Help me if you can

Oleh : Kurnia Fajar*

Cover album Help The Beatles

šŸŽ¶šŸŽ¶šŸŽ¶ Help me if you can, I’m feeling down
And I do appreciate you being ’round
Help me get my feet back on the ground
Won’t you please, please help me
In oh so many ways
(My independ-) my independence seems to vanish in the haze
(But) but every now and then (now and then)
I feel so insecure
(I know that I) I know that I just need you like
I’ve never done before šŸŽ¶šŸŽ¶šŸŽ¶

Sambil menyesap kopi panas, sayup-sayup terdengar lagu Help karya The Beatles yang rilis di tahun 1965, terpikir bahwa lagu ini sudah hampir berusia 60 Tahun, mungkin pemilik kedai kopi ini sangat menyukai The Beatles. Di sebelah meja tampak sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk asmara. Saling tersenyum. Dipandangi wajah perempuannya itu dengan teduh dan hangat. Jakarta di waktu senja yang tidak akan dilupakan oleh mereka. Saya terjebak di kedai ini menunggu datang gojek yang hendak mengantar saya pulang. Tak lama kemudian, datanglah pengemudinya. Saya membayar makanan dan kemudian mendekatinya.

Driver Gojek ini namanya Anshor. Perawakannya sedang, dan ramah. Dan ini adalah kisahnya. Anshor membuka percakapan. Saya merespon dengan memberikan patokan jalan, menyebut landmark yang dia seyogyanya tahu, Lewat Jalan Tb. Simatupang ya Pak? Saya tak meresponnya, kali ini. Dan mulai menebak asalnya, dari logatnya.
Kamu Jawa ya? Iya Pak. Jawa-nya dimana? Wonogiri pak. Sebelah mana? Saya di Jatisrono pak. Lalu sambil menghisap kretek, kami mulai bercakap-cakap. Orang tua Anshor mukim di desa Jatisrono, sekitar dua jam dari ibukota Wonogiri. Dia tinggal di Bantar Gebang, ngontrak, bersama adiknya yang masih SMA. Saya katakan padanya bahwa ayah saya juga asli dari Jatisrono, dia terkejut dan bertanya nama keluarga saya, ketika saya sebutkan nama soemowiyono dia makin terkejut, wah itu tokoh dan pernah menjadi kades pak. Kecepatan motor mulai dikurangi, salam kagem romo panjenengan pak. Bahasanya juga mulai berubah. Anshor kuliah di UI, Fakultas Hukum, semester ganjil. Lalu saya memaksanya singgah di warung kopi, makan indomie, dan ngobrol tapi Anshor menolak, tapi saya memaksa. Dia tak bisa mengelak. Adiknya adalah pemungut sampah di Bantar Gebang, sambil sekolah, Anshor berkata, semester ini dia mengambil cuti. Harusnya dia mengisi KRS tapi uangnya tak cukup.

Di UI ada dosen. Teman lama saya, sejak SMP. Anshor tak menimpali. Dia menyesap kopinya, selagi hangat Saya WA teman di UI: tolong telepon, penting. Setengah jam berlalu, tak berbalas, sudah contreng dua, warna biru. Saya ubah isi WA: telepon ya, penting, saya digebuki tentara, hampir mati. Dua menit berlalu dan ditelepon, begitulah Kita biasanya merespon kabar buruk. Saya ceritakan tentang Anshor, kemudian gagang telepon berpindah dan Anshor mulai bicara dengan teman saya. Sebelum menutup telepon, teman saya yang dosen itu berujar: kadang aku berharap kamu beneran digebukin tentara, katanya. Dan ya, dia berjanji akan membantu Anshor. Dulu kita berjuang dari sebuah sanggar pramuka, jualan makanan. Bahu-membahu. Sapapait-samamanis. Kenangan menetap. Begitu pula dengan moral-moralnya. Anshor menghirup dalam-dalam rokoknya, menghembuskannya seolah menepis batu besar di pundaknya. Dia tampak lebih rileks kini. Apa caraku membalas, kangmas? Saya cuma tersenyum. Saya mulai yakin, tiap-tiap kemungkinan, yang dimiliki oleh si A, si B, dan si C, adalah solusi untuk tiap-tiap masalah. Tiap-tiap pintu yang terbuka untuk Anshor, adalah tiap-tiap pintu yang kelak dibukakan Anshor untuk tiap-tiap orang lainnya.

Ini ada 150 ribu, kamu seratus, lima puluh buat bayar Indomie. Nanti saya jalan kaki saja, sudah dekat kok. Anshor menolak. Jangan Kangmas. Tapi saya memaksa. Hari ini saya tak dapat uang. Tapi besok saya dapat uang lagi, karena sholat Subuh. Tidakkah tiap-tiap sholat Subuh sudah dijaminkan rejeki? Lalu cemas atas apa? Cemas untuk apa? Anshor memelukku erat-erat. Dia sesunggukan. Mungkin dia ingat bapaknya, tempat dia diajar untuk tak mudah ditekuk dunia. Kelak dia menjadi sarjana hukum, menjadi pengacara, atau apa saja. Pilihan tersedia untuknya. Dia akan ingat bahwa tiap-tiap pintu yang terbuka selalu karena ada orang lain yg membukakan. Saya mengelus kepala Anshor, laksana kakak kepada adiknya. Kau harus sarjana, bawa ijazahmu ke Jatisrono. Pasti kangmas, katanya sumringah. Saya jalan kaki menuju apartemen. Menatap langit yang gelap. Menjentikkan sisa rokok. Kelak, akan ada yg membukakan pintu untukku, karena aku tahu cara KerjaMu. Usai Isya tadi, saya merenungi Anshor. Tiap-tiap orang berhak atas satu kesempatan, yang kita mampu membukakan jalannya. Tak harus menjadi Malaikat untuk bisa begitu. Anshor supriyadi namanya. Dia driver Gojek. Dan itulah kisahnya.

*)Gerilyawan Selatan

2 respons untuk ā€˜Help me if you can’

Tinggalkan Balasan ke Blogombal Batalkan balasan