Program MBG dalam imajinasi saya (Surat terbuka untuk Presiden Prabowo)

Oleh : Kurnia Fajar*

Bapak Presiden Prabowo yang saya sayangi. Izinkan saya mengirimkan surat untuk Bapak atas dasar rasa sayang saya kepada bangsa ini. Setidaknya saya merasa memiliki dua kemiripan dengan Bapak, Pertama sama-sama memiliki darah banyumasan, bahkan saya meyakini ayahanda Bapak yakni Prof. Soemitro dilahirkan di rumah sakit yang sama dengan almarhum kakek saya yaitu di Kota Gombong yang memang lengkap fasilitasnya karena pada waktu itu Gombong menjadi kota Garnizun bagi KNIL. Mengenai keyakinan ini, saya telah melakukan riset cukup mendalam khisusnya perilaku kaum priyayi di masa itu. Jika Prof Mitro bersekolah di HIS Purwokerto, maka kakek saya bersekolah di Volkschool di Gombong. Tentu Bapak sudah bisa menebak status sosial kakek saya. Kami tinggal di desa Semondo pak atau dalam bahasa banyumasan disebut desa Semanda. Kemiripan Kedua, sama-sama pengagum Prof. Soemitro, ini beneran pak, saya memang penganut mazhab ekonomi industi yang menjadi salah satu inti dari Soemitronomics. Dalam surat ini saya tidak hendak mengajari bapak, saya hanya ingin bercerita, berikut ini :

Dalam perjalanan hidup, setidaknya tiga kali saya memiliki kesadaran tentang cita-cita para pendiri bangsa. Pertama adalah peristiwa di tahun 1996 ketika saya masih bersekolah di bangku SMA, Kebetulan kawan saya menjalani program sekolah di Amerika serikat selama 1 tahun, dia bercerita bahwa di sekolah-sekolah negeri di Amerika setiap siswa diberikan makan siang gratis, meskipun menu-nya itu-itu saja. Saya sebagai anak prajurit tentu takjub mendengarnya sambil bergumam “Hebat ya Amerika” saya juga ingin dikasih makan sama pemerintah sehingga perut bisa bebas dari rasa lapar. Bapak tentu paham dinamika menjadi anak prajurit TNI. Kemudian tidak lama dari perbincamgam tersebut, Guru Bahasa Indonesia Pak Siswara Nataamiarsa bercerita tentang kemampuan negara-negara maju dalam mengurus rakyatnya. Pak Siswara ini guru  hebat pak, ketika mengajar saya di tahun 1996 beliau berusia tepat 60 Tahun. Kapan-kapan saya kisahkan jika bapak mau mendengarnya. Yang Kedua adalah pada saat saya nyantri di Bengkel Teater pimpinan budayawan WS Rendra dimana para muridnya harus menanam dan menanam untuk ketahanan pangan katanya.

Kemudian yang Ketiga adalah saat saya berkuliah S2 di Unpad Bandung, kira-kira tahun 2009-an, dosennya Mas Kurniawan bercerita tentang  proteksi pemerintah Amerika Serikat terhadap para petani dengan mekanisme subsidi dan perlindungan harga. Jadi ketika bapak mengunci harga gabah saya termasuk yang jingkrak-jingkrak happy. Maklumlah pak, hampir semua kolega saya adalah petani.

Peristiwa berikutnya adalah ketika saya diminta Kang Aher (Gubetnur Jawa Barat tahun 2008-2018) untuk mengutusi BUMD namanya Agro Jabar. Isinya tentang ketahanan pangan dan sumber pangan (Pertanian, Peternakan, Perikanan, Perkebunan dan kehutanan). Baru satu hari masuk saya sudah disuguhi istilah “Swasembada Protein” tentang kutang gizi anak-anak Indonesia. Wah, kacau pak! Kita ini selain kurang gizi juga kurang sumber pangan. Oh ya Pak, intermezzo sedikit, Pak Aher itu orang hebat pak. Ide-idenya keren untuk sektor pangan. Yang menghalangi kami (pak Aher dan saya) untuk membangun industri sumber pangan afalah regulasi sektor perbankan yang tidak mau membiayai sektor ini karena sangat volatile dan beresiko tinggi. Indomesia sudah sangat ketinggalan untuk mengejarnya.

Peristiwa-peristiwa di atas akhirnya menemukan titik puncaknya yaitu ketika Bapak meluncurkan program MBG. di satu sisi saya merasa bangga Indonesia sudah setara dengan Amerika Serikat, namun di sisi lain saya merasa konsepnya gak seperti itu. Ini MBG gak Soemitronomics banget gitu loh pak. Saya sebagai yang mengikuti Prof Mitro merasa aneh dengan cara eksekusinya, masa Bapak sebagai putranya masa tidak merasa aneh? Akhirnya, saya berimajinasi saja pak, melalui tulisan ini yang mudah-mudahan aja nyampe dan bisa dibaca ama Bapak.

Begini imajinasinya pak, Amerika Serikat itu ternyata membagikan

Ketika saya dalam proses memb

Basis MBG hendaknya

  1. Supply MBG hendaknya dari Cadangan pangan negara. Dan cadangan pangan negara hendaklah lengkap (sumber karbohidrat dan sumber protein) bila mengacu yang dilakukan oleh Amerika serikat : Gandum, daging dan Susu. Sumber hukumnya sudah ada di UU 18 tahun 2012 tentang pangan
  2. Bangun Industri sumber pangan (bukan dapur) ini bisa memanfaatkan KDMP dengan output produk full gizi seperti yang dihasilkan oleh Pusat Perbekalan dan Angkutan (Pusbekang AD) membangun industri pangan imi adalah perwujudan dari Soemitronomics
  3. Dalam hitungan analisa saya, jika kita membangun Industri sumber pangan. Kita tidak hanya sekedar bisa mencipttakan lapangan kerja, namun mencipta jam kerja dan juga menumbuhkan ekosistem baru dengan angka mencapai 25 juta orang
  4. Subsidi kepada petani hendaklah dalam perlindungan harga beli
  5. Pembangunan Industri pakan ternak nasional dengam mengganti perkebunan-perkebunan yang sudah sumset sepertikaret dan teh demgan perkebunan pakan. Sehingga indonesia bisa swasembada protein di tahun 2030

*)Direktur Eksekutif, Jaringan Survey Independen

Tinggalkan komentar