
Sepakat nggak sih kalau stalking media sosial itu bisa berpengaruh banget ke hidup kita? Misalnya, cek WhatsApp, Instagram, atau Twitter/X orang terus-terusan. Mungkin orang yang kita stalk nggak peduli sama sekali, tapi kita merasa sangat terhubung sama mereka.
Padahal, bisa jadi itu cuma ilusi. Kita malah merasa kalau hidup kita terpengaruh sama apa yang kita lihat di media sosial mereka, padahal nggak ada interaksi nyata di sana. Nah, kenapa sih ini bisa bahaya? Pertama, media sosial itu nggak selalu menggambarkan kenyataan yang utuh. Kadang, kita cuma lihat sisi terbaik dari hidup seseorang yang mereka tampilkan. Tanpa kita sadar, itu bisa bikin kita merasa kurang, merasa hidup kita nggak seberwarna mereka, dan itu akhirnya bisa mempengaruhi perasaan kita. Makin sering kita melihatnya, makin terperangkap kita dalam perasaan iri, cemas, atau bahkan merasa nggak cukup baik. Semua itu bikin stres, loh. Jadi, meskipun nggak ada interaksi langsung, perasaan ini bisa benar-benar mempengaruhi hidup kita. Terus, kalau kita merasa “terhubung” sama orang yang kita stalk meskipun nggak ada hubungan nyata, itu juga bisa jadi masalah.
Bisa jadi kita terlalu terikat sama gambaran kehidupan orang tersebut yang kita lihat, lalu kita mulai berangan-angan atau berharap, padahal nggak ada dasar nyata untuk itu. Di sinilah bahaya utamanya:
kita terjebak dalam ilusi, dalam perasaan yang nggak pernah bisa kita wujudkan. Ini juga udah dibahas dalam buku The Shallows: What the Internet Is Doing to Our Brains oleh Nicholas Carr, yang bilang kalau kebiasaan cek media sosial itu bisa merusak cara kita berpikir. Kita jadi lebih sering mencari “reward” cepat, seperti like atau komen, yang bikin otak kita terus-terusan terpicu buat terus mengecek. Ini bikin kita kehilangan kemampuan untuk fokus pada hal-hal yang lebih penting dalam hidup kita. Itu kenapa kita jadi makin sulit buat move on dari perasaan yang nggak jelas ini. Terus, di buku Reclaiming Conversation karya Sherry Turkle juga dijelasin bahwa media sosial itu bisa membuat hubungan kita jadi semakin superfisial. Kita merasa terhubung, tapi yang kita lakukan cuma melihat kehidupan orang lain dari layar.
Padahal, kualitas hubungan yang nyata itu bukan cuma soal berapa banyak kita ngecek postingan orang, tapi gimana kita bisa benar-benar terhubung dalam dunia nyata. Gini juga, seiring berjalannya waktu, stalking bisa mulai berubah jadi kebiasaan yang bikin kita terasing dari dunia nyata.
Kita jadi lebih sering ngecek kehidupan orang lain daripada menikmati waktu di sekitar kita. Misalnya, daripada ngobrol sama temen atau keluarga, kita malah lebih suka diem-diem ngescroll Instagram mereka. Padahal, itu nggak akan ninggalin dampak positif ke kita, justru bisa bikin kita makin merasa sendiri dan terasing, padahal banyak orang yang pengen terhubung sama kita.
Itu kenapa lebih baik fokus pada hubungan yang nyata dan mendalam, daripada ngehabisin waktu di dunia maya yang sering kali nggak nyambung. Jadi, gimana caranya supaya kita nggak terjebak dalam siklus stalking ini?
Pertama, coba introspeksi diri: kenapa kita merasa perlu banget ngecek kehidupan orang lain? Apa yang sebenarnya kita cari di sana? Kadang, kita menggunakan media sosial sebagai pelarian dari masalah atau perasaan kita sendiri. Nah, mulai sekarang, coba batasi waktu yang kita habiskan buat lihat-lihat di media sosial dan lebih fokus pada diri sendiri. Cari hal-hal yang bener-bener bisa bikin kita merasa baik dan produktif. Kalau merasa kesulitan atau perasaan ini mulai ngganggu banget, jangan ragu untuk cari bantuan. Bisa dengan bicara sama teman, atau bahkan profesional, untuk bantu kita lebih paham dan mengelola perasaan kita.
Ingat, dunia nyata jauh lebih kaya dan berarti daripada apa yang kita lihat di media sosial. Jangan biarkan diri kita terus terjebak dalam dunia maya yang nggak bener-bener menggambarkan siapa kita. Kuncinya: berhenti stalking, deh! Fokuslah pada kehidupanmu sendiri dan apa yang bisa kamu lakukan untuk diri sendiri. Jangan buang-buang waktu terlalu banyak untuk hal-hal yang nggak jelas. Kamu lebih dari sekadar apa yang kamu lihat di layar. Jangan lupa juga, kalau kamu merasa nyaman buat ngikutin kehidupan orang di media sosial, pastikan itu nggak ngubah cara kamu melihat diri sendiri. Jangan sampai perasaan yang muncul dari stalking justru mengarah ke kebiasaan buruk seperti perbandingan sosial yang bikin kita selalu merasa nggak cukup.
Kalau bisa, lebih baik kita semua punya kendali penuh atas apa yang kita lihat dan bagaimana kita meresponnya. Jangan sampai terlalu banyak waktu habis buat hal yang cuma jadi gangguan di mental kita. Stalking mungkin terlihat sepele, tapi kalau udah sering banget dan ngaruh ke perasaan kita, bisa jadi racun yang lama-lama bikin kita terperangkap dalam perasaan negatif.
Jadi, daripada ngehabisin waktu untuk scroll terus, coba deh ambil waktu untuk fokus ke diri sendiri, explore hal-hal yang bener-bener kamu nikmati di dunia nyata. Dunia maya bukan tempat untuk menentukan siapa kita.