Menodong Tuhan setiap subuh

Oleh : Kurnia Fajar*

Suatu pagi, di sebuah kedai bubur ayam, seorang junior di sebuah organisasi yang saya ikuti, tergopoh-gopoh menemui saya dan menceritakan kegelisahan hidupnya. Ketidakstabilan politik negeri dan ekonomi yang lesu, pembicaraan semakin absurd dan saya mengajaknya pindah ke kedai kopi di lingkungan kementerian Pertanian. Tiba-tiba dia bertanya 3 hal kepada saya, pertama definisi Iman, kedua definisi takwa, ketiga definisi Ikhlas. Saya tersenyum mendengarnya dan mencoba untuk menjawabnya. Mengenai Iman saya teringat warga Palestina. Anak-anak dan penduduk sipil yang setiap hari dibombardir oleh Israel dengan Bom, roket dan Rudal. Begini, saya kemarin baru saja mendapatkan percakapan antara seorang jurnalis dan seorang anak palestina, begini kisahnya : Nak jika kamu diminta tinggalkan tenda pengungsian dan pergi ke tempat lain, apakah kamu akan pergi? Tentu saja tidak akan. Meski mereka memberi uamg beribu, harta berjuta, saya tidak akan tinggalkan Gaza. Lalu bagaimana jika penjajah Israel datang dan bomb tempat ini? Biar saja mereka datang, saya rasa saya gak perlu takut dengan mereka. Mereka lah yang penakut, mereka bukan apa-apa jika tanpa jet tempur. Jadi kamu gak takut dengan peluru dan bomb mereka? Tidak perlu takut pada suara peluru, bomb, ledakan, bagi saya sudah biasa. Saya juga punya rasa takut, tapi bukan pada penjajah Israel, tapi saya takut pada Allah.
Allah lah yang akan lindungi kami. Jika saya mati pun, saya mati di tanah air saya. Sekali pun saya ke luar dari Gaza, saya akan mati juga suatu hari nanti.
Saya lebih rela mati di sini, di Gaza. Mati syahid. Mereka ingin halau kami agar pergi, tapi kami tak kan pergi. Apapun yang terjadi, kami tak kan pergi. Ini tanah ibu bapak kami, kakek nenek kami, kami tak kan pergi. Kami akan bertahan, terus bertahan dan terus bertahan. Itulah Iman, jawab saya. Tidak ada kegelisahan, kecemasan meskipun kematian di depan mata.

Kedua, tentang takwa, kita bisa lihat di dalam Al-qur’an surat Ali-Imran ayat 133-134 “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,”  “(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”  Jadi takwa itu ya seperti di atas. Ia tidak berhenti pada definisi ritual. Ia menjangkau dimensi spiritual dan sosial. Takwa adalah tindakan kita kepada orang lain. Takwa adalah sikap yang muncul dan bisa dirasakan orang lain. Kemudian ketiga tentang ikhlash. Kalo ikhlash ini saya teringat kisah M. Natsir kepada Farid Prawiranegara. Suatu sore ketika Ayahanda Natsir dan Kakanda Farid minum kopi beliau menjelaskan bahwa ikhlash itu seperti BAB alias buang air besar. Ya seperti itu. Sederhana sekali. Sesuatu yang bersemayam dalam diri. Hak milik kita, namun ketika dihempaskan kita tidak merasa sedih dan marah. Justru sebaliknya, kita merasa puas dan lega karena sudah menghempaskan hak milik itu. Kita kembalikan ke dalam tanah. Coba imajinasikan jika BAB itu di implementasikan ke dalam semua yang kita rasakan sebagai hak milik. Maka kita akan bersikap lebih tenang dan berbahagia dalam menjalani hidup.

Juniorku ini mengangguk-angguk saja mendengarkan penjelasanku. Terima kasih kanda, pagi ini hati saya lebih tenang. Kemudian dia mengutip satu kalimat dari film yang baru saja ia tonton “Tidak semua takdir akan dimengerti, bahkan ketika sudah lewat. Tetapi semua takdir harus dijalani”. Benar begitu kan kanda? Ya! Saya setuju. Lalu saya katakan padanya “ayah saya, namanya Prasojo yang artinya bersahaja”. Nah orang yang bersahaja, itu hidupnya akan bejo! Kamu tahu bejo gak? Junior saya ini menggeleng-gelengkan kepala. Oke saya jelaskan.

Orang jawa ngajarin kita untuk jadi bejo (beruntung) bukan menjadi pintar. Karena biasanya bejo lebih sukses secara materi dibanding orang pintar atau cerdas. Orang pintar selalu merasa ilmunya masih kurang. Dia terus belajar dan belajar. Sampai lupa di mana uang berada. Orang bejo pagi-pagi sudah ngeh, tahu, tidak pintar. Dia langsung lompat ke konklusi: di mana uang berada. Doa orang pintar: ya Tuhan, berilah aku rejeki yang banyak yang akan kugunakan untuk ini ini ini. Sebagian lagi untuk ini ini ini. Setiap subuh kita menodong Tuhan. Sedangkan doa orang bejo ya Rabb, aku ini sudah gak pinter, ra tau elmu, hamasak gak dikasih rejeki. Jare ustad Njenengan maha. Wes ngerti kan doaku apa? Dan Tuhan pun tertawa. Doa orang pintar di sujud yang terakhir: panjang, meliuk-liuk, lama, disertai air mata. Sementara doa orang bejo di sujud yang terakhir: ya Rabb, yang kayak kemarin itu loh apik. Tapi orang yang menjaga sholat lima waktunya, yang menjaga ibadahnya, pada gilirannya akan kelelahan minta. Semakin banyak yang diminta, semakin sedikit yang dikasih. Barangsiapa yang sedang mengalami ini, teruslah meminta. Nanti akan dikasih tahu sama Tuhan: Aku sudah tahu apa yang jadi keinginanmu. Ini Saya kasih dulu yang jadi kebutuhanmu. Tabik!

*) Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar