Oleh : Kurnia Fajar*

Demikianlah petikan ucapan dari Colonel Hanibal Smith dalam film The A Team bahwa uang tidak dapat membeli nyali. Kemarin tanggal 20 oktober 2025 tepat sudah 1 Tahun Prabowo Soebianto dan Gibran Rakabuming Raka memimpin Bangsa ini, tentunya dengan segudang persoalan. Baik persoalan yang teknis operasional hingga persoalan-persoalan fundamental yang harus segera dicarikan jalan keluarnya atau bersikap untuk meninggalkannya. Mulai dari penegakan Hukum, Swasembada Pangan, pengelolaan Sumberdaya alam, Reformasi aparatur sipil Negara, perbaikan fungsi dan pengelolaan kepolisian dan TNI hingga menciptakan generator ekonomi agar rakyat Indonesia bisa bekerja dan menciptakan nilai tambah. Prabowo Soebianto dalam Rapim TNI Polri kemarin mengatakan “Kalau saudara berani memakai pangkat jenderal, artinya saudara harus yang pertama berani, memberi nyawa saudara untuk kepentingan bangsa dan negara.” Presiden terlihat menyindir para petinggi TNI dan Polri agar menjadi berani menegakkan amanah dan cita-cita konstitusi. Presiden ingin para Jenderalnya teguh dan konsisten dengan sumpahnya untuk berbakti kepada bangsa dan negara. Saya setuju, bagi saya Atribut Bintang di pundak dengan sebutan Jenderal itu ibarat Harimau atau singa sebagai rantai makanan tertinggi di dalam hutan, sehingga dijuluki Raja Hutan. Singa yang mengaum dan menggentarkan hati lawannya. Namun Singa dan Harimau juga bisa dikalahkan, ditangkap dan diminta melakukan sesuatu, ya kira-kira mirip dengan Singa dan Harimau dalam pertunjukan sirkus. Apakah Jenderal ini akan mengaum seperti Singa di hutan atau hanya mampu berparade seperti anak TK pada karnaval hari kemerdekaan? Yang senang tampil gagah-gagahan dan kemudian diposting dalam sosial media?
Biarlah hati nurani para jenderal itu yang berbicara. Biarkan waktu yang menilainya. Presiden Prabowo yang seorang cah Banyumasan memahami dignity itu. Coba perhatikan di ruang kerja pribadinya, di belakang meja kerjanya Prabowo menggantung foto Jenderal Soedirman Panglima besar kita yang memang pantas dijadikan role model untuk masalah nyali. Di saat para politisi memilih untuk ko-operative dengan kerajaan Belanda, Jenderal Soedirman memilih gerilya untuk melawan, usianya baru awal 30 tahun ketika itu terjadi. Sebuah sikap yang sangat langka di hari-hari ini. Di lain kesempatan, Prabowo juga menggantung lukisan Pangeran Diponegoro. Sejarah juga membuktikan bahwa urusan nyali diponegoro memang tiada duanya. Lima tahun melawan Belanda dan mengakibatkan kekosongan kas pemerintah Gubernur Jenderal Belanda Markus De Kock. Sampai frustrasi dan melanggar kode etik perundingan. Diponegoro dan Sudirman adalah contoh sejarah yang mencatat bangsa ini memiliki orang yang memiliki nyali dan integritas. Teladan tokoh ini sudah masuk ke dalam alam bawah sadar Prabowo, sehingga fotonya selalu hadir di tempat strategis dan di hatinya. Kembali ke dalam catatan 1 tahun pemerintahannya, saya memberikan catatan sebagai berikut :
Amanat konstitusi untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sejak Indonesia merdeka dan dipimpin oleh 8 Presiden telah terjadi pengurangan nilai kedaulatan bangsa, salah satu indikator adalah mata uang rupiah. Pada saat Indonesia merdeka 1 USD sama dengan 9 Rupiah. Kemudian ditegaskan dalam UUD 1945 pasal 23 ayat 3 dan dilanjutkan dengan UU 17 tahun 1946 yang isinya bahwa 10 Rupiah sama dengan 0,5 gram emas. Ini artinya 1 rupiah sama dengan 0,05 gram atau jika dikonversi dengan rupiah hari ini sama dengan 80.000 rupiah. Setidaknya itulah pengurangan nilai rupiah sejak awal kemerdekaan hingga hari ini. Artinya turun nilai kedaulatan dan juga nilai tawar bangsa ini dalam percaturan ekonomi dunia. Kemudian indikator yang kedua adalah gini ratio yang menjadi ukuran untuk mengukur tingkat ketimpangan pendapatan antar penduduk suatu wilayah. Nilai Gini ratio berkisar antara 0 hingga 1. Nilai Gini ratio yang mendekati 1 menunjukkan ketimpangan pendapatan yang tinggi
Nilai Gini ratio yang mendekati 0 menunjukkan ketimpangan pendapatan yang rendah. Pada bulan Maret 2024 Gini ratio sebesar 0,379, sedangkan pada September 2024 sebesar 0,381. Dari angkanya sih tidak terlalu mengkhawatirkan namun jika dihitung kepemilikan aset dan harta maka akan terasa tinggi ketimpangan itu. 87% uang dikuasai oleh hanya 1% penduduk. Sisanya 13% uang dikuasai oleh 99% penduduk. Perhatikan begitu timpangnya jurang dan distribusi kekayaan. Kebijakan tidak berpihak kepada masyarakat yang besar. Kira-kira begitulah cara membacanya.
Bagaimana mewujudkan cita-cita Republik dan para pendiri bangsa? Bagaimana mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia? Presiden sebagai nahkoda tentu yang terdepan dan bertanggung jawab atas ini semua. Mandat sudah dititipkan oleh rakyat. Mampukah Jenderal Prabowo mewujudkannya? Jawabannya : apakah Prabowo cukup memiliki nyali untuk melawan musuh-musuh Republik. Feodalisme, Primordialisme, dan Imperialisme. Nyali itu tumbuh dari dalam diri. Ia tak bisa sembunyi. Ia hadir dari perjalanan hidup yang panjang. Dan ia lahir dari dalam kesadaran diri sebagai jawaban atas kemanusiaan. Sebanyak apapun harta, kekuasaan dan uang anda tidak akan mampu membeli nyali! Saya berdoa semoga pak Prabowo menjadi Jenderal yang memiliki nyali besar untuk membawa keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Merdeka! Tabik!
*)Gerilyawan Selatan, Pengamat Ikan di dalam kolam