Oleh : Kurnia Fajar*

Dalam hidup, berkali-kali kita bikin salah. Berkali-kali pula kita sampaikan maaf sampai satu titik kata maaf itu tidak lagi berlaku. Di usia menjelang senja ini, apa sih sisa dari hidup kita? Anak-anak dan istrilah sejatinya harta kita. Barangkali, satu-satunya hak milik berharga yang melekat ke diri adalah reputasi diri atau nama baik. Untuk hal itu pun saat ini saya sudah tidak memilikinya. Katanya orang-orang begini. “Hidup itu tentang belajar, gagal, dan bangkit lagi.” Hidup adalah perjalanan belajar tanpa akhir,kadang kita melukai,kadang kita terluka. Semua orang pernah salah langkah, keliru mengambil keputusan, atau gagal memahami sudut pandang orang lain. Katanya setiap orang bisa mulai dari awal lagi di usia berapapun. Berapa banyak beban di pundak sebagai seorang laki-laki, sebagai anak, sebagai suami, sebagai ayah dan sebagai pemimpin. Suatu ketika kawan saya bertutur “ada loh laki-laki yang gagal memainkan seluruh peran dalam hidupnya, gagal jadi anak, gagal jadi pasangan, dan gagal jadi ayah. Saya tidak mempercayainya. Namun ketika terjadi pada diri saya, akhirnya saya mempercayainya. Misal : Ilmu parenting dari seorang ayah membangun komunikasi dalam mengelola emosi anaknya yang bijak bisa menumbuhkan bibit pribadi yang lebih bertanggungjawab untuk masa depannya. Jika tidak mampu berkomunikasi dengan anak bagaimana bisa membantunya mengelola emosi? Titik terendah itu adalah ketika sorang ayah tidak tahu apa-apa tentang anaknya.
Di universe yang lain, barangkali saya adalah Tom Lembong, sama-sama di kriminalisasi karena jabatan. Disuruh cari sumber keuangan kemudian diperas oleh kekuasaan untuk membiayai kekuasaan. Saya tidak pernah merasakan uangnya. Bahkan ketika saya “dikorbankan”. Anak-anak, Istri dan keluarga saya harus menanggung beban dalam sisa hidupnya. Tidak hanya keluarga, ada dua kawan dekat saya juga ikut menderita akibat ulah saya ini. Artinya keluarganya juga ikut menderita. Bukti konkrit saya tidak pernah menerima uangnya adalah suatu kenyataan bahwa saat ini untuk menyekolahkan anak-anak saja saya tidak mampu. Anak-anak bertahan bisa sekolah hanya atas kebaikan satu dua orang kawan saja dan kemampuan istri saya bertahan hidup meski setiap hari harus diteror dengan debt collector pinjol. Selain oleh kekuasaan, saya juga dipecundangi oleh kawan seiring. Teman masa SMA. Kolega dan partner bisnis yang wanprestasi kepada saya. Betapa nasib ini benar-benar memukul harga diri dan martabat saya. Peristiwa pengkhianatan dan juga tipu daya telah saya terima. Kepada mereka yang terdampak saya sampaikan permohonan maaf dan keinginan kuat untuk tetap ikhtiar meski rasanya hidup tidak sama lagi. Untuk hasil, mutlak menjadi hak prerogatif pemilik langit dan bumi Allah SWT.
Saya pernah dihadapkan musibah, di waktu yang tak terduga, dan di tempat yang membuat saya merasa asing di antara banyak orang. Saya butuh pertolongan. Tapi tak ada satu pun orang terdekat yang bisa dimintai bantuan. Hanya ada wajah-wajah asing, dan ketidakpastian tentang siapa yang bisa dipercaya. Saat itu saya perhatikan wajah-wajah di sekitar. Ada yang terlihat alim, ada yang tampak sopan, dan ada pula yang dari penampilannya, terlihat ‘tidak bisa dipercaya’. Saya berharap yang terlihat baik akan menolong. Tapi ternyata mereka hanya melihat. Tak peduli. Atau mungkin tak mau tahu. Lalu ada sosok lain, yang dari tampangnya mungkin akan kita hindari, karena keras, karena tak meyakinkan, karena tak sesuai dengan bayangan kita tentang “penolong”. Tapi justru dialah yang datang mendekat. Menawarkan bantuan.
Menguatkan. Dan menjadi asbab bisa keluar dari kesulitan di hari itu atas segala pertolongan Allah. Dari situ saya belajar: manusia sering tertipu oleh bungkus. Padahal banyak hati yang suci terbungkus tampilan yang kita remehkan. Dan banyak hati yang keras dibungkus tampilan yang kita agungkan.
Saya juga pernah bertemu, dengan seseorang yang dikenal baik. Yang sering tampil di depan umum dengan kata-kata bijak, yang disapa penuh hormat oleh banyak orang, yang selalu disebut dalam doa banyak lisan. Tapi ketika saya benar-benar dekat dengannya, saya rasakan ketimpangan. Ada senyum yang terasa palsu, ada kebaikan yang terasa transaksional dan ada lisan yang manis di depan umum, tapi berubah saat tak ada sorotan.
Dari pertemuan itu saya sadar, bahwa reputasi bisa dibentuk, tapi karakter sejati hanya bisa dibaca dari cara ia memperlakukanmu saat tak ada yang menonton. Kita tak sedang mencari siapa yang paling sempurna.
Karena semua manusia adalah perjalanan. Tapi kita sedang belajar… bahwa baik dan buruk kadang tidak bisa ditebak lewat tampilan. Bukan pula tentang siapa yang paling sering bicara.
Tapi tentang siapa yang paling ikhlas berbuat kebaikan, meski tak ada yang memuji. Dan siapa yang paling setia pada hatinya, meski tak ada yang tahu kebaikannya. Saya pernah bertemu dengan orang yang tak memperkenalkan diri. Dia tak menyebut gelarnya, tak menjelaskan latar belakangnya, tak merasa perlu menjelaskan siapa dirinya. Tapi dari cara dia memandang manusia, dari bagaimana dia menahan lisannya, dan memilih diam saat dia bisa saja membalas. Saya tahu, dia telah melalui sesuatu yang besar. Mungkin bukan pendidikan formal yang membentuknya. Tapi luka dan ujian yang tak diketahui dunia. Malam-malam panjang yang penuh doa dan sujud di kesunyian. Tapi dari caranya menyapa, caranya berbicara dan caranya menyampaikan sesuatu, aku tahu ia bukan orang biasa. Adabnya memanusiakan manusia.
Teman saya menghibur dengan mengatakan “Tenang, badai pasti berlalu” saya jawab : di saya, badainya berlalu lalang. Tidak ada pelangi setelah hujan. Itu kenyataannya. Lalu bagaimana caranya bangkit dengan modal capital dan modal sosial dalam posisi NOL? Saya tidak tahu caranya, tapi setidaknya saya mulai memahami dan mengetahui sedikit-sedikit. Yang pertama adalah berdamai dengan diri. Maafkan dirimu. Kemudian yang kedua adalah setia kepada misi hidup. Ketiga dan keempat ini kata istrinya saya, bunuh ambisi hidup dan carilah ketenangan hidup. Saya selalu setuju dengan istri saya sejak saya menikahinya. Bila kamu jatuh, berjanjilah untuk bangkit. Mulailah dengan aksi-aksi dan berhentilah mengutuki nasib.
*)Gerilyawan selatan