeda.
Soekarno melihat penghinaan itu datang dari luar: dari sistem kolonial yang menempatkan bangsa Indonesia sebagai kelas dua. Maka musuh utamanya adalah kolonialisme. Strateginya adalah mobilisasi massa, simbol nasional, dan persatuan. Tan Malaka melihat luka itu direproduksi dari dalam: oleh feodalisme dan elite pribumi yang menjaga hierarki lama. Maka musuh utamanya bukan hanya penjajah, tetapi juga struktur sosial yang membuat rakyat tetap tunduk. Strateginya adalah Gerilya kesadaran, tanpa kompromi.

Perbedaan ini penting, karena ia menjelaskan banyak hal tentang Indonesia hari ini. Mengapa feodalisme bertahan setelah kemerdekaan? Indonesia berhasil mengusir kolonialisme secara politik. Namun feodalisme—dalam bentuk mentalitas, birokrasi, dan relasi kuasa—tetap hidup. Mungkin karena bangsa ini lebih banyak mewarisi jalan Soekarno, dan meninggalkan jalan Tan Malaka. Kita membangun negara merdeka, tetapi tidak sepenuhnya membongkar struktur lama. Kita mengganti penguasa, tetapi sering kali mempertahankan hierarki. Republik lahir, namun feodalisme hanya berganti pakaian. Dalam konteks ini, Soekarno dan Tan Malaka bukan tokoh yang saling meniadakan. Mereka adalah dua sisi pembebasan yang seharusnya utuh. Ada satu aspek lain yang jarang dibicarakan: kesepian. Perjuangan selalu menuntut pengorbanan. Namun tingkat pengorbanan itu berbeda. Soekarno masih bisa mencintai dan dicintai dalam orbit kekuasaan. Tan Malaka memilih jalan yang membuat cinta hampir mustahil bertahan. Kesepian Tan Malaka bukan tragedi personal semata. Ia adalah harga dari konsistensi radikal. Ia memahami bahwa perjuangan tanpa kompromi sering kali tidak kompatibel dengan rasa aman—dan cinta, sering kali, membutuhkan rasa aman.

Membaca sejarah melalui kisah cinta bukan berarti meromantisasi perjuangan. Justru sebaliknya: ia membuat sejarah lebih jujur dan manusiawi. Ia mengingatkan kita bahwa ide-ide besar tidak lahir di ruang steril. Ia lahir dari pengalaman hidup—dari luka, dari penolakan, dan dari kesadaran bahwa sesuatu yang tidak adil tidak boleh dibiarkan. Dalam kisah Soekarno dan Tan Malaka, kita melihat bahwa perjuangan bangsa ini bukan hanya soal strategi dan ideologi, tetapi juga soal martabat. Dan sering kali, martabat itu pertama kali terasa ketika seseorang disadarkan bahwa dirinya—atau bangsanya—dianggap tidak layak. Dari sanalah, perlawanan dimulai. Tabik!

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar