Hidup hanya hari ini

Oleh : Kurnia Fajar*

Stasiun kereta cepat di Shanghai (Koleksi pribadi)

Di sebuah Wartel. Warung telepon di ujung gang itu tutup minggu lalu. Pemiliknya, lelaki tua bermata sendu, menggulung tirai. Plang pudar bertuliskan “BUKA 24 JAM” dicopot,
Dan bilik-bilik kecil berlapis triplek diam tanpa suara. Aku ingat, saat hujan deras, orang-orang berlindung di bawah atap sengnya yang bocor, menunggu giliran untuk bicara, biasanya soal rindu yang tak sampai. Atau janji-janji konyol yang tak pernah benar-benar pulang. Ia biasa menyodorkan koin receh, lalu berkata pelan “Coba bilang hal yang kau tak pernah berani ucapkan.” Tangannya gemetar, namun matanya seolah tahu isi kepala. Seakan ia menyimpan rahasia setiap pengakuan di situ. Pernah sekali waktu aku melihat seorang perempuan muda menggenggam gagang telepon seakan itu leher seseorang. Sambil berbisik, “Segala yang kulakukan, aku lakukan untukmu,” Seperti lagu Bryan Adams yang dulu sering diputar di situ. Kini, bilik-bilik itu kosong, dindingnya penuh coretan. Nama-nama usang yang tertinggal di atas cat mengelupas. Tapi saat kulihat pantulan wajahku di spion mobil malam ini, Dan ingat suara-suara di bilik itu, janji-janji yang dibisikkan, Aku sadar, tak ada lagi yang sudi mendengarkan hal bodoh. Semacam aku rela berjalan di atas kawat baja demi seseorang. Takkan ada yang percaya bila kukatakan, segalanya. Yang kulakukan, diam-diam, memang selalu untuk dia.

Bandara menyaksikan lebih banyak pelukan dibanding majelis pernikahan.
Rumah sakit mendengar lebih banyak doa-doa dan harapan dibanding tempat ibadah. Pemakaman lebih banyak menerima bunga dibanding taman. Kenapa? Karena saat kita pergi, orang akan lebih menghargai. Seperti wartel yang hari ini kita rindukan dalam memori dan kenangan kita. Wartel yang murung. Digerus roda perubahan zaman. Dia harus mati ditikam telepon genggam. Benar kata Ebiet G. Ade dalam lagunya menjaring matahari

Roda jaman menggilas kita
Terseret tertatih-tatih
Sungguh hidup terus diburu
Berpacu dengan waktu
Tak ada yang dapat menolong
Selain yang di sana
Tak ada yang dapat membantu
Selain yang di sana
Dialah Tuhan

Tapi hidup memang hanya hari ini. Kemarin tinggal sejarah sedangkan besok belum tentu Tuhan izinkan kita bertemu dengan hangatnya mentari pagi. Alkisah Rois berumur 29 tahun, punya sahabat bernama Huda usia 30 tahun. Tanggal 16 April 2025, jam 21.30 malam Rois masih muncul di wa group dan bercanda disana. Jam 23.00 Rois merasaka sesak nafas dan kemudian meninggal. Kemudian pergantian hari, tanggal 17 April 2025, pukul 02.30 dini hari istri Huda terbangun dan melihat berita kematian Rois dan segera membangunkan suaminya untuk mengabari berita duka tersebut. Beberapa saat berlalu, suaminya tidak kunjung bangun. Tetangga dan dokter dioanggil, dan  Huda dinyatakan meninggal dalam tidurnya malam itu. Hidup hanya hari ini, bukan besok apalagi kemarin. Maka berhentilah cemas akan hari esok. Fokuslah dengan apa yang ada di hadapan kita saat ini. Jangan tenggelam jauh di kekhawatiran akan esok hari yang belum tentu kita jalani. Saat ini juga, apa yang bisa kita lakukan?  Atau kita bisa mulai mencicil versi terbaik kita yang sebenernya sudah Allah siapkan khusus buat kita, tapi ternyata kita nggak juga ambil sampai hari ini?

Pernah dalam satu masa, hidupku hanya dihabiskan dari Bandara, kamar hotel dan ruang rapat. Perasaan menjadi manusia paling penting di jagat raya. Berbulan-bulan kemudian ternyata pikiran itu salah. Hidup adalah serangkaian karya dan menjadi bermanfaat serta memberi nilai tambah untuk orang lain dan juga untuk lingkungan. Seperti sore ini, ketika duduk di depan teras mesjid. Di depan saya pengemudi ojek online. Dia bilang khusus hari jumat untuk anak yatim gratis. Tulisan itu dia tempelkan di jaket belakang, supaya semua anak yatim bisa membaca. Gratis ke semua tujuan. Dapat uangnya dari mana? Selalu ada rejeki Pak, katanya. Andai dia panggil akang saja. Pak terasa lebih tua. Bisa seperti itu caranya gimana? Harus yakin Kang, katanya sembari meralat. Aku girang, dalam hitungan menit usiaku bertambah muda 10 tahun. Problem beragama selalu ada di level ini: bahwa tiap-tiap hal sudah ditentukan porsinya. Kita tidak tahu di mana alamat si rejeki, tapi rejeki tahu. Begitulah, supir ojek online ini mengajarkan kepada saya bahwa hidup selemah apapun harus bisa membeti manfaat untuk orang lain.

Hidupku sudah lama berhenti. Dan itu benar-benar terjadi. Ragaku hidup. Aku masih bernapas, menikmati sosial media dan makan. Tapi hidupku berhenti. Hari-hariku tak berguna dan tak menciptakan nilai. Tak ada yang disapa dan tak ada yang menyapa. Aku mati sebelum kematian datang menjemput. Mengapa ini terjadi? Orang datang dan pergi silih berganti. Yang tadinya dekat kini menjauh pergi dan yang dulunya kurang bersahabat jadi mendekat. Kita yang berubah atau value yang sudah tidak lagi sama. Dan nggak apa-apa juga. Yang perlu dikhawatirkan adalah ketika sudah banyak yang terjadi tapi kita masih tetap sama seperti kita 5 tahun ke belakang. Itu berarti tidak ada pertumbuhan pada diri kita selama ini. Ketika value dari diri kita hilang, maka itulah sejatinya kematian telah datang.

*) Gerilyawan Selatan

Tinggalkan komentar