Piagam Madinah, Syiah yang melawan dan Sunni yang tercerai berai

Oleh : Kurnia Fajar*

Tanggal 28 Februari lalu Amerika Serikat dan Israel bersamaan menyerang Republik Islam Iran. Akibat serangan tersebut, Peminpin tertinggi Iran Ayatullah Khamanei dinyatakan wafat akibat serangan rudal Amerika atau Israel. Jika kita bedah lebih dalam sebetulnya Iran sudah berperang dengan Amerika lebih dari 45 tahun yang lalu, sejak Revolusi Iran yang menumbangkan Shah Iran dan Iran berubah bentuk menjadi Republik dengan nama resminya Republik Islam Iran. Jumlah penduduk Iran adalah sekitar 100 juta jiwa dengan mayoritas penganut syiah dan hanya sekitar 7% saja yang menganut Islam Sunni. Sejak Revolusi itulah Iran di embargo oleh Amerika Serikat. Perdagangan internasionalnya dibatasi. Ruang gerak kerjasama dengan negara lain juga ikut dibatasi. Tapi justru disinilah letak hebatnya. Iran tumbuh menjadi negara Mandiri dan kuat. Jika bung Karno masih hidup, barangkali di podium akan berpidato “Berdikari (Berdiri di atas kaki sendiri) yang aku cita-citakan itu mirip yang Iran lakukan dalam 45 tahun ini”. Dua generasi di Iran telah biasa hidup mandiri sebagai warga dunia. Kecerdasannya juga di atas rata-rata. Dahulu ada sahabat Rasullullah SAW, yang diakui kecerdasannya oleh Rasul, bernama Salman Al-Farisi. Farisi dalam namanya berarti Persia, karena dulu Iran menempati Jazirah ex Kerajaan Persia yang menganut Majusi.

Piagam Madinah (Constitution of Medina) merupakan dokumen penting yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun 622 M, tak lama setelah Hijrah ke Madinah. Dokumen ini berfungsi sebagai konstitusi tertulis pertama di dunia yang mengatur hubungan antara berbagai kelompok di Madinah. Salah satu poin paling progresif dalam piagam ini adalah pengakuan kebebasan beragama. Piagam ini dianggap sebagai tonggak lahirnya konsep negara bangsa (nation-state) dan masyarakat madani. Piagam ini oleh sebagian orang juga dianggap sebagai tonggak pengakuan atas Hak Asasi Manusia karena poin-poin progresif-nya. Berikut ini adalah, beberapa hal penting dalam piagam Madinah

  1. Meletakkan hukum di atas kepentingan suku.
  2. ​Menjamin hak asasi manusia dan kebebasan berkeyakinan.
  3. ​Menciptakan stabilitas sosial di tengah masyarakat yang sangat plural/majemuk.

Makna penting Piagam Madinah adalah tentang kesetaraan, setiap orang berdiri sama hak dan kewajibannya di mata hukum dan konsensus bersama atau dikenal dengan sebutan Negara.

Banyak umat islam dari kalangan Sunni yang mencibir dengan apa yang dilakukan oleh Iran dalam konfliknya dengan Amerika Serikat yang didukung Zionis Israel. Yang mencibir diantaranya adalah negara-negara penganut Sunni. Lalu apa itu Sunni? Sunni atau Ahlussunah wal Jama’ah secara harfiah artinya orang-orang yang mengerjakan sunnah atau mencontoh kepribadian Rasulullah. Mereka yang berhak diakui sebagai Sunni adalah yang taat dan menegakkan ajaran Rasulullah. Rasulullah sebagai pemimpin ummat, beliau hidup dalam kesederhanaan, tidak menumpuk kekayaan. Jika ada negara yang pemimpinnya hidup glamor dari kas negara, sesungguhnya itu adalah ingkar terhadap Sunnah Rasulullah. Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, semua sahabat Rasulullah. Di masa kepemimpinan beliau-beliau, tidak pernah membangun istana megah untuk dirinya dan keluarganya. Apabila ada pemimpin yang mengangkat dirinya sebagai raja lalu membangun istana dan hidup dalam kemewahan, maka jelaslah itu bertentangan dengan sikap hidup Rasullullah SAW.  Rasulullah memerangi kaum kafir Quraisy, Yahudi, hingga Romawi untuk kemerdekaan dakwah Islam. Membela kaum muslimin yang dizhalimi. Jika ada pemimpin yang justru bersekutu dengan kaum kafir harbi, membiarkan ummat muslim Palestina ditindas oleh zionis, membantu AS untuk menjajah negara muslim, maka itu golongan orang yang mengingkari Sunnah dan ajaran Rasulullah.

Umar bin Khattab dulu merupakan tokoh yang paling anti terhadap Islam, Khalid bin Walid ikut memerangi Rasullullah dalam perang Uhud. Di kemudian hari mereka memeluk Islam dan menjadi pemimpin terbaik bagi ummat muslim hingga mengalahkan Persia dan Romawi. Iran memang bekas kerajaan Persia yang dulu beragama majusi dan pernah berperang melawan ummat muslim, namun kini Iran mayoritas penduduknya muslim dipimpin oleh para pejabat yang hidup dalam kesederhanaan dan berperang melawan arogansi AS dan zionis. Artinya Iran telah menerapkan apa-apa yang diajarkan oleh Rasulullah serta para sahabatnya. Lalu pantaskah kita mempercayai Saudi, UAE, Kuwait, Yordania, Qatar dan Bahrain sebagai Sunni sementara pemimpinnya hidup glamor dan mengangkat zionis dan AS sebagai sekutu dan pelindungnya..?? Pernahkah Rasulullah dan para sahabatnya mengajarkan hal yang demikian..?? Rusaknya mentalitas kepemimpinan ummat muslim terjadi sejak Mu’awiyah dinobatkan sebagai Khalifah oleh Amr bin Ash. Mulai detik itu kepemimpinan ummat muslim yang awalnya diposisikan sebagai amanah, bermetamorfosis menjadi monarki Hedon yang diwariskan berdasarkan nasab. Tidak ada bedanya dengan kerajaan-kerajaan di Eropa yang menganut agama Kristen dan Anglikan.

Di masa kepemimpinan Mu’awiyah, cucu kesayangan Rasulullah dibantai dan dihinakan. Apakah itu sesuai dengan ajaran Rasulullah..?? Apakah itu artinya kepemimpinan Mu’awiyah termasuk ahlussunah? Mari kita renungkan secara jujur dan objektif. Jika anda mengira Syaikh Ibn Taimiyah akan memihak Israhell dan ikut bergembira saat mereka memborbardir syi’ah, maka prediksi anda meleset. Sebab Syaikh Ibn Taimiyah pernah ditanya “Lebih mending mana Syi’ah atau Yahudi ??”

Beliau menjawab begini:
الْحَمْدُ لِلَّهِ، كُلُّ مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا بِمَا جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ خَيْرٌ مِنْ كُلِّ مَنْ كَفَرَ بِهِ؛ وَإِنْ كَانَ فِي الْمُؤْمِنِ بِذَلِكَ نَوْعٌ مِنْ الْبِدْعَةِ سَوَاءٌ كَانَتْ بِدْعَةَ الْخَوَارِجِ وَالشِّيعَةِ وَالْمُرْجِئَةِ وَالْقَدَرِيَّةِ أَوْ غَيْرِهِمْ؛
“Segala puji bagi Allah. Setiap orang yang beriman kepada apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad maka ia lebih baik daripada siapa pun yang kafir kepadanya; meskipun pada diri orang beriman tersebut terdapat suatu bentuk bid‘ah, baik bid‘ah Khawarij, Syiah, Murji’ah, Qadariyah, maupun selain mereka.

فَإِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى كُفَّارٌ كُفْرًا مَعْلُومًا بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ.
Sesungguhnya Yahudi dan Nasrani adalah orang-orang kafir dengan kekafiran yang telah diketahui secara pasti dalam agama Islam.

وَالْمُبْتَدِعُ إذَا كَانَ يَحْسَبُ أَنَّهُ مُوَافِقٌ لِلرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا مُخَالِفٌ لَهُ لَمْ يَكُنْ كَافِرًا بِهِ؛ وَلَوْ قُدِّرَ أَنَّهُ يَكْفُرُ فَلَيْسَ كُفْرُهُ مِثْلَ كُفْرِ مَنْ كَذَّبَ الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (مجموع الفتاوى لابن تيمية ٣٥/٢٠١)

Adapun ahli bid‘ah, apabila ia mengira bahwa dirinya sejalan dengan Rasulullah dan bukan menyelisihinya, maka ia tidak dianggap kafir terhadap beliau. Bahkan andaikata diperkirakan ia kafir, maka kekafirannya tidaklah seperti kekafiran orang yang mendustakan Rasulullah.”

Iran dengan drone kamikaze-nya telah mampu digunakan untuk melawan kesombongan AS dan Israel. Sementara kita umat Islam Indonesia yang mengaku Sunni masih saja ribut mengenai hal-hal fiqih yang menghabiskan energi Metodologi antara organisasi massa Islam besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) yang cenderung menjaga tradisi bermadzhab (terutama Syafi’i) dan Muhammadiyah yang lebih menekankan pada pemurnian (tajdid) dengan kembali langsung ke Al-Qur’an dan Sunnah. Perbedaan tersebut seperti perbedaan jumlah rakaat shalat tarawih, shalat subuh qunut atau tidak,  mengucapkan niat dengan jahar atau sirr. Sampai tradisi tahlilan. Terakhir yang selalu seru adalah metode penetapan 1 syawal antara hisab dan ru’yat. Yang terkadang lucunya walaupum Idul Fitrinya berbeda, 1 Muharram (Tahun Baru Hijriah) semuanya tetap sama dan tidak ribut. Mari kita renungkan, atau jangan-jangan kita termasuk dalam golongan yang tersebut dalam hadits Rasullullah SAW. hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Imam Ahmad.

“Hampir saja bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam) sebagaimana orang-orang yang makan memperebutkan hidangan di atas nampannya.”

Para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit pada saat itu?”

Rasulullah SAW menjawab, “Bahkan jumlah kalian pada saat itu sangat banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah akan mencabut rasa takut dari dada musuh-musuh kalian, dan Allah akan menanamkan penyakit Wahn di dalam hati kalian.”

​Sahabat bertanya, “Apakah penyakit Wahn itu, wahai Rasulullah?”

​Beliau menjawab, “Hubbud-dunya wa karahiyatul maut” (Cinta dunia dan takut mati).

(HR. Abu Dawud no. 4297 dan Ahmad 5: 278)

Wallahu a’lam bishawab. Tabik!

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar