(Pengajian Ramadan, Episode 1)
Oleh : Kurnia Fajar*

Pernahkah kawan-kawan mendengar kata “Pongah”. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pongah adalah sebuah kata sifat yang menggambarkan perilaku atau karakter seseorang yang tidak menyenangkan karena merasa lebih hebat dari orang lain. Bisa dikatakan juga sombong, angkuh, songong. Dalam penggunaan bahasa sehari-hari, “pongah” sering kali terasa lebih intens daripada sekadar “sombong”. Sombong: Biasanya merujuk pada perasaan bangga yang berlebihan terhadap diri sendiri. Pongah: Seringkali melibatkan sikap atau tindakan yang ditunjukkan secara terang-terangan untuk meremehkan orang lain. Orang yang pongah biasanya tidak hanya merasa hebat, tetapi juga ingin orang lain tahu betapa hebatnya dia. Lalu adakah manusia model seperti ini dalam lingkungan anda? Dalam mitologi Mahabharata, Dursasana adalah definisi hidup dari karakter yang sangat pongah. Ia merupakan adik tertua Duryudana dalam keluarga Kurawa, dan hampir seluruh tindakannya didasarkan pada kesombongan serta rasa superioritas yang keliru. Berikut adalah alasan mengapa Dursasana dianggap sebagai tokoh yang pongah, dan bagaimana kepongahan itu membuatnya menjadi “bebal”. Ia memandang rendah Pandawa, terutama saat Pandawa kehilangan harta dan martabat dalam permainan dadu.
Bagi sebagian orang, bisa tertawa lepas itu jadi barang mahal, kalau pun bisa didapat, tak jarang palsu, atau dipaksakan. Cuma seakan-akan. Tapi tidak bagi Dursasana. Ia menertawai semuanya. Termasuk kedukaan orang. Penderitaan, kesakitan-kesakitan, juga kegagalan. Termasuk ketika ia berusaha menelanjangi Drupadi. Tawanya tak henti-henti. Ia merasa hukum dan etika tidak berlaku baginya karena ia sedang berkuasa. Pertanyaannya, apakah mahkluk seperti Dursasana ini pernah menangis? Mitologi Mahabharata menulis setidaknya dua kali Dursasana menangis. Pertama Sewaktu bayi, lalu di kecamuk perang Baratayuda, saat Bima menelikungnya, siap merobek jantungnya. Ada juga pongah atau sombong tapi punya alasan di baliknya. Misalnya terjadi pada Adipati Karna. Karna sering disebut memiliki sifat Ahankara (keakuan/kesombongan), tetapi kepongahannya lahir dari luka batin karena ditolak oleh masyarakat (karena kasta rendahnya). Dalam teks Mahabharata, kepongahan Karna muncul dari rasa tidak amannya (insecurity) karena status sosialnya, yang kemudian ia kompensasi dengan kesombongan akan kemampuannya. momen paling gelap bagi Karna. Saat Pandawa kalah main dadu dan Dropadi diseret ke balairung, Karna bukan hanya diam, tapi malah memanaskan suasana.
Karna mengatakan bahwa seorang wanita yang memiliki lima suami tidak lebih dari seorang pelacur (bandhaki), sehingga tidak masalah jika ia ditelanjangi di depan umum. Ini adalah bentuk kepongahan verbal. Ia merasa di atas angin karena musuh bebuyutannya (Pandawa) sedang jatuh, sehingga ia merasa berhak menginjak-injak kehormatan istri mereka. Kepongahan Karna inilah yang pada akhirnya menjadi salah satu penyebab “kebebalannya” dalam memilih pihak. Ia tahu Duryudana salah, tapi egonya untuk mengalahkan Arjuna membuatnya tetap berada di jalan yang salah. Sebuah kepongahan bisa menjadi titik lemah yang mematikan. Ini dibuktikan oleh Krishna tidak hanya melawan Karna dengan senjata, tapi dengan “memainkan” egonya. Karna sangat pongah akan reputasinya sebagai orang paling dermawan (Dana Wira). Ia bersumpah tidak akan menolak permintaan siapa pun yang meminta sedekah saat ia sedang memuja Dewa. Khrisna mengutus ayah Arjuna untuk menyamar sebagai brahmana dan meminta baju zirah (Kavacha) serta anting-anting (Kundala) yang melekat di kulit Karna. untuk menjaga citra “pemberi terbaik”, Karna memotong kulitnya sendiri dan menyerahkan perlindungan alaminya itu. Tanpa zirah ini, Karna menjadi fana dan bisa dibunuh.
Karna adalah sosok yang tragis. Kepongahannya adalah perisai sekaligus penjara bagi dirinya sendiri. Krishna tahu bahwa selama Karna merasa “paling hebat” dan “paling setia”, ia akan tetap berada di pihak yang salah hingga akhir hayatnya. Jika Dursasana mati karena kepongahan yang jahat, Karna mati karena kepongahan yang kaku. Dalam ajaran Islam, disebutkan dalan hadits “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat biji sawi.” (HR. Muslim no. 275). Kemudian dijelaskan dalam hadits berikutnya “Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR. Muslim no 276). Kemudian dikatakan dalam hadits lain “Tiga golongan manusia yang tidak akan masuk surga…” (salah satunya adalah) “…orang yang sombong.” (HR. Ahmad). ini merupakan peringatan keras terhadap penyakit hati tersebut. Jika demikian sombong dan pongah adalah suatu sifat dan sikap yang akan membawa diri kepada kehancuran. Apapun alasan yang melatar belakangi -nya. Al Quran pun menjelaskannya sebagai berikut “Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18) kemudian dijelaskan betapa lemahnya manusia Dan janganlah engkau berjalan di bumi dengan sombong, karena engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS. Al-Isra’: 37) setidaknya masih ada 4 sampai 5 ayat lagi yang menerangkan tentang kepongahan dan kesombongan. Jika ada pertanyaan, apakah Donald Trump masuk ke dalam kategori ayat di atas? Donald Trump cocok jadi Dursasana atau Karna? Selamat berpuasa [].
*)Gerilyawan Selatan