Oleh : Kurnia Fajar*

Setiap bulan Ramadan, saya selalu mengingat hal-hal di masa lampau, ternyata ada yang menarik, bahwa hampir setiap Ramadan saya selalu naik Bus, bahkan saya merasa akrab dan memiliki hubungan emosional. Salah satu alasannya mungkin karena saya takut naik pesawat. Saya baru “dipaksa” berani naik pesawat itu setelah menikah, tahun 2008. Alasan kedua mungkin karena ayah mempertemukan saya dengan pengusaha Transportasi bus. Ayah saya lahir di Wonogiri namun besar di Semarang. Banyak sepupu dan keluarga ayah bekerja di perusahaan Bus. Sampai satu waktu saya pernah jumpa dengan pemilik PO besar dari Wonogiri yaitu PO Agra Mas yang merupakan kelanjutan dari PO Giri Mas. Saya juga ketemu dengan H. Danar Rahmanto pemilik PO Bus Timbul Jaya yang juga mantan Bupati Wonogiri. dalam pertemuan bertajuk temu pengusaha dan diaspora asal Wonogiri ini, ada satu kesimpulan menarik, bahwa sebagai orang Wonogiri jika ingin sukses jadi pengusaha hanya ada tiga pilihan yaitu menjadi pengusaha Bus, pengusaha jamu dan menjadi pedagang Bakso dan Mie Ayam. Kesimpulan yang lucu karena tidak berdasar riset ilmiah. Namun ada benarnya.
Masyarakat Wonogiri kelas bawah yang urban ke Jakarta berjejaring dan berjualan Mie ayam Bakso. Yang lainnya berjejaring menjadi pedagang jamu. Dan pengusaha besarnya mendirikan PO Bus. Ini sama seperti stigma yang menimpa Kab.Banjarnegara, yang di cap sebagai eksportir Asisten Rumah Tangga (ART). Ada juga Pak Sumaryoto/Suyatno pemilik PO Bus Gajah Mungkur. Haji Mulyadi dan Haji Sutadi yang juga pernah berkontestasi dalam pemilihan Bupati Wonogiri. Menarik dicermati keterlibatan Owner PO Bus masuk Politik ini, Selain Wonogiri ada satu daerah lain yang isinya juga raksasa dalam industri transportasi ini, yaitu Tasikmalaya, disana berdiri PO Mayasari Bhakti yang sudah merajai jalanan ibukota sejak tahun 1980-an. Kemudian ada PO Primajasa, bus yang paling sering terlihat di jalan tol Cipularang, kemudian PO MGI, lalu ada PO Karunia Bhakti, PO Doa Ibu dan satu nama lain yakni PO Budiman. Hebatnya juga, para owner PO bus ini juga turun di kancah politik, setidaknya saya mencatat dua nama yakni Budi Budiman yang pernah menjadi Walikota Tasik juga pebisnis transportasi dan H. Amir Mahpud Owner PO Primajasa yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPD Gerindra Jawa Barat.
Usut punya usut, baik PO Primajasa, PO MGI, PO Doa Ibu dan PO CBU masih satu keluarga meskipun berbeda manajemen. Dan semuanya adalah anak dari H. Engkud Mahpud sang maestro Mayasari Bhakti. H. Amir Mahpud Primajasa ini bukan kaleng-kaleng. Bus-nya bertebaran di Jabar dan DKI. Setelah tahu saya baru menyadari bahwa saya adalah pelanggan dari PO tersebut. Apalagi Primajasa, selama tujuannya Jakarta, menawarkan perjalanan yang efektif dan efisien. Jika dari Bandung, saya punya opsi, diantar istri atau nge-gocar ke km 125,jika ingin lebih sedikit lama menunggu ya ke pintu tol pasirkoja. Di Km 125 semua bus primajasa dari Timur seperti Garut, Tasik, Cileunyi dan masih banyak lagi karena ragam tujuannya juga banyak, dari mulai Cikarang, Bekasi, Cilitan di kawasan timur, Tanjung Priok di kawasan utara, cempaka putih di kawasan barat. Jika sudah di Km 125 saya tidak pernah pilih, naik saja. Karena toh sama saja, saya bisa melanjutkan perjalanan dengan transportasi publik lainnya. Bisa Gojek, KRL, dan LRT. Namun jika sedang santai, saya naik Primajasa yang tujuan Lebak Bulus. Request turun di depan Poins Square. Karena apartemen saya berada di seberang Poins Square.
Dengan beragam tujuan dan trayek di seantero Jabodetabek, dan kemudahan meng-akses jalur, saya sampai pada kesimpulan bahwa Primajasa sudah menguasai jalur Priangan menuju Jakarta. Sampai saya terkejut tadi siang membaca berita di Radartasik online dengan judul “Pulang Naik Bus Budiman, Bupati Tasikmalaya Seperti Nostalgia!” Ketika saya baca artikelnya muncul pertanyaan, Pak Bupati Cecep nostalgia sama Bus Budiman-nya? Atau Nostalgia sama jalur Trayek-nya. Jika nostalgia sama jalur trayeknya rasanya gak mungkin naik PO Budiman. Namun setelah dibaca mendalam ternyata beliau sedang nostalgia dengan bus Budiman karena bupati Cecep kuliah di Bandung bukan di Depok. Sebagai proletar sejati jika mengalami kondisi seperti yang dialami bupati Cecep, maka saya akan memesan gojek menuju UKI-Cawang, karena di sana tersedia banyak Bus khususnya Primajasa menuju arah Bandung dan Priangan Timur. Dalam berita juga disebutkan bahwa setelah turun dari whoosh Bupati naik Taksi ke Depok, wah itu lumayan bisa habis lebih dari 200 ribu. Biar lebih proletar harusnya Bupati naik LRT ke cawang, kemudian alih moda dengan KRL koridor Bogor-Kota. Di stasiun Depok naik gojek menuju tempat pertemuan dengan pak Gubernur, ini lebih efisien, perkiraan habis uamg sekitar 15rb plus gojek 20rb, tapi pasti lebih cepat.
Jika pak Bupati berangkat dari Tasik jam 14.00 maka sampai stasiun Tegaluar sekitar jam 16.30 kecuali dikawal sama patwal bisa tiba di tegaluar jam 16.00. Jika 16.30 berangkat ke stasiun Halim, maka tiba 17.15-17.30. Jam 16.00-21.00 adalah jam-jam macet padat ke arah Depok, kecuali masuk Tol lintas Margonda yang tarifnya mahal itu. Namun untuk masuk Tol harus berputar dulu masuk Jagorawi, kemudian Tol JORR, baru masuk tol Antasari Depok. Tadinya saya tidak akan menanggapi berita tersebut, namun karena penjelasannya agak “aneh” maka saya sebagai pengguna transportasi Publik perlu menjelaskan. Tidak disebutkan Pak Bupati kehabisan tiket Whoosh jam berapa, namun saya seringkali pulang dari Jakarta dini hari naik bus Ekonomi AC tujuan Priangan Timur, turun di pintu Padalarang atau Cileunyi, dan di Cawang UKI hampir selalu dipastikan yang tersedia adalah Primajasa. Rasanya Pak Bupati memang ingin nostalgia dengan Bus PO Budiman. Saya juga beberapa kali naik bus Budiman khususnya ke Pangandaran dan pernah juga ke Pelabuhan Ratu. Kisah perjalanan saya naik Bus, dilanjukan di Episode ke dua ya, karena sebentar lagi waktu buka telah tiba. Demikian. Tabik!
*)Pengamat Kebijakan dan pengguna Transportasi Publik