Puisi Qurban
Kumandang takbir bertalu-talu
Tiga juta jemaah sujud berzikir di arafah
Jutaan hewan qurban menanti disembelih
Mengapa KAU perintahkan kami tuk memotong hewan?
Padahal memegang pisau saja kami gemetar,
Kemarin Baru saja teman kami buat petisi, hentikan sirkus keliling, perbuatan biadab terhadap lumba-lumba.
Teman kami yang lain buat petisi juga
Selamatkan orang utan!
Hewan harus dirawat, dijaga, dihormati.
Mengapa KAU perintahkan kami tuk memotong hewan?
Bukankah ini prilaku sadis?
Ditonton anak2 kami, bukankah ini sebuah kampanye kekerasan?
Penggiat HAM akan menuntut prilaku ini
Ibrahim bermimpi, KAU suruh penggal putranya.
Ibrahim cinta padaMU, ia turuti mimpinya.
KAU balas cinta ibrahim, dengan mengganti dengan seekor kambing
Itulah Qurban, ketaatan total padaMU
Ketaatan total haruslah melebihi cinta kita pada dunia, pada istri-istri, pada harta.
Kami TAAT padamu ya Alloh
Mengapa KAU perintahkan kami tuk memotong hewan?
Kapan lagi kita membagikan daging pada sesama?
Kesalehan sosial pada perayaan qurban tak tertandingi!
Selamat memaknai Iedul Qurban, semoga menjadi inspirasi keimanan, kesyukuran, ketaatan, kebersamaan, kesetaraan dan kecintaan kepada sesama.
Jogja, 24 September 2015
Kurnia Fajar
BIsmiLLAH……
Sekian milenium sudah. Peristiwa ‘sakramen’ : Bapak -DiPerintah TUHAN untuk- menyembelih anaknya, dimonumentalkan secara tradisi sebagai Idul Qurban. Itulah Nabi Ibrohim ‘AlayHis Salaam yang DiUji untuk menyembelih anaknya, yakni Nabi Isma’il ‘AlayHis Salaam. Hampir semua pengaku-pelaku Ajaran Islam dalam Ritual Qurban ( menyembelih hewan kurban ) pada setiap Idul Adha, mengidentifikasikan dirinya sebagai Nabi Ibrohim ‘AS sebagai ‘Bapak yang akan menyembelih anaknya‘. Sedangkan Hiqmah dari peristiwa yang sama yakni ‘anak yang akan disembelih bapaknya‘ jarang yang mengidentifikasikan diri yakni menjadi ( mengambil posisi ) Nabi Isma’il ‘AS. 2 Hiqmah musti hadir dari peristiwa tersebut. Dihadapan TUHAN, Nabi Ibrohim ‘AS musti membuktikan keTaatannya. Sedangkan Nabi Isma’il ‘AS adalah pihak yang memunculkan keShobarannya. Transformasi Nilai itu pada kehidupan sehari hari barangkali adalah: kita musti siap menjadi Ibrohim yang Taat manakala dihadapkan pada Perintah TUHAN yang dalam pelaksanaannya mesti mengorbankan apa yang kita cintai. Sedangkan menjadi Nabi Isma’il ‘AS adalah, musti berShobar dalam menghadapi Ujian ( kenyataan ) yang mengancam. Pedang terhunus di tangan Nabi Ibrohim ‘AS adalah ancaman kematian bagi Nabi Isma’il ‘AS. Maka, setiap Mukmin-Muslim dalam perjalanan hidupnya apabila mengalami-menghadapi ancaman kematian ( QodaruLLAH ), baik ancaman kematian biologis maupun ancaman kematian lainnya ( eksistensi ) ; karir, jabatan, status sosial, ekonomi, budaya dsb…hendaknya berlaku Shobar sebagaimana Nabi Isma’il ‘AS. Karena ancaman tersebut boleh jadi adalah ujian yang belum tentu dieksekusikan. Sebagaimana akhir dari peristiwa penyembelihan yang DIPerankan oleh Nabi Ibrohim ‘AS dan Nabi Isma;il ‘AS. Perjodohan antara KeTaatan dan KeShobaran ( oleh Bapak dan Anak ) sebagai Amalan, memenuhi Syarat untuk TUHAN membatalkan acara penyembelihan. Dan itu saya fahami sebagai skenario SANG MAHA SUTRADARA. Karena TUHAN BerKeHendak mengAjarkan KeTaatan bukan kejahatan. MengAjarkan KeShobaran bukan kebarbaran… Para Mukminin-Muslimin bisa mendapatkan 2 Hiqmah untuk diAmalkan dari peristiwa Nabi Ibrohim ‘AS dan Nabi Isma’il ‘AS yg di ritualkan sebagai penyembelihan hewan qurban pada setiap Iedul Adha. Bisa menjadi Ibrohim yang Taat, atau mejnjadi Isma’il yang Shobar. Bahkan bilamana kita bisa mengamalkan keduanya pada saat mensikapi Ujian TUHAN, maka ancaman dari kehilangan sesuatu yang kita ( sangat ) cintai bisa batal terjadi… terlebih TUHAN juga Siapkan BonusNYA bagi kita, entah ‘domba‘ atau ‘biri biri‘… InSyaALLAH……
Salaam……
SukaSuka