Titik keseimbangan baru ekonomi dunia

Oleh : Kurnia Fajar*

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sudah mengumumkan kebijakan tarif kepada semua produk impor AS. Indonesia kebagian 32% pada tanggal 2 April 2025. Dilansir dari majalah tempo. Tarif tersebut bakal menekan ekspor Indonesia ke Amerika. Padahal Negeri paman Sam merupakan negara tujuan ekspor utama kedua terbesar produk-produk Indonesia. Kebijakan Trump tersebut bakal membuat industri tekstil, Udang dan Ikan Indonesia, yang produknya banyak diekspor ke Amerika, makin terpukul. Sebagai ekonom amatir saya ingin mengupas kebijakan Trump ini dari kacamata saya. Pertama kebijakan ini mungkin saja ingin mengembalikan industri manufaktur kembali ke Amerika. Karena setahu saya, banyak perusahaan-perusahaan amerika yang memiliki pabrik pengolahan atau pembuatan di luar Amerika karena alasan lebih murah dan lebih efisien. Dengan adanya tariff tersebut akan membuat para pengusaha Amerika Serikat tersebut untuk berpikir ulang dan mengembalikan pabriknya ke amerika. Itu jika para industrialis kembali ke Amerika. Namun jika tidak, kebijakan ini pada akhirnya akan menjadi beban bagi para konsumen di Amerika. Importir mungkin mudah saja menaikkan harga, dan jika tidak ada produk substitusinya di Amerika maka mau tidak mau, rakyat amerika lah yang akan jadi korbam dari kebijakan ini.

Pemerintah amerika serikat mendapatkan benefit pendapatan dari meningkatnya tariff bea masuk ini. Pendapatan negara meningkat. Tarif ini diperkirakan akan menghasilkan $600 miliar bagi perekonomian AS, dalam bentuk peningkatan jumlah biaya yang harus dikeluarkan orang Amerika untuk membeli barang-barang. Hal yang paling crazy tentang tarif adalah bahwa tarif tersebut sebenarnya merupakan pajak regresif, yang berarti bahwa sebagian besar beban pajak dirasakan oleh masyarakat berpenghasilan rendah dibandingkan pajak progresif dimana semakin banyak uang yang Anda miliki, semakin banyak pula pajak yang Anda bayar. Per hari ini beragam harga barang di mal mal amerika serikat sudah naik 30% s.d. 50%. Yang menanggung kenaikan biaya tariff ini pada akhirnya adalah konsumen amerika sendiri. Terutama kelas menengah bawah. Trump turunkan pajak orang kaya dan bilioner. Tapi rakyat jelita eh jelata amerika yang terus diperas. Dulu, Indonesia, Vietnam, India dan China dalam tanda kutip dipaksa mengembangkan industri tekstil karena industri ini merusak lingkungan. Jika ekspor tekstil kita berhenti dengan adanya kebijakan tariff ini maka kemungkinan amerika akan mengembalikan industri tekstilnya ke dalam negeri. Kita lihat saja. Trump mungkim lupa konsep comparative advantage of nation by David Ricardo bahwa jauh lebih murah import barang karena kamu tidak memiliki keunggulan komparatif dalam bidang tersebut.

Nah bagaimana skenario lain? Saya katakan bahwa bagaimana caranya kita bisa mengisolasi amerika kembali. Ya karena secara alamiah negara manapun yang terkena imbas akan mencari solusi dan memikirkan strategi baru. Bisa mencari market yang baru atau menciptakan market baru. Disinilah serunya ekonomi. Pada saat tulisan ini dibuat saya membaca di platform X cuitan Presiden Prancis yang baru saja berbicara dengan Presiden Prabowo. Dan yang lebih seru, ia menggunakan bahasa Indonesia dalam cuitannya. Artinya uni Eropa sudah kuda-kuda dengan kebijakan tariff Trump. Itu yg dilakukan oleh uni eropa. Mereka mulai terbuka negosiasi perdagangan. Indonesia dari dulu terhalang ekspor sawit dimana uni Eropa ingin melindungi produsen minyak nabatinya tetapi uni eropa berdalih bahwa sawit kita merusak hutan dan lingkungan. Nah uni Eropa sekarang butuh pasar, kita juga. Maka dialog-djalog yang mandeg itu bisa dibuka lagi. Kemungkinan skenario lain adalah dunia menemukan keseimbangan baru. Tanpa amerika serikat sebagai pusat perdagangan. Sesuai hukum ekonomi. Semua itu akan kembali kepada titik keseimbangan. Entah nantinya akan seperti apa, ini akan sangat dinamis.

Bagi negara-negara yang dikenakan Tarif, sebenarnya kan mudah, seperti Indonesia kan tinggal Boikot saja Produk Amerika (negara ini tidak bergantung hidupnya dari Import Amerika) mobil? Ford sudah pergi dari Indonesia karena tidak mampu bersaing dengan produk jepang dan korea selatan. Saya merasa Trump itu masih terjebak romantisme masa lalu. Trump hidup dimana “The US is a manufacturing powerhouse”. Trump yang partai Republik serta industrialis ingin mengembalikan itu. Setidaknya mengalahkan dominasi Jerman dan eropa di pasar otomotifnya. Trump ingin supaya pabrik mobil Jerman pindah ke Amerika dan menciptakan lapangan kerja di AS. Namun Trump lupa bahwa kebijakannya akan dibalas dengan perilaku yang sama dari negara yang dikenakan tariff. China misalnya sore tadi sudah mengenakan tariff untuk barang-barang Amerika yang masuk China. Lalu bagaimana dengan kita? Mari kita saksikan perang dagang ini ditengah terpaan naiknya kurs US Dollar yang merangsek ke angka 17ribu. Jika ada uang silakan berinvestasi dalam emas. Jika tidak ada uang, saatnya berinvestasi dalam iman dan takwa kepada sang maha pemilik kehidupan. Tetap semangat. Tabik!

*)Gerilyawan selatan

Tinggalkan komentar