Oleh : Kurnia Fajar*

Dalam tradisi pewayangan Jawa, yang terpisah dari naskah besar Mahabrata versi India adalah hadirnya tokoh punokawan. Dalam pakem wayangan Jogjakarta maupun Surakarta mereka digambarkan sebagai abdi (pelayan), namun kedudukan mereka sebenarnya sangat tinggi karena mereka adalah penasihat spiritual sekaligus penghibur para ksatria. Dalam naskah pakem keduanya, Punokawan muncul dalam sesi yang disebut Goro-goro. Ini adalah momen di tengah malam saat alam semesta kacau, lalu diredam oleh kemunculan mereka yang membawa humor sekaligus nasihat (dakwah). Secara mendalam, Punokawan berasal dari kata Pana (paham/terang) dan Kawan (teman). Jadi, mereka adalah “teman yang membantu memahami kehidupan.” Jangan tertipu oleh perut buncit dan wajah yang jenaka. Punokawan adalah operasi intelijen paling rapi dalam sejarah kebudayaan jawa. Mereka bukan sekedar pelengkap “wayangan”. Mereka adalah jantung perubahan. Dalam kontruksi struktur sosial yaitu feodalisme yang kaku, mereka hadir sebagai anomali yang sengaja diciptakan untuk melakukan kritik terhadap sistem kasta yang mencekik.
Kudeta budaya ini mencapai puncaknya ketika rakyat memiliki kesadaran bahwa di hadapan sang khalik, Allah SWT seorang Presiden dan seorang pengarit rumput memiliki derajat yang sama. Punokawan adalah kurir ideologi kesetaraan ini. Mengutip kalimat dari HOS Tjokroaminoto, Guru bangsa dalam bukunya “Islam dan Sosialisme” Sejak 1400 tahun yang lalu Rasullulah SAW sudah mengajarkan kesetaraan, bukti otentiknya ada pada piagam madinah. Punokawan meruntuhkan tembok kasta bukan dengan palu godam tetapi dengan dialog-dialog santai di pinggir sawah yang penuh dengan muatan dakwah substantif. Secara umum, punokawan anggotanya terdiri dari empat tokoh utama yang melambangkan satu kesatuan yakni Semar sosok ayah yang melambangkan kerendahan hati dan kebijaksanaan. Kemudian Gareng anak tertua. Melambangkan kewaspadaan dan ketelitian (tidak sembarangan melangkah). Lalu kemudian Petruk anak kedua. Melambangkan pemikiran yang panjang dan kecerdasan. Terakhir adalah Bagong anak bungsu, melambangkan kejujuran yang lugu, apa adanya, dan kritis. Dalam wayang golek sunda menjadi Cepot/Astrajingga, Dawala dan Gareng.
Secara historis, punokawan adalah lembaga oposisi pertama di pulau Jawa. Dan raja manapun dalam babad tanah Jawi, tidak ada yang berani dan mampu membubarkan punokawan. Kehadiran mereka membuktikan bahwa sejarah tidak ditentukan oleh para elit tetapi juga suara-suara dari bawah. Punokawan adalah jangkar moral bagi siapa saja yang kehilangan kesadaran. Entah karena mabuk kekuasaan, mabuk harta, mabuk wanita dan mabuk-mabuk lainnya. Punokawan juga melakukan sabotase terhadap mitologi klasik bahwa raja adalah penerima “mandat langit”. Silakan saja kawan-kawan perhatikan dalam setiap gelar raja jawa, baik Kasunanan maupun Kasultanan selalu ada kalimat “khalifatullah sayyidin panotogomo”. Di tangan punokawan, kekuasaan diukur sejauh mana penguasa mau tunduk pada hukum, etika dan moral yang mampu mewujudkan keadilan bagi sesama hal ini pengejawantahan dari semngat Islam yang membebaskan. Bagi Punokawan, humor adalah alat agitasi dan propaganda. Jangan remehkan banyolan petruk dan gareng atau cepot dan dawala. Humor adalah adalah bentuk perlawanan terhadap kebijakan negara yang tidak adil, ketiadaan akses dan ruang untuk bersuara. Lewat humor mereka menelanjangi kemunafikan pengiasa dan kaum yang memiliki akses.
Rahman Rahim-nya Allah SWT menjadi ringan di tangan punokawan. Semar sebagai wujud kebijaksanaan Ilahi adalah tesis politik yang luar biasa. Semar yang digambarkan tinggal di desa adalah simbol bahwa kebijaksanaan tidak lahir di dalam istana yang megah, namun hadir bersama dalam rintihan kaum dhuafa dan kaum terpinggirkan. Punokawan mengajarkan bahwa dakwah bukan hanya sekedar menghafal dalil, tapi keberpihakan pada kaum yang lemah, kaum bokek yang gagal menyekolahkan anak dan memastikan keluarganya dapat makanan. Dakwah juga memastikan kemurahan hati agar sesama bisa saling memaafkan dan tidak terjebak digunakan penguasa dalam narasi adu domba yang ujungnya melemahkan rakyat itu sendiri. Perhatikan dialog lucu punokawan berikut ini
Gareng: “Truk, kae lho bendaramu (majikanmu) si Arjuna. Kerjane mung tapa wae, ora mikir rakyate wis mangan opo durung (Truk, lihat itu majikanmu Arjuna. Kerjanya cuma bertapa saja, nggak mikir rakyatnya sudah makan apa belum).”
Petruk: “Hush! Tapa kuwi golek wahyu kanggo negoro! (Hush! Bertapa itu cari wahyu buat negara!)”
Bagong: “Wahyu-wahyu opo… Paling yo lagi turu ning guwo, isin nek ditagih cicilan jaran! (Wahyu apa… paling ya lagi tidur di gua, malu kalau ditagih cicilan kuda!)”
Dalam terminologi hari ini, barangkali punokawan telah berubah bentuk menjadi stand up comedian, yang juga menampilkan humor-humor satire yang menelanjangi kemunafikan penguasa dan mereka yang memiliki akses. Pandji Pragiwaksono misalnya, dalam show-nya yang bertajuk mens rea. Secara berani mengkritik polisi dan menyebut mantan Jenderal polisi yang saat ini sedang menjalani hukuman. Sejarah terus bergerak, kita tidak boleh hamya menjadi penonton yang terpukau dengan masa lalu. Saatnya kita menjadi punokawan dan masuk ke dalam pusaran narasi zaman. Membawa cahaya Tauhid, untuk melakukan kudeta terhadap kemunafikan, penindasan dan ketidakadilan. Seperti kata Tjokro “Setinggi-tinggi ilmu, sepintar-pintar siasat, semurni-murni tauhid!” Tabik!
*)Gerilyawan Selatan