Derita Palestina dan kelemahan kita

Saat tulisan ini ditulis, warga Gaza, Rafah, West Bank dan semua belahan palestina dalam kondisi kelelahan, kelaparan dan terjepit. Sejak Idul Fitri hari pertama Israel terus menerus membunuhi anak-anak dan balita. Tidak perduli Rumah sakit dan kamp pengungsian, semuanya dihantam oleh senjata-senjata Israel. Saya menulis ini karena saya melihat kita sedang asyik lebaran dan menikmati penganan lebaran. Padahal di sana, jangankan lebaran. Roti gandum pun kini sudah hilang dari pasaran. Genosida yang terjadi di Palestina sudah tahap keterlaluam. Sudah tidak bisa rasanya hidup normal dengan kondisi seperti saat ini. Saya ingin melawan. Ya Rabb.

Hina. Hina banget keadaan kita. Sama sekali tidak berkutik saat Rafah jadi zona merah dan tak ada keamanan satu milimeter pun di sana. Rafah yang dulu kita semua teriak “all eyes on Rafah” itu. Yang dekat perbatasan Mesir. Bahkan untuk membuka gerbang saja kita tidak mampu. Di Gaza sekarang sudah tidak ada lagi pabrik roti beroperasi. Kelaparan begitu ngeri. Idul Fitri ini, mereka masih puasa: tanpa sahur dan buka. Dan kita ini seperti seorang yang melihat saudara-saudaranya disembelih di depan matanya. Dan kita terikat. Dipaksa melihat. “Hari ini, setelah penutupan toko roti karena kekurangan tepung, harga satu kantong tepung melonjak menjadi 600 shekel (160 dolar)”, kata Omar Muhammad Al Uthl warga Gaza. “…dan besok harganya akan berlipat ganda, kemudian akan terus naik lebih tinggi hingga 1000 dolar…” “Kita tidak mendekati kelaparan, tetapi kita sudah berada di dalamnya. Kelaparan mengetuk pintu, dan dalam waktu dekat akan menerobos masuk ke rumah tanpa izin.” Idul Fitri 1446 Hijriah. Episode umat ini semakin tidak baik-baik saja. Semakin pilu, saat diam-diam kita diam. Kau tahu? Nabi menggambarkan sebagian kecil umatnya yang berjuang di sekitar Baitul Maqdis, “tidak akan merugikan mereka, siapapun yang mengecewakan mereka.” Kenapa Nabi menggunakan kata “mengecewakan”? Karena kekecewaan datang dari orang yang kau anggap akan menolongmu.

Kalau kita melihat perkara Masjid Al Aqsha dan Palestina dengan kacamata circle of concern saja mungkin kita akan bingung harus berbuat apa. Berbeda kalau kita jadikan dalam circle of influence dan circle of control; dimana aksi-aksi kecil sederhana mampu menjaga kewarasan kita. Circle of Concern adalah Hal yang kita pedulikan, tapi belum tentu bisa kita ubah. Kemudian Circle of Influence adalah Hal yang bisa kita pengaruhi langsung. Sedangkan Circle of Control adalah Hal yang sepenuhnya dalam kendali kita. Fokus pada yang bisa dikontrol dan dipengaruhi, bukan hanya dikhawatirkan! Dalam hal memberi pengaruh, ada hal-hal yang bisa lakukan seperti membentuk opini orang di sekitar lewat diskusi, mendorong media untuk lebih adil, atau berkontribusi pada gerakan solidaritas. Meskipun tidak mengendalikan hasilnya, upaya ini tetap punya dampak menjaga awareness. Adapun dalam circle of control kita: ada hal-hal yang bisa kita kendalikan langsung, seperti memilih sumber informasi yang benar, stay educated, istiqomah memboikot, berkontribusi dana ke lembagaterpercaya. Setiap langkah kecil ini, ada dalam kontrol kita. Demi jaga kewarasan. Saya menulis ini buat diri saya sendiri sebenernya. Yang merasa bersalah dengan apa yang terjadi di Gaza dan bangsa kita, tapi apa daya saya bukan orang yang pegang kendali kuasa. Untuk menjaga kewarasan saya, inilah jalan yang saya tempuh: melakukan yang saya bisa.

Salah satu kalimat dari Jurnalis Palestina yang membuat saya terdiam beberapa lama, “Laa ta’taaduu..” Artinya, “jangan mulai terbiasa”, singkat tapi maknanya pedih. Jangan mulai merasa biasa melihat pembantaian yang masih terjadi. Karena naasnya, sebagian kita mulai terbiasa. “Pembantaian masih berlanjut, dan perang belum berakhir.” Ratusan hari sudah Badai Al Aqsha berjalan. Saya tulis ini sebagai pengingat saya sendiri dan teman-teman. Jumlah syuhada melebihi 40 ribu. Semoga Allah mengampuni kita ketika tertawa terbahak ketika ada darah muslim tumpah. Pejuang di sana tidak menyeru agar kita datang dan turun langsung di medan perang. Mereka seakan punya satu saja pesan buat kita yang jauh di sini: jangan lupa. Jangan teralihkan. Mereka ingin bangunkan dunia dari tidur panjang. Jangan sampai sia-sia hanya karena kita lupa. Mungkin ada yang bertanya, “gimana caranya membantu dari jauh? Kita seakan ga bisa apa-apa…” Maka lakukanlah sebagaimana Shalahuddin lakukan untuk bebasnya Al Aqsha: apapun profesinya, ilmui agama ini, pahami pentingnya Al Aqsha sambungkan potensi kita untuk kebaikan umat.

Tinggalkan komentar