Prof. Soemitro Djojohadikoesoemo begawan ekonomi Indonesia adalah ayahanda Jenderal Prabowo lahir di Gombong dan pernah tinggal serta bersekolah di tempat yang sama dengan kakek saya Soemarto Mojotaruno, yang juga lahir dan besar di Gombong. Sebagai kota Pendidikan KNIL di masa lampau, Gombong memang cukup ramai dan lengkap fasilitasnya, Rumah sakit, Hotel, Sekolah, gedung pemerintahan, gereja dan komplek pecinan ada disana. Ini menandakan sudah terjadi aktivitas ekonomi yang sudah cukup signifikan disana. Sebagai bagian dari wilayah yang memiliki dialek banyumasan atau sering disebut “jawa ngapak”. Banyumasan yang dimaksud dalam tulisan ini adalah wilayah Brebes, Tegal, Purbalingga, Banjarnegara, Banyumas, Purwokerto, Cilacap dan Kebumen.
Karakteristik masyarakatnya adalah karakteristik petarung dan sedikit berbeda dengan mataraman yang lebih halus, lembut dan mampu berdiplomasi. Banyumasan cenderung keras, tegas dan mengambil opsi bertempur, sejarah sudah mencatatnya melalui Panglima Besar Jenderal Soedirman. Beberapa Jenderal juga lahir dari banyumasan seperti Letnan Jenderal Dading Kalbuadi, Jenderal Gatot Soebroto, Jenderal M Sarbini, Jenderal Soesilo Sudarman, Jenderal Gatot Nurmantyo, jika memasukkan Purworejo sebagai bagian dari Banyumasan maka bisa ditambah lagi Jenderal Ahmad Yani, Jenderal Oerip Soemoharjo dan Jenderal Sarwo Edhie. Nama-nama di atas semuanya adalah yang menyandang pangkat bintang 4, jika mau dihitung dari Brigadir Jenderal tentu akan sangat banyak.
Tidak heran mengapa Belanda menempatkan tangsi militernya dan sekolah KNIL di Gombong-Kebumen. Masyarakat Banyumasan terkenal dengan dialek bahasa jawa yang “ngapak”. Ada candaan di antara mereka yang mengatakan seperti ini “ora ngapak, ora kepenak”. Tangguh, tegas dan berani mengambil resiko, kira-kira seperti itu gambaran masyarakat Banyumasan, mirip sama Madura yang berada di timur pulau Jawa. Sebagai orang yang mewarisi darah “Gombong” khususnya dan Banyumasan umumnya, Jenderal Prabowo sudah memperlihatkan karakternya dari mulai pangkat Letnan dua di Kopassus hingga terakhir menjadi Menteri Pertahanan di era Presiden Jokowi. Dari 7 Presiden Republik Indonesia, maka Prabowo akan menjadi Presiden pertama dari karesidenan Banyumasan. Sejarah mencatat Bung Karno dan Gus Dur adalah orang dari pesisir utara di timur pulau Jawa, pak Harto dan Pak Jokowi dari mataraman. Pak SBY dari pesisir selatan jawa namun masih dalam wilayah mataram. Sedangkan bu Mega bolehlah kita kelompokkan bagian dari Bung Karno. Presiden Habibie, ibunya berdarah Jawa dan berasal dari Mataraman.
Dalam pemilu Presiden 2024 Prabowo berhasil menang dan dalam waktu 1 pekan ke depan, insyaAllah akan dilantik dan memimpin bangsa ini 5 tahun ke depan, untuk itu saya mencoba mengulas beberapa program kerja Prabowo dan sedikit menganalisa dari kacamata saya sebagai warga negara biasa.
- Mencabut subsidi BBM dan diganti dengan bantuan langsung kepada masyarakat miskin. Sampai dengan tahun 2023 total subsidi BBM yang digelontorkan pemerintah adalah senilai Rp. 160 Trilyun. Pada pelaksanaannya saya melihat subsidi BBM ini seringkali tidak tepat sasaran dan justru menguntungkan kelas menengah. Jika subsidi ini dialihkan menjadi stimulus generator ekonomi, rasanya akan tumbuh UKM dan Industri yang membuka lapangan kerja baru dan mampu memberdayakan masyarakat miskin menjadi memiliki nilai tambah dan pekerjaan.
- Program 3 juta unit rumah dan memisahkan pembiayaannya dari sistem moneter. Ini ide yang cukup smart menurut saya, karena ini menjadi stimulus ekonomi yang konkrit dan bahan bakunya 100 persen komponen lokal, hal ini akan meningkatkan banyak pekerjaan-pekerjaan baru dan membentuk supply chain raksasa. Tentunya ujungnya akan terjadi pertumbuhan ekonomi. Seperti yang disampaikan Prabowo, bahwa target pertumbuhan ekonomi di masa-nya ditargetkan 8%.
- Swasembada pangan dalam hal swasembada protein impor 1 juta bakalan sapi. Ini adalah tantangan besarnya, jika ini dilaksanakan tentu Indonesia bisa swasembada susu sapi. Saat ini, paling tidak, setiap tahunnya Indonesia mengimpor 4 juta ton susu sapi untuk memenuhi kebutuhan nasional. Sedangkan produksi dalam negeri hanya berkisar 900 ribu ton setiap tahunnya. Tentu program ini layak kita dukung, karena goals terbesarnya adalah menurunkan angka stunting sebagai syarat mutlak dari SDG’s (Sustainable Development Goals). Hal fundamental dari swasembada susu sapi ini tentulah ketersediaan pakan dan kemandirian pakan, jangan sampai kita memiliki sapi, namun pakan masih impor terus dari luar negeri. Jangan lupa untuk memperhatikan indikator-Indikator ESG (Environmental, Social Governance). Agar semakin dekat dengan keniscayaan menjadi negara maju dan Indonesia Emas 2045.
Ketiga catatan di atas adalah hal-hal penting yang menurut saya harus terus dikawal karena akan berdampak sangat signifikan terhadap perekonomian nasional. Terakhir, saya berharap dengan karakter banyumasan-nya Prabowo bisa membawa lagi Indonesia disegani minimal di kawasan Asia Tenggara. Selamat bertugas Jenderal Prabowo!
