Vivere Pericoloso

Oleh : Kurnia Fajar*

Vivere pericoloso adalah frasa dalam bahasa Italia yang berarti “hidup penuh bahaya” atau “hidup yang menyerempet bahaya”. Frasa ini pernah digunakan oleh Presiden Soekarno dalam pidatonya pada tahun 1964. Vivere pericoloso berasal dari kata vivere yang berarti “hidup” dan pericoloso yang berarti “berbahaya”.  Pidato Soekarno yang berjudul Tahun Vivere Pericoloso disampaikan pada 17 Agustus 1964 di Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Setiap manusia yang bertarung akan mengalami pasang surut. Kadang menang dan kadang kalah. Menuju kalah biasanya kita masuk ke dalam Vivere Pericoloso yakni hidup dalam tahun-tahun penuh bahaya. Covid 19 adalah contohnya. Berapa ribu keluarga tumbang, ambruk dihantam covid. Yang kehilangan nyawa, kehilangan pekerjaan, kehilangan harga diri dan hidupnya. Mari sebentar saya kisahkan; hal-hal yang tidak tinggi-tinggi. Yang tidak ndakik-ndakik. Yang sepi. Tentang mereka yang ambruk, rapuh, kusut dan masai. Tentang sebuah tempat; yg darinya kita pergi dan kepadanya kita selalu rindu kembali. Tentang dia yang tangannya selalu terbuka senyumnya selalu mengembang. Tentang bab yg tak pernah tuntas kita baca: Keluarga, Ibu, Istri, Anak-anak dan atau dengan nama apapun mereka menyebutnya cinta.

Mereka yang kalah selalu punya kisah pilu. Ada yang sakit, tak punya biaya. Ada yang meninggal, tak punya biaya. Ada yang anaknya putus sekolah tak punya biaya. Kita tiwikrama menjadi monster, dan angkuh. Menolong yang tidak susah itu mudah. Menolong yang tak berpunya, ini menjadi tugas siapa? Siapa yang mau menjadi orang kalah, sih? Apa yang direnggut dari orang kalah? Ya benar! Harapan. Di sebuah lokasi yang bukan di Jakarta, di sebuah tempat yg dilembutkan dengan sebutan hotel prodeo, yang sumpek, banal dan bau bacin. Yang direnggut penjara adalah harapan. Tatapan kosong yang bingung, helaan napas yang berat, seolah tiap-tiap pertanyaan tak pernah mendapatkan jawaban: apa arti esok? Seorang anak, sekitar 17an tahun, makan cepat-cepat, didampingi ibunya yang pakai stagen lusuh. Seorang ibu, yang gamang menatap anaknya. Nun di pojok sana, seorang bapak tua yang lusuh dan dikalahkan dunia, pelan-pelan matanya basah: bapak gak kuat lagi Le, kamu yang harus kuat. Seorang anak kecil, meronta sejadinya demi mengetahui bapaknya belum boleh pulang. Hatinya remuk redam. Dedek kangen bapak, katanya terisak. Anak kecil dengan batu besar di pundaknya. Tiap menit menjadi asing, kikuk, dan tak tahu harus ngomong apa. Kita toh tak bertanya apa kabar kepada tahanan. Saya tahu apa rasanya kalah, tahu apa rasanya hampir tenggelam, semua pintu seperti tertutup. Tapi selalu ada keluarga, dan ada Tuhan tempat masalahmu diselesaikan.

Dalam Al-qur’an Tuhan berjanji penuh melalui surat Ad-Dhuha ayat 1 sampai 5 : Demi waktu Dhuha dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkan engkau (Muhammad) dan tidak (pula) membencimu. Sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu dari yang permulaan. Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas. Vivere pericoloso mengajarkan Zuhud kepada kita karena hidup tak selalu menyediakan jawaban. Kita, saya dan kamu hanya bisa bertanya kepada para wali, membuka kitab sambil memeriksa apakah pertanyaan kita sudah benar. Kita sudah sambangi para aulia, sudah tertatih-tatih. Namun jawabannya selalu sama. Sabarlah. Zuhudlah engkau, sambil mbuh piye carane cuk! Setiap saat mencari makna sabar tapi teu manggih wae. Tapi jika ia mudah, bukankah sabar menjadi tak punya harga? Selalu ada cahaya di ujung lorong gelap. Kewajiban diri adalah menghidupkan harapan. Siapa? Ya itu, Keluarga! Dan mereka yang kamu cintai. Pemilik kehidupan sudah berfirman :  hasil itu urusanKU. Urusanmu ya ikhtiar. Maka bila malam ini ikhtiar kita belum diberikan, jangan resah. Justru kalau diberikan semua kita wajib cemas. Seperti Rajawali yang tahu makna tinggi langit. pernahkah kita belajar makna dasar samudera? Di bawah, rendah, tapi sumber kehidupan. Seberapa cukup adalah cukup? Kita toh tidak mati karena susah. Kita hanya sedang tidak cukup. Dan itu cukup. Lalu jika keadaan tidak berubah? Mungkin ekspektasi yang harus kita turunkan. Begitulah, hidup kadang membingungkan seperti labirin. Tapi sudah disiapkan lima waktu supaya jangan bingung. Vivere Pericoloso juga mengajarkan Tawadhu yaitu jalan terjal yang sempit dan licin. Tapi bukankah dengan begitulah pak supir selalu awas. Pertarungan paling berat, yang tidak semua orang bisa menang, diserahkan kepada prajurit paling tangguh. Dan kita menyebutnya tawadhu. Terakhir, mari kita dengarkan lagunya Barry Manilow di tahun 1977 sambil mengingat jutaan nikmatNYA.

🎶🎶You know I Can’t Smile Without You,
I Can’t Smile Without You,
I can’t laugh
and I can’t sing,
I’m findin’ it hard to do anything.
You see, I feel sad when you’re sad,
I feel glad when you’re glad,
If You only knew what I’m go ing through,
I just Can’t Smile Without You. 🎶🎶

*)Gerilyawan Selatan, Pengamat Ikan di dalam kolam

Tinggalkan komentar