(Pengajian Ramadan Episode 5)
Oleh : Kurnia Fajar*

Kisah ini adalah salah satu episode paling filosofis dalam pakem wayang Jawa karena menyentuh tema yang sangat dalam: apakah kebenaran boleh dilanggar demi menyelamatkan tugas? Tokohnya adalah Yudhishthira Pandawa tertua yang terkenal tidak pernah berbohong sepanjang hidupnya. Situasi Perang Bharatayudha telah berlangsung beberapa hari. Di pihak Kurawa ada seorang tokoh yang hampir tidak bisa dikalahkan yaitu Resi Durna, Ia adalah guru para Pandawa dan Kurawa. Ksatria tua yang sangat sakti, panglima perang Kurawa. Di medan perang, Durna bertempur seperti badai. Banyak prajurit Pandawa gugur. Para Pandawa menyadari, selama Durna masih mengangkat senjata, kemenangan hampir mustahil. Namun ada satu kelemahan besar dari resi Durna, Ia sangat mencintai putranya, Ashwatthama. Melihat keadaan itu, Kresna mengusulkan siasat, ia berkata kepafa para pandawa “Guru kalian Resi Durna hanya akan berhenti berperang jika ia percaya putranya telah mati.” dan kebetulan ada seekor gajah bernama aswatama. Tugas membunuh gajah Aswatama ini diserahkan kepada Bima. Kemudian Bima juga diberikan tugas untuk menginformasikan kepada seluruh khalayak bahwa Aswatama telah mati! Aswatama sendiri berada di sisi lain dari pertempuran Bharatayudha ini, sehingga ia tidak mengetahui siasat ini.
Durna mendengar kabar itu, tetapi ia tidak percaya Bhima. Ia tahu Bhima sering berbicara keras di medan perang.
Durna kemudian mencari orang yang paling jujur di dunia. Ia mendatangi Yudhistira. Dalam mitologi pewayangan, Yudistira adalah tokoh yang terkenal kejujurannya. Namun sedikit yang memahami bahwa kejujuran Yudistira ini terjadi akibat rasa cemas (overthinking) yang berlebihan pada dirinya. Sebagai anak tertua dan pewaris Hastinapura, Yudistira merasa berat dengan tugasnya tersebut, sehingga dia selalu jujur untuk meringankan beban di dalam hatinya. Setiap kali berniat untuk berbohong ia sudah cemas atau overthinking kata orang-orang sekarang. Kemudian Durna mendatangi Yudistira dan bertanya langsung: “Katakan yang sebenarnya. Apakah putraku Aswatama benar-benar mati?” ini adalah momen yang sangat berat. Dengan suara berat Yudhistira berkata: “ Esthi Aswatama mati…” Yudistira mengatakan Esthi dengan sangat pelan dan lirih. Esthi sendiri dalam bahasa Sansekerta berarti Gajah. Mendengar itu, Durna merasa dunia runtuh. Ia percaya putranya telah gugur. Dengan hati hancur, ia turunkan senjatanya. Duduk bersila dan mulai melakukan tapa brata. Duduk bersila di medan perang, masuk dalam semadi.
Pada saat itulah Drestajumna datang dan membunuh resi Durna. Akibat Moral bagi Yudhistira sangat panjang
Dalam pakem wayang Jawa, akibat dari kebohongan setengah itu sangat simbolis. Yudhistira masuk ke dalam Anxiety yang menambah dalam beban hidupnya. Ia merasa telah menodai kesucian hidupnya. Menodai prinsip hidupnya. Ketika perang memaksa manusia memilih antara kebenaran dan kemenangan. Tugas kadang harus dibela dengan siasat. Kesucian manusia tidak pernah absolut. Perang selalu meninggalkan noda moral. Tujuh ratus tahun yang lalu, Ibnu Qayyim sudah menulis mengapa overthinking itu terjadi dan bagaimana cara mengusirnya. Yang paling bikin merinding semua ini ditulis ulama yang hidup jauh sebelum kata “Anxiety atau Overthinking” diciptakan. Ibnu Qayyim bukan cuma Ulama Fikih. Banyak yang melihat karya-karyanya sebagai fondasi awal “Psikologi Hati” dlm tradisi Islam. Dan hidupnya penuh dengan renungan soal satu hal: “Kenapa manusia susah mengendalikan isi kepalanya sendiri?” Dalam salah satu karyanya, ia ibaratkan lintasan pikiran seperti orang asing yang lewat di depan rumahmu : Kalau dibiarkan lewat, dia nggak bahaya.
Masalah dimulai ketika kamu panggil, suruh masuk, suguhin kopi… dan kamu sendiri yang ngajak dia nginep.
Menurut Ibnu Qayyim, rusaknya hati dan perilaku itu jarang terjadi “tiba-tiba”. Ada fasenya Pertama Al-khatharat: lintasan pikiran, muncul sekilas. Kedua Al-wasawis: bisikan, mulai diputar ulang di kepala. Ketiga Al-azimah: tekad, berubah jadi niat yang menguat. Keempat Al-fil: tindakan, diulang sampai jadi karakter. Pesannya mendalam: “Kalau kamu nggak bereskan di level lintasan, nanti kamu ketemu lagi di level kebiasaan dan itu jauh lebih susah dipadamkan”. Terus, gimana cara “nge-logout” dari pikiran yang bikin sesak? Beliau menekankan hirasatul qalb “menjaga gerbang hati.” Hati itu nggak pernah kosong kalau diisi dzikir, ilmu, dan hal bermanfaat. Jika kosong ia akan otomatis terisi oleh ilusi, ketakutan, dan skenario-skenario yang kamu bikin sendiri. Seperti mesin giling: Kalau dikasih gandum yang bagus, keluar tepung. Kalau yang kamu lempar batu, sampah, dan kotoran mesin itu tetap berputar, tapi yang keluar.. ya cuma ngerusak dari dalam. Ibnu Qayyim nggak pernah memisahkan “mental” dari “fisik”. Menurutnya, hati yang penuh syukur, cinta dan tawakal akan menenangkan badan; sebaliknya, dengki, dendam, dan iri itu seperti racun yang pelan-pelan menggerogoti pemiliknya sendiri.
Dalam hikmahnya, hati yang terus lalai dari Allah adalah sumber utama kegelisahan yang nggak kelar-kelar apa pun yang kamu punya di dunia luar. Jadi, jangan cuma jadi penonton pasif di kepalamu sendiri. Ibnu Qayyim mengajak kita jadilah satpam bagi pikiran: seleksi siapa yang boleh masuk, siapa yang cukup sampai teras lalu suruh pulang. Karena pada akhirnya, hidupmu akan banyak ditentukan oleh pikiran mana yang paling sering kamu jamu dan kamu rawat di dalam hati. Jadi sumber kecemasan Yudhistira karena dia Naif atau memang tulus? Selamat merenungi pikiran anda sendiri. Tabik!
*)Gerilyawan Selatan