Bahaya laten Feodalisme

(Pengajian Ramadan, Episode 2)

Oleh : Kurnia Fajar*

Ada yang bilang, Radeya tetaplah bayi yang hanyut itu, dialah Karna putra Dewi Kunti, meski kini telah remaja dan mengenali dirinya sebagai anak Adirata, sang kusir kereta dari Desa Pethapralaya, Hastinapura. Batinnya meradang menyaksikan Pandawa dan Kurawa yang betapa leluasa menjelajah Arena Sokalima, asrama pendidikan para kesatria. Radeya tidak bisa, darahnya bukan biru. Tapi apa salahnya mencoba. Ia mengganggu Arjuna yang memanah sasaran dengan tepat. Tak lama, panah Radeya menyusul dan membelah panah Arjuna itu. Arjuna gusar. Kurawa bersorak. Hari itu, karena menemukan pahlawannya, Kurupati si sulung Kurawa mengangkat derajad Radeya. Desa Pethapralaya naik pangkat dijadikan Kadipaten. Radeya kini seorang kesatria juga. Kini ia berhak menyandang gelar Adipati. Pada akhirnya, di palagan bharata yudha nanti, bila sampai tertumpah, darah biru ataupun merah, akan sama saja anyirnya.

Arimbi tahu ia cuma seorang raseksi, raksasa betina. Mana bisa menaruh hati kepada Bima, lelaki gagah Panenggak Pandawa yang mahsyur gagah perkasa itu. Tapi ini hari yang berbeda. Bima sedang terperangkap kabut racun Jalasutra. Alkisah Bima gagah sedang membuka hutan. Entah karena terlalu tak santai atau apa, ia alpa. Penghuni hutan yang tak kasat mata menganggapnya sebagai penyusup jahat yang merusak pepohonan. Kalau pohon sirna, bagaimana cara memohon. Benar. Arimbi yang sakti dengan mudah membebaskan Bima dari perangkap Jalasutra. Perjumpaan yang tak santai, karena kaget, tidak siap dan sayangnya tidak awas. Bima mengira Arimbi adalah salah satu dari mereka yang menjebaknya. Jadi tak santai itu memang rumit. Wong akhirnya Bima ya jatuh cinta. Terutama setelah ia mendengar sendiri ucapan ibunya, Dewi Kunti kepada Arimbi. Anakku, tak apa kau seorang raseksi, batin jernihmu itulah yang akan terlahir, sebab telah kaurelakan lahir jadi utusan batin. Jleg. Dalam sekejap, Arimbi menjelma menjadi setara manusia. Dua kisah di atas adalah cuplikan dari mitologi besar Mahabharata. Cerita di atas tentang cara mencapai kesetaraan alias persamaan hak. Baik yang dilakukan oleh Adipati Karna maupun yang dilakukan oleh Arimbi.

Sejak mitologi Mahabharata ini ditulis yang diperkirakan abad ke 3 sebelum masehi. Feodalisme sudah eksis dan nyata. Barangkali ia menjadi satu-satunya sistem sosial yang berumur panjang atau abadi. Feodalisme definisinya adalah sistem sosial, politik, dan ekonomi berbasis kepemilikan tanah dan asset yang hierarkis, di mana bangsawan (tuan tanah/pemilik asset) memberikan tanah kepada bawahan (vasal) sebagai imbalan atas layanan diri, militer dan kesetiaan. Sistem ini menempatkan raja/bangsawan di puncak, didukung petani yang mengolah tanah dan wajib menyetor hasil bumi sebagai pajak. Singkatnya ia adalah struktur sosial yang sifatnya hierarkis. Memberikan hak luas kepada struktur di atas dan pembatasan hak kepada struktur di bawah. Sejarah mencatat, beragam ras, rumpun, ideologi menyatakan perang kepada Feodalisme. Terakhir yang berjuang dan menimbulkan revolusi sosial adalah revolusi Prancis di abad 18. Namun tahukah anda yang pertama berjuang melawan Feodalisme secara sistematis dan konstitusional? Maka jawabannya adalah Islam. Ya benar ajaran ISLAM yang dibawa oleh seorang Arab Yatim dan seorang pekerja keras di abad ke 6. Rasullullah Muhammad SAW. Anda boleh saja mengernyitkan dahi dan tidak percaya, namun saya akan elaborasi jawabannya di bawah ini :

Al-Qur’an menegaskan kesetaraan manusia (egalitarianisme) di hadapan Allah, menekankan bahwa kemuliaan seseorang hanya diukur berdasarkan ketakwaan, bukan ras, jenis kelamin, atau status sosial. Ayat-ayat kunci menyoroti persamaan hak, kewajiban, dan potensi amal antara laki-laki dan perempuan, serta persaudaraan universal manusia. 
“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa…”(Q.S. Al-Hujurat 13) Ayat ini menegaskan asal-usul manusia yang sama dan kesetaraan derajat di sisi Allah. “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…”. (Q.S. An-Nahl 97) ayat yang lain juga menegaskan “Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya (Hawa) dari (diri)-nya…” Q.S. An-Nisaa 1)

Dalam khutbah haji wada nabi Muhammad SAW berpesan : Wahai manusia, Tuhanmu adalah Esa dan bapakmu adalah satu. Kalian semua berasal dari Adam, dan Adam diciptakan dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Tidak ada keunggulan orang Arab atas non-Arab, kulit putih atas kulit hitam, kecuali atas dasar ketakwaan”. Kemudian juga nabi melakukan penegasan mengenai kesetaraan kepada perempuan melalui hadits “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik perlakuan kepada istri-istrinya” (HR. At-Tirmidzi). Dan “Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, lalu ia berbuat baik kepada mereka, niscaya mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.” (HR. Al-Bukhari & Muslim). Yang paling konkrit tentu bisa kita lihat dan saksikan dalam piagam madinah konstitusi tertulis pertama yang dirumuskan Rasulullah SAW, mengatur kehidupan masyarakat majemuk di Madinah (Muslim, Yahudi, dan suku lainnya) sebagai satu bangsa (ummah). Isinya mencakup 47 pasal yang menjamin kebebasan beragama, kesetaraan hukum, pertahanan bersama, serta tanggung jawab sosial dan keamanan kota. Demikianlah kajian kedua Ramadan kali ini. Tabik!

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar