Oleh : Kurnia Fajar*

Ramadan biasanya tidak pernah gagal memberi saya jawaban. Ia selalu cukup untuk mengobati dahaga atas pertanyaan-pertanyaan hidup. Ada masa selepas kanak-kanak ketika saya hampir tak pernah berbuka di rumah. Selalu di luar—sendiri atau bersama kawan-kawan. Saya menyambangi berbagai sudut wilayah, menyerap energi dan vibrasinya. Setiap tempat memiliki festival Ramadan-nya sendiri. Dan saya menikmati semuanya.
Hingga suatu waktu saya tiba pada satu kesadaran: saya lelah. Kebisingan dunia perlahan mengalahkan jiwa. Pada akhirnya, manusia mencari kedamaian.
Tempat berbuka terbaik ternyata di rumah. Shalat berjamaah terbaik adalah di masjid terdekat dari rumah.
Lalu apa itu rumah?
Rumah bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah tempat kembali. Tempat orang-orang yang mencintai dan dicintai olehmu berada. Bahkan lebih dari itu, rumah adalah keadaan batin: di mana pun jiwamu hidup dan merasa tenang, di situlah rumah.
Di luar sana, situasi ekonomi sedang berat. PHK terjadi di mana-mana. Ketidakberdayaan sosial terasa nyata. Dalam keadaan seperti ini, saya sering bertanya: apa yang harus saya lakukan?
Rasulullah mengajarkan bahwa hidup adalah hijrah—dan hijrah selalu berarti perjalanan. Entah perjalanan fisik, entah perjalanan batin.
Kadang saya merasa seperti ronin: berjalan sendiri, klandestin, tanpa tuan. Tapi siapa lawan terberatnya? Diri sendiri. Takut, cemas, gelisah.
Restorasi Meiji menggusur para ronin, tetapi dalam kenyataan modern, yang menggusur kita bukanlah kekuasaan politik—melainkan tagihan perbankan, pinjol, dan leasing. Ketika debt collector berdiri di depan pintu, filsafat bisa terasa tak berdaya. Semuanya mendadak menjadi soal survival.
Namun Ramadan menggeser perspektif itu. Puasa pertama-tama adalah soal niat. Laku yang hening. Upaya makrifat.
Pada level paling sederhana, puasa adalah menunggu waktu berbuka—mengenyangkan perut, selesai. Pada level berikutnya, puasa adalah latihan memenangkan pertarungan batin—mengendalikan diri, menahan amarah, meredam ego. Dan di atas itu semua, ada jalan sunyi yang tak selalu bisa dijelaskan secara tekstual.
Filsafat Jawa menyebutnya: sugih tanpa banda. Kaya tanpa harta. Pertanyaan awam segera muncul: kalau begitu, bayar pajaknya bagaimana? Di level awal, pertanyaan itu wajar. Tetapi ketika pemahaman bertumbuh, makna tidak lagi dibaca secara literal. Orang yang matang ilmunya bisa surut ke belakang tanpa kehilangan apa-apa. Ia hadir bahkan dalam ketidakhadirannya. Pernah ada masa ketika kita merasa ia tidak ada, lalu belakangan kita sadar: ia sedang bekerja dalam diam. Pendiam yang pekerja. Itulah kedalaman.
Saya ingin sampai ke titik itu, meski saya sadar ilmu saya masih dangkal.
Ramadan mengajarkan satu perkara yang tak pernah selesai dipelajari: sabar. Di dalam sabar ada gelisah, ada cemas, ada keinginan agar semuanya segera usai. Justru di situlah latihan dimulai. Bagaimana berdamai dengan batas-batas diri, sambil tetap khusyuk menghamba kepada-Nya.
Maka, ketika saya mencerna situasi makro di luar dan situasi mikro dalam diri—sebagai seorang pengembara—rasanya pilihan terbaik adalah menapaki jalan sunyi Ramadan.
Seiring bertambahnya usia, kita semakin mengerti: Tuhan lebih mudah ditemukan dalam keheningan.
Selamat menunaikan Ibadah puasa Ramadan saudaraku[].
*)Hamba Allah, the rest is irrelevant