Oleh : Kurnia Fajar*

Kata mitologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu mythos yang berarti cerita rakyat dan logos yang berarti perkataan atau pembicaraan. Kata mythos memiliki arti sebagai “kisah yang disebarkan dari mulut ke mulut, dari suatu sumber yang tidak diketahui asalnya”. Sementara kata logia atau logy dapat diterjemahkan menjadi sejumlah kata seperti teori, ilmu, paham, hingga doktrin. Dalam sejarah peradaban manusia banyak sekali diciptakan cerita-cerita rakyat, baik yang lampau maupun mitos yang diciptakan di masa sekarang. India dan Srilanka memiliki Ramayana, kemudian ada juga Mahabharata yang menjadi mitologi di India dan juga di jawa. Orang Minang punya kisah Malin Kundang masyarakat Sunda ada cerita Sangkuriang. Burung Garuda yang menjadi lambang negara adalah makhluk mitologis yang ada dalam kitab Mahabharata. Dalam konteks dunia modern, ada Superman, Batman makhluk mitologi yang diciptakan oleh DC Comics. Atau Avengers yang diciptakan oleh Marvell Comics. Jepang punya DoraEmon makhluk yang memiliki kantung ajaib. Setiap Zaman akan ada mitologinya sendiri. Ia lahir dari kebutuhan manusia, kebutuhan akan kepahlawanan, akan harapan seperti digambarkan dalam majalah TIME ketika Jokowi dilantik menjadi Presiden “New Hope”.
Jokowi menjadi harapan bagi semua komponen bangsa, kehadirannya bagaikan setetes air di padang pasir. Ia laksana bintang di angkasa, menyelamatkan bangsa ini dari angkara murka. Ia bagaikan ken Arok anak desa yang bermetamorfosis menjadi Raja. Di sisi lain Jokowi adalah mpu sindok yang mampu memindahkan pusat pemerintahan kerajaan Medang, atau JP Coen yang memindahkan pusat perdagangan VOC dari Ambon ke Batavia. Di hari lain Jokowi digambarkan seperti Umar bin Khattab sahabat Rasullullah karena memanggul beras untuk rakyatnya sendiri dalam program BPNT (Bantuan Pangan Non Tunai). Jokowi juga berjaya di lautan dengan semboyan-nya “Tenggelamkan” melalui panglima lautnya Ibu Susi yang akhirnya ikut di “Tenggelamkan” juga. Jokowi layaknya Habibie, ia mampu mewujudkan mimpi Indonesia memiliki mobil nasional sendiri yaitu Esemka dan sekaligus menguatkan nilai rupiah terhadap Dollar hingga di bawah 10 ribu. Bagi para ketua Partai Jokowi adalah wangsit, petunjuk Ilahi yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, ia adalah jawaban dari laku tapa atau meditasi meminta petunjuk dari Tuhan. Ia adalah sayyidin panatagama yang menjadi petunjuk bagi para tokoh agama. Dengan semua kemampuannya Jokowi menjadi “Everybody sweetheart” ia ada di dalam hati setiap anak bangsa. Kehadirannya selalu menjadi mimpi setiap anak bangsa seperti sosok ratu adil dalam tulisan kuno Jayabaya yang menyelamatkan jawa dari kalabendu.
Dalam perjalanan pemerintahannya, Jokowi makin mampu menjadi ratu adil bagi bangsanya. Ia menyamai Daendels yang membangun jalan dari Merak hingga surabaya dalam tol trans jawa. Kemudian ia adalah Bandung Bondowoso yang bergerak cepat membangun puluhan Bandara, Bendungan dan Infrastruktur lainnya. Selain itu Jokowi adalah Raden Wijaya pendiri majapahit yang membabat hutan untuk mendirikan pusat kerajaan majapahit. Sekali waktu Jokowi bagaikan Ali topan mengembara dengan sepeda motor dan menegakkan nilai-nilai kebenaran di jalanan, kadang masuk gorong-gorong untuk memastikan tidak ada sumbatan yang mengakibatkan banjir. Di malam hari dan di pasar tradisional Jokowi menjadi seperti Peter Parker dalam Spiderman, membersamai masyarakat biasa makan di kaki lima, membantu mereka yang gagal membayar kontrakan, didatangi debt collector. Di waktu lain Jokowi juga memiliki profesi seperti Nabi Zakaria seorang tukang kayu. Dan terakhir dalam catatan saya Jokowi mampu mengimbangi paling tidak beberapa tokoh dunia, diantaranya duo bush yang menjadi presiden AS, duo Bhutto yang menjadi pemimpin pakistan, Kim Jong Un, Kim jong Il dan Kim il Sung. Di dalam negeri hampir mengimbangi Presiden soekarno dan Megawati soekarnoputri.
Nasehat jawa menggambarkan situasi sekarang ini “Ojo gumunan, Ojo getunan, Ojo kagetan”. Artinya jangan mudah terheran-heran. Jangan mudah menyesal. Jangan mudah terkejut-kejut. Selain itu Al-qur’an juga mengigatkan dalam surat Ali Imran ayat 26 yang bunyinya “Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki”. Masih teringat dalam ingatan betapa tahun 2014 lalu Jokowi disanjung, dipuja-puja, dimuliakan, bahkan dinabikan serta menjadi harapan semua orang. Semua yang Jokowi lakukan adalah benar, semuanya tertawan, terpukau dan terkagum-kagum. Nalar mayoritas masyarakat seperti jatuh ke titik dasar, seperti ada sihir dalam diri Jokowi. semua mengamini, yang melawan dibully habis-habisan oleh publik. Sebagian kecil yang masih memiliki akal sehat akhirnya menepi menyaksikan jalannya kekuasaan yang fanatis dengan dukungan opini publik yang ditulis oleh para pendengung setiap hari.
Dari semua hal di atas, yang terjadi malah kebalikannya, utang yang menggunung dan pelemahan demokrasi serta konstitusi terjadi. Barulah para Jokowers (pengikut jokowi) ini kemudian sadar. Puncaknya 2 hari kemarin mereka melakukan demo besar-besaran menentang rezim yang usianya tinggal kurang dari 2 bulan lagi. Tapi apapun itu, kita wajib apresiasi kebangkitan nalar masyarakat khususnya kelas menengah pengagum Jokowi. Karena pada peristiwa penembakan KM 50, dan pemukulan oleh aparat dalam aksi massa sebelumnya relatif diam. Apa karena hal itu menimpa umat islam ya?Sekali lagi, apa yang terjadi hari ini adalah cerminan kekuasaan Allah SWT. Tuhan yang maha Esa. Sesuai firman-NYA dalam ayat yang dikutip di atas, kemuliaan dan kehinaan adalah satu. Dari peristiwa ini kita besyukur, karena nalar publik sudah kembali. Akhirnya, Jokowi kini telah menjadi mitos bagi seluruh rakyat Indonesia bahkan mungkin Dunia. Tabik!
*)Gerilyawan Selatan