Bambang Ekalaya, Ketika Akhlak dan Adab mendahului Ilmu

(Pengajian Ramadan Episode 4)

Oleh : Kurnia Fajar*

Hampir semua sekolah kini dipagari, padahal seharusnya dibuka selebar-lebarnya. Murid-murid yang tertampik, salah satunya adalah Bambang Ekalaya yang ditolak oleh Resi Durna di Perguruan Sokalima. Karena keteguhan hatinya, dipaksa mencipta gurunya sendiri. Kesunyian yang mengajari bagaimana memilah suara. Ia belajar agar anak panah yang melesat itu makin cepat, berlipat-lipat cepat suara, mengejar kilatan cahaya. Ekalaya berhasil. Ia memanah lebih cepat bahkan dibanding Arjuna. Arjuna cemburu? Tentu saja. Ekalaya mengalahkannya dalam sebuah tantangan latihan bersama. Panahnya selalu kalah cepat dibanding panah Ekalaya. Kepercayaannya kepada Durna yang menganggapnya sebagai murid terbaik, runtuh. Durna tahu, murid kesayangannya itu gundah. Sekali lagi ia memanggil Ekalaya untuk menakar keteguhan batinnya. Alasan-alasan serta apa yang sanggup dikorbankan sebagai bakti terhadap guru. Ekalaya menyerahkan satu jarinya. Tanpa syarat. Durna dikalahkan oleh keluguan pemuda Paranggelung yang segera dengan tanpa dosa mengajak Arjuna melanjutkan latihan mereka. Arjuna masih saja kalah, bahkan setelah jari Ekalaya tanggal.

Arjuna berkata “Ekalaya, aku membidik jantungmu kali ini. Sebagai kesatria, tentu kau tahu maksudku. Bukankah panahmu selalu lebih cepat dari panahku? Tunjukkan padaku sekali lagi.” Di depan patung bisu Durna, Arjuna memejamkan mata, merelakan semuanya, melepaskan anak panah itu. Lalu sepi. Sepi yang memilah suara itu, sebab Ekalaya mematung saja, membiarkan panah Arjuna menembus jantungnya. Kisah Bambang Ekalaya di atas seperti paradoks, ia hidup di antara estetika yang tinggi dan juga kegoblokan yang absolut. Namun jika dikaitkan dengan akhlak, adab kepada guru, dan loyalitas maka ia bisa menjadi contoh terbaik. Ekalaya adalah tragedi ketidakadilan sosial. Ia bukan dari kalangan bangsawan, tetapi justru menjadi simbol keunggulan yang tidak diakui oleh sistem kasta yang hierarkis/Feodal. Dalam diskursus modern, Ekalaya kerap dipandang sebagai simbol marginalisasi kepada elite capture terhadap akses pendidikan dan ketimpangan sosial berbasis identitas. Dalam perspektif Islam mengenai akhlak kira-kira seperti berikut ini.

Rasullullah SAW bersabda Innama bu’itstu li’utammima makarimal akhlaq” (Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak). Misi ini bertujuan mengubah manusia dari jahiliyah menjadi berakhlak mulia, meliputi kejujuran, amanah, dan kasih sayang. Definisi Akhlak adalah adalah sifat atau karakter yang tertanam kuat dalam jiwa manusia, yang mendorong perilaku baik (terpuji) atau buruk (tercela) secara spontan tanpa perlu pertimbangan mendalam, berdasarkan nilai-nilai syariat Islam. Ini mencakup etika, moralitas, dan tata krama terhadap Allah, sesama manusia, dan lingkungan. Akhlak Berasal dari bahasa Arab khuluq yang berarti tabiat, perilaku, atau budi pekerti. Akhlak yang baik (Akhlakul Karimah) dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Seperti di Firman-kan Allah SWT dalam surat Al-qalam ayat 4 Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Dalam Al hujurat ayat 11 :  Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok). Dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim. Ayat itu mengarah pada perintah Allah agar manusia bersikap tawadhu’. Sikap tawadhu’ adalah rendah hati dan merupakan salah satu bentuk akhlak terpuji.

Dalil tentang akhlak terpuji itu setidaknya ditemukan lagi pada ayat Al-Quran berikut ini yaitu Al-Maidah 8 : Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak (kebenaran) karena Allah (dan) saksi-saksi (yang bertindak) dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlakulah adil karena (adil) itu lebih dekat pada takwa. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan. Kemudian Al-Isra 23 : Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Ayat tersebut berisi dua perintah, yaitu menauhidkan Allah dan berbakti kepada orang tua. Keduanya merupakan salah satu bentuk akhlak terpuji dalam Islam meskipun objeknya berbeda, Tuhan dan orang tua.

Akhirnya, kemuliaan akhlak itu adalah menjadi hal yamg utama dan penting dalam syariat islam, sesuai dengan Hadits Rasullullah SAW “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.” (HR. Tirmidzi). Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi juga, akhlaq mulia merupakan timbangan yang paling berat di akhirat kelak. “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik. Sungguh, Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.” (HR. Imam Tirmidzi). Demikian keutamaan dan kedudukan akhlaq dalam Islam. Ia mempunyai keutamaan yang sangat banyak dan kedudukan yang sangat tinggi. Maka siapapun kita, kita kedepankan akhlaq yang mulia lagi luhur. Jabatan tanpa akhlaq akan mendatangkan kedzaliman dan Ilmu tanpa akhlaq akan mendatangkan keributan. Semoga Allah Ta’ala karuniakan kepada kita dan generasi kita akhlaq yang mulia, dan kelak dikumpulkan disurga dekat dengan baginda Rasullullah SAW[].

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar