Pengajian Ramadan Episode 3
Oleh : Kurnia Fajar*

Hari ini baru saja peristiwa besar terjadi, Israel dan Amerika Serikat resmi menyerang Iran, dalam sekejap Iran juga membalas. Situasi di Timur Tengah saat ini sedang berada dalam fase yang sangat kritis. Eskalasi besar terjadi dalam kurun waktu 24 jam terakhir, di mana konflik “bayangan” antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat kini telah berubah menjadi konfrontasi militer terbuka yang masif. Pada hari Sabtu, 28 Februari 2026, Israel dan Amerika Serikat melancarkan operasi militer gabungan berskala besar ke wilayah Iran yang memicu kepulan asap di berbagai kota besar, termasuk Teheran. Penyebab Langsung adalah Kegagalan total negosiasi nuklir di Jenewa serta tuduhan AS bahwa Iran terus mempercepat pengayaan uranium untuk senjata nuklir. Israel menyebutnya sebagai serangan pre-emptive (pencegahan) untuk menghapus ancaman eksistensial. Target operasi adalah fasilitas militer dan Nuklir di Isfahan, Natanz, dan fasilitas di Fordo. Serangan udara dilaporkan menyasar area di dekat kantor pemimpin tertinggi Ayatollah Khamanei dan Presiden Masoud. Pangkalan laut dan udara di wilayah Hormozgan (Minab).
Keterlibatan AS: Pentagon mengonfirmasi peluncuran “Operation Epic Fury”. Donald Trump (Presiden AS) menyatakan serangan bertujuan melucuti kemampuan nuklir rezim Iran. Hanya beberapa jam setelah serangan pertama, Iran meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke arah Israel serta pangkalan militer AS di Bahrain, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Dilaporkan puluhan siswa tewas akibat rudal yang menghantam sekolah di Minab, Iran. Di sisi lain, serpihan rudal juga menyebabkan korban di beberapa wilayah negara Teluk. Harga minyak dunia melonjak tajam mendekati $120 per barel akibat kekhawatiran penutupan Selat Hormuz (jalur 20% minyak dunia). Sekjen PBB mengutuk eskalasi ini dan menyerukan penghentian permusuhan segera untuk mencegah perang dunia ketiga. Jika dalam kisah pewayangan, ini adalah hari-hari menjelang perang Bharata Yudha. Mahabharata dalam tradisi Jawa mencapai klimaksnya pada perang besar di Kurukshetra. Perang ini bukan sekadar konflik dua keluarga. Ini adalah perang kebenaran melawan keserakahan. Akar Konflik adalah perebutan Takhta Hastina. Kerajaan Hastinapura secara sah milik Pandawa. Namun Duryodhana menolak menyerahkan kekuasaan. Ia dipengaruhi pamannya, Sengkuni. Mungkin kalo jaman sekarang namanya Paman Sam.
Pemicu lainnya adalah peristiwa Dadu, Yudhishthira kalah. Kerajaan hilang. Draupadi dipermalukan. Ini adalah simbol. Bahwa kesewenang-wenangan harus dilawan. Pandawa menjalani:
12 tahun pengasingan dan 1 tahun penyamaran. Mereka menahan dirj, melatih kesabaran. Ini sama seperti Rakyat Palestuna yang diambil tanahnya oleh Israel. Mereka menahan diri. Melatih kesabaran. Upaya Damai terus dilakukan. Krishna diutus menjadi duta damai. Namun hasilnya Nol karena Israel tidak mau pergi dari tanah Palestina. Maksudnya Kurawa tidak mau menyerahkan Hastinapura. Atmosfer Menjelang Bharata Yudha, alam bergolak. Bagaimana Al-Quran dan hadits menasehati kita dalam situasi seperti ini. Pertama, tentu kita lihat kapasitas kita, sejauh mana kita bisa membantu sesuai dengan hadits Rasullullah SAW “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangan (kekuasaan), jika tidak mampu maka dengan lisan, dan jika tidak mampu, dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman”. Hadits lain juga mengingatkan bahwa “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]
Definisi “Melawan dengan Hati” yaitu berarti membenci perbuatan maksiat tersebut, tidak menikmatinya, dan merasa tidak nyaman di lingkungan tersebut. Tindakan Minimal ika tidak mampu berbuat apa-apa secara fisik, minimal hati harus bergerak untuk mendoakan pelaku agar mendapat hidayah. Kondisi Darurat, Ini berlaku ketika seseorang berada dalam situasi yang berbahaya, tidak memiliki kekuasaan, atau tidak memiliki kemampuan untuk menasihati langsung. Meski terlemah, bukan berarti dibenarkan untuk sekadar diam dan rida. Wajib tetap ada kebencian di dalam hati terhadap peristiwa tersebut. Al Qur’an juga sudah memberikan Guidance jika menghadapi situasi peperangan seperti ini, QS. Al-Baqarah: 190 “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu(tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Kemudian AlBaqarah 216 “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah suatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu” Kemudian di QS. Al-Hujurat [49]: 9 “…Jika salah satu dari keduanya berbuat aniaya terhadap (golongan) yang lain, perangilah (golongan) yang berbuat aniaya itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. QS. Ali ‘Imran: 13 “Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir yang melihat dengan mata kepala, bahwa mereka (golongan Muslim) dua kali lipat mereka… Terakhir dalam” QS. Al-Anfal: 39 “Dan perangilah mereka, supaya tidak ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.
Sekarang dengan kemudahan informasi dimana-mana, anda bisa menilai perang Iran versus Israel dan Amerika ini siapa yang sedang membela kebenaran? Siapa Pandawa dan siapa Kurawa dalam hal penjajahan Palestina. Di bulan Ramadan ini saatnya kita bersikap. Tabik!
*)Gerilyawan Selatan