Kisah Pandawa dan janji Allah SWT bahwa setiap musibah akan mendapat ganti yang lebih baik

(Pengajian Ramadan Episode 6)

Oleh : Kurnia Fajar*

Dalam Mahabharata versi pakem Jawa (terutama tradisi wayangan Surakarta–Yogyakarta), kisah terusirnya Pandawa dan hubungan mereka dengan Hastina berhubungan dengan tiga tokoh utama: Pandu, Destarastra, dan para putra mereka (Pandawa dan Kurawa). Ayah Pandawa adalah Pandu atau sering disebut Pandudewanata raja sah kerajaan Hastina. Namun Pandu mengalami musibah besar. Ia terkena kutukan seorang resi, Jika Pandu hidup sebagai suami dan mendekati istrinya, ia akan mati. Kutukan ini membuat Pandu merasa tidak pantas lagi memerintah. Ia kemudian mengundurkan diri dari tahta dan menyerahkan pemerintahan kepada kakaknya Destarastra. Destarastra ini sebenarnya buta sejak lahir, sehingga menurut tradisi ksatria ia tidak layak menjadi raja. Karena itu sebelumnya Pandu yang menjadi raja. Namun setelah Pandu mengundurkan diri dan memilih hidup sebagai pertapa di hutan, pemerintahan praktis berada di tangan kakaknya. Anak-anak Destarastra ini adalah Kurawa, dipimpin oleh Duryodhana. Karena ayahnya memegang pemerintahan selama bertahun-tahun, Kurawa merasa, Hastina adalah milik mereka. Ketika Pandu meninggal dan Pandawa kembali ke istana, sebenarnya mereka adalah pewaris sah kerajaan.

Namun Duryodhana dipenuhi iri dan ambisi. Ia takut bahwa jika Pandawa berkuasa, Kurawa akan kehilangan kekuasaan. Sejak saat itu muncul berbagai usaha untuk menyingkirkan Pandawa dari Hastina.  Ada beberapa peristiwa yang memperlihatkan upaya Kurawa menyingkirkan Pandawa mulai dari upaya pembunuhan Bhima ketika masih kecil. Istana lak (rumah dari bahan mudah terbakar) di Waranawata yang sengaja dibakar untuk membunuh Pandawa. Pandawa berhasil selamat dan hidup mengembara. Setelah melalui berbagai peristiwa dan bantuan para sekutu, Pandawa akhirnya memperoleh wilayah baru yang kemudian berkembang menjadi kerajaan yaitu Amarta.  Amarta digambarkan sebagai wilayah hutan yang kemudian dibuka dan dibangun menjadi negeri besar dan menjadi pusat pemerintahan Pandawa, Kerajaan dipimpin oleh Yudhistira. Walaupun Pandawa sudah memiliki kerajaan sendiri, Duryodhana tetap tidak puas. Ia iri terhadap kemakmuran Amarta dan takut kehilangan legitimasi sebagai penguasa Hastina serta terjadinya hasutan yang terus menerus dari Sengkuni patih Hastina. Karena itu Duryodhana kemudian menyusun rencana besar yang menjadi awal bencana yaitu permainan dadu yang akhirnya membuat Pandawa kehilangan kerajaan dan harus menjalani pengasingn selama 13 tahun. Peristiwa ini yang kemudian membawa dunia menuju perang besar Bharatayudha. Disini kita bisa belajar beberapa hal Pertama bahwa ambisi kekuasaan yang tidak mengenal batas, Kedua, kesabaran menghadapi ketidakadilan dan bahwa kerajaan besar pun bisa lahir dari pengasingan.. Ketiga simbol bahwa kesabaran dan kerja keras dapat mengubah keterasingan menjadi kejayaan. Keempat, Ini adalah bukti bahwa Allah SWT akan mengganti apapun yang hilang dengan yang lebih baik asalkan kita bersabar.

Ada satu janji Allah yang sering menyelamatkan aku dalam banyak rasa sedih. Entah itu karena kehilangan atau gagalnya rencana. ‘Allah akan mengganti apa yang hilang, dengan yang lebih baik’ Aku selalu percaya ini, kalau bisnisku gagal, aku kembali mengingat-ingat tentang janji satu ini sambil menerka ‘hmm, Allah mau kasih apa ya?’  Kadang, ada masalah yang tidak cukup untuk ditenangkan dengan kata-kata. Ia terus menerus berputar dan berkecamuk di dalam kepala. Lagi perlu biaya untuk sekolah, ada anggota keluarga yang sakit eh tiba-tiba kita kena PHK atau kontrak kerja berakhir. Lagi ikhtiar berdagang ke luar kota, dagangan belum laku, barang dagangan ditabrak, masuk sungai, kita menderita luka-luka. Dan masih banyak kejadian-kejadian lain yang membuat kita semakin bingung. Kok Allah SWT begitu tega kepafa kita? Diberikan ujian yang bertubi-tubi. Aku pun mengalami peristiwa yang sama, ketika ibuku jatuh sakit, di saat yang sama aku punya uang untuk memenuhi apa maunya Ibu. Aku berangkatkan umrah. Eh, tiba-tiba sepulang dari umrah ibu sakit. Dipuncak penghasilan tertinggiku masa itu, ibuku malah berpulang. Allah ambil ibuku. jujur, aku belum puas menuruti semua maunya ibu. aku ini anak laki-laki yang kalau ada uang, pasti aku tanya ibuku mau apa, mau kemana, mau beli apa.

Jadi dengan banyaknya uang, ibu berpulang, aku bingung. Selepas ibu berpulang, waktu itu, aku ingat betul, aku sering ngomong sendiri “Yaa Allah, ibuku sudah berpulang. Engkau bilang akan ganti apa-apa yang hilang dariku dengan sesuatu yang lebih baik. tapi ini ibuku, apa yang lebih baik dari ibuku?’ Tentu gak akan ada ya, dunia ini juga gak ada apa-apanya dibanding ibuku. Tapi salah satu temanku, yang mengetahui pertanyaanku itu, Justru menjawab dengan baik banget, katanya : Iman. iman kanda, yang Allah ganti dengan berpulangnya ibu, iman Kanda. Apa yang lebih baik dari iman? Allah tambah iman dengan musibah ini’. Setelahnya aku baru tenang, dan makin yakin kalau benar, apa yang hilang, pasti Allah ganti dengan yang lebih baik. Jadi, buat yang hatinya risau karena masalah yang bertubi-tubi dan banyak merasakan kehilangan, nanti Allah ganti, cepat atau lambat, tapi pasti. Allah tidak mengganti dengan yang kurang, melainkan yang lebih baik. pun ga di dunia, nanti di akhirat Allah pasti ganti. Hadits-Hadits tentang janji Allah akan mengganti dengan yang lebih baik di antaranyaSesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, melainkan Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya” (HR. Ahmad). Kemudian Hadits “Sesungguhnya kami adalah milik Allah, dan sungguh hanya kepada-Nya kami akan kembali. Ya Allah, karuniakanlah padaku pahala dalam musibah yang menimpaku dan berilah aku ganti yang lebih baik daripadanya” (HR. Muslim no 918). Wallahualam bissawab.

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar