Fufufafa adalah kita

Oleh : Kurnia Fajar*

Dalam satu bulan terakhir, jagat media publik diramaikan dengan hadirnya akun kaskus yang bernama fufufafa dan melancarkan serangan-serangan secara pribadi kepada Presiden Terpilih Prabowo Soebianto. Akun tersebut ditenggarai adalah akun milik Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka yang notabene adalah anak Pak Jokowi. Netizen dengan segala keahliannya melakukan investigasi dan menyimpulkan bahwa itu memang benar akun milik Gibran. Namun terlepas dari itu semua, saya ingin mengajak untuk kembali ke tahun 2013 menuju tahun 2014. Dalam tahun-tahun tersebut ada tagline yang sangat terkenal yaitu “Jokowi adalah kita”. Jargon ini luar biasa hebat menurut saya, karena dalam penjabaran makna disebutkan bahwa Jokowi mewakili orang-orang kebanyakan, lugu, polos, namun memiliki semangat juang yang tinggi dan hanya Joko Widodo presiden yang berasal dari rakyat “jelata” seperti kita. Dia bukan keturunan ningrat, aristokrat, atau birokrat. Dia hanya pembuat mebel yang dulunya miskin. Pada masanya, sineas membuat film, Tokoh budayawan sekelas Goenawan Muhamad menjadi corong dari personality Jokowi dan sejarah akhirnya mencatat bahwa Jokowi berhasil memenangkan hati mayoritas masyarakat Indonesia.

Ini seperti fenomena gunung es, atau seperti bercermin, bahwa perilaku Pemimpin itulah gambaran dari perilaku masyarakat dan begitu pula sebaliknya, gambaran perilaku masyarakat adalah menjadi indikator dari perilaku pemimpin. Sehingga pemimpin yang memang berasal dari masyarakat haruslah mewakili gambaran perilaku masyarakat secara utuh. Fufufafa adalah akun anonim yang isinya memaki-maki, sinis dan “Julid”. Dia tidak sendiri, ada puluhan ribu bahkan mungkin ratusan ribu akun anonim yang isinya, cacian dan hinaan. Apakah memang begitu perilaku masyarakat kita? Mari kita sama-sama jujur melihat ke dalam diri lalu kemudian kita deklarasikan “Fufufafa adalah kita” ia adalah kalbu masyarakat tertindas, kalah dan tak mampu melawan atau ia adalah kalbu masyarakat yang “julid”, iri, dengki. Tapi apapun itu, Fufufafa telah mewakili gambaran perilaku masyarakat sesungguhnya. Kita hidup di dalam zaman yang kewarasan menjadi harga yang amat mahal.

Sejak 2014 hingga sekarang, sejatinya Tuhan sedang memberikan pesan kepada bangsa Indonesia bahwa pemimpin bukanlah manusia hebat ia sama seperti kita dalam berfikir dan bertindak, ia adalah manusia yang memliki kekurangan dan kelebihan, memiliki rasa iri, dengki, kadang bodoh. Pemimpin bukanlah ratu adil atau titisan dewa Wisnu dalam kisah Mahabrata dan Ramayana. Sudah sepatutnya kita menerima Fufufafa menjadi kesatuan sikap masyarakat yang utuh. Maka jika di tahun 2014 kita mendeklarasikan “Jokowi adalah Kita”. Beranikah di tahun 2024 ini kita mendeklarasikan “Fufufafa adalah kita”? Selamat menjadi Wakil Presiden Mas Gibran.

*)Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar