Oleh : Yudho Prasodjo*

Ketika pertama kali bangsa ini mau merdeka, maka gagasan yang diusung adalah bentuk Negara yaitu Republik. Rakyatlah pemegang kedaulatan bukan sekelompok orang yang memiliki strata sosial tertentu, bukan raja atau priyayi serta bukan pula para pemuka agama. Para founding parents dengan tegas memilih bentuk Republik sebagai antitesis terhadap kekuasaan feodal yang sudah berlangsung beratus tahun di nusantara ini khususnya tanah jawa. Republik adalah jawaban agar terjadi pemerataan dan distribusi kekayaan negara. Bahkan UUD 1945 mengatakan bahwa semua kekayaan negara menjadi milik publik dan dipergunakan untuk kemakmuran rakyat. Melihat kenyataan yang ada, apakah gagasan Republik sudah diimplementasikan? Atau hanya basa-basi semata? Negara sudah daulat rakyat? Atau masih daulat tuanku yang dipimpin segelintir orang dan dibiayai oleh oligarki yang mendapatkan konsesi atas kekayaan alam Republik. Marilah kita jujur apakah benar kita ingin menjadi Republik atau status quo saja tetap feodal seperti selama ini. Konflik sosial di masyarakat seakan menjadi jawaban itu semua. Peristiwa 1948 dan peristiwa 1965 seakan menjadi catatan, apakah sudah daulat rakyat atau masih daulat tuanku. Saya merangkum sebuah kisah fiksi konflik yang terjadi di masyarakat dalam kisah di bawah ini.
Persaingan untuk menguasai hati dan pikiran rakyat di Kawedanan menjadikan Raden Djatikusumo, Kyai Miftah, dan Kartono saling memandang dengan penuh curiga. Mewakili tiga kekuatan di Kawedanan yakni Priyayi, Santri dan Abangan. Kabar tentang peristiwa pemberontakan PKI Madiun telah sampai ke Kawedanan bagai petir di siang bolong. Suasana yang sudah tegang sebelumnya langsung meledak. Kartono, yang sebelumnya berdebat keras dengan Raden Djatikusumo dan Kyai Miftah tentang reformasi agraria, kini melihat peluang. Dia yakin revolusi sejati harus dimulai dengan membersihkan unsur penghalang redistribusi lahan pertanian. “Perintah sudah datang dari atas, kawan-kawan!” seru Kartono kepada laskar buruh tani di balai rakyat. “Mereka yang menghalangi revolusi harus disingkirkan! Alat produksi harus kita kuasai sebagai bentuk kedaulatan rakyat. Tidak lagi dikuasai segelintir orang saja seperti Raden Djatikusumo yang mewakili feodalisme, sementara Kyai Miftah adalah feodalisme berkedok agama!”
Malam itu gerombolan bersenjata kelewang, celurit dan bambu runcing mendatangi rumah Raden Djatikusumo Mereka menyerbu rumahnya. Sambil mengepung rumah, laskar buruh tani menyanyikan lagu-lagu perjuangan khas kaum komunis Bangunlah kaum yang terhina, bangunlah kaum yang lapar Dendam darah menyala-nyala, kita berjuang ‘tuk keadilan. Raden Djatikusumo secara kebetulan tidak berada di rumah. Beliau sedang bertugas di kantor kawedanan sehingga akhirnya dapat selamat dari peristiwa penggerudukan rumahnya. Namun istrinya Srinthil, seorang penari gambyong yang cantik dan semlohai, para pembantunya dan dua orang anaknya tewas dalam serangan itu. Harta bendanya dikuras. Ayam, kambing dan sapi-sapi peliharaannya juga ludes. Mayatnya ditemukan tergeletak di teras rumah. Kyai Miftah, yang mendengar kabar pembunuhan itu marah besar. Dia segera bersiap. Mengumpulkan para santri, berlatih silat, mengasah golok dan membuat barikade di pesantren. Kyai Miftah mulai bersiap mengerahkan massa dari kalangan santri. Sementara laskar rakyat abangan pimpinan Kartono mulai merangsek ke arah pesantren. Tepat 500 meter sebelum pesantren terdapat mesjid agung kawedanan yang langsung dirusak, buku-buku agama diinjak, kitab kuning dan Al-quran beberapa ada yang dibakar. Akhirnya kejadian ini memicu amarah besar dari para santri pesantren.
Pertempuran pun berlangsung antara laskar abangan dan laskar santri pecah di Pasar Kawedanan. Korban berjatuhan. Raden Djatikusumo, yang hatinya hancur karena kematian istrinya, meminta bantuan tentara. TNI datang dan menumpas sisa-sisa perlawanan kelompok Kartono. Ketika terkepung Kartono melompat ke Sungai Kaligandong yang meluap dan mayatnya tidak ditemukan. Luka Madiun 1948 seperti tertutup debu, tapi tidak pernah benar-benar sembuh. Dari kuburan masa lalu sebuah bayangan bangkit. Kartono ternyata tidak mati. Dia melarikan diri dan naik secara diam-diam dalam hierarki partai komunis, mengganti namanya menjadi “Seno”, seorang tokoh intelektual partai yang berpengaruh di Jakarta. Dendamnya terhadap Raden Djatikusumo dan Kyai Miftah masih membara.
Seno secara diam-diam merencanakan untuk membersihkan Kawedanan karena yakin rencana besar di ibu kota akan berhasil. Di Jakarta rencana G30S/PKI bergulir. Sementara para jenderal diculik, di Kawedanan Seno mulai menggerakkan anak buahnya. Mereka menculik Kyai Miftah dari pesantrennya. Raden Djatikusumo yang mendapat informasi dari seorang anggota TNI, bersembunyi dan selamat dari upaya penculikan.
Kyai Miftah disiksa di sebuah rumah tua di pinggir hutan. Mereka menuduhnya sebagai agen asing dan pengkhianat revolusi. “Kau dan Raden Djatikusumo telah merampas nyawa istri dan kawan-kawan kami dalam peristiwa Madiun dulu!” teriak seorang algojo. Kyai Miftah memandang kepada kawanan yang menculiknya tanpa rasa takut. Dengan tenang bibirnya terus berdzikir dan membisikkan kalimat syahadat. Ketika kabar gagalnya G30S/PKI dan pembantaian para jenderal sampai ke Kawedanan, angin pun berbalik. Raden Djatikusumo, dengan dukungan penuh TNI, memimpin operasi pembersihan. Dendam pribadinya atas kematian Srinthil kini menyatu dengan tugas dari pusat. Raden Djatikusumo membuat daftar nama-nama anggota PKI di Kawedanan dan nama Seno ada di puncak. Raden Djatikusumo menggunakan pengaruhnya untuk memburu sahabatnya itu tanpa ampun. Pemuda-pemuda yang dulu dikaderkan Kyai Miftah, sekarang dipimpin oleh adiknya, Kyai Farid, mengobarkan perang suci. Mereka memburu anggota dan simpatisan PKI dengan amarah yang membara, demi membalaskan kematian Kyai Miftah. Kawedanan berubah menjadi neraka. Sungai Kaligandong yang membelah kota kecamatan berwarna kemerahan. Raden Djatikusumo yang dulu priyayi halus, kini memerintah dengan tangan besi. Matanya kosong, melihat setiap tahanan sebagai bayangan Seno yang telah membunuh istrinya.
Dari tempat persembunyiannya Seno mengirim pesan rahasia kepada Raden Djatikusumo. “Aku ingin menyerahkan diri hanya padamu, Djati. Datanglah sendirian di tempat dulu kita biasa berdiskusi.” Mereka bertemu di balai rakyat tempat dulu sering berkumpul dengan Kyai Miftah. Tempat dimana mereka berdiskusi agar kawedanan bisa menghasilkan kesejahteraan bagi rakyat. Dua sahabat tua itu menjelma sebagai musuh bebuyutan. “Kau telah membunuh istriku, Kartono!” hardik Raden Djatikumo dengan muka merah. “Dan kau membunuh lebih banyak lagi, Djati! Lihatlah di luar! Seluruh Kawedanan adalah kuburan massal bagi orang-orangku karena perintahmu!” balas Seno dengan getir. “Kau yang mulai! Kenapa kau perintahkan anak buahmu untuk mengeksekusi Kyai Miftah?” “Kita semua sudah gila, Djati. Ideologi dan kekuasaan kita gunakan sebagai alat untuk membenarkan dendam kita.” “Tunggu dulu Djati, aku berjuang agar rakyat bisa memiliki tanahnya sendiri, agar mereka tak seumur hidup jadi penggarap”. Kartono, aku mau membantumu. Namun engkau menghalalkan segala cara, demikian Raden Djatikusumo membalas.
Dalam percakapan tegang itu, terungkaplah fakta yang mengejutkan. Seno mengaku, dia sengaja memerintahkan pembunuhan terhadap istri Raden Djatikusumo karena cemburu dan menyimpan dendam pribadi. Seno diam-diam juga mencintai Srinthil. Konflik itu bukan hanya tentang politik, tapi juga tentang cinta yang ditolak dan persahabatan Kartono yang setengah hati. Tanpa pikir panjang Raden Djatikusumo langsung menarik pistol dari balik bajunya. Sebuah tembakan melesat, menembus kepala Kartono. Pria itu tersungkur sambil sempat meneriakkan hiduplah buruh tani! dan akhirnya mati di depan Raden Djatikusumo. Peristiwa itu berakhir. Raden Djatikusumo menjadi orang berkuasa di Kawedanan, tapi hidupnya hancur. Dia dikelilingi oleh bayangan Srinthil, Kyai Miftah, dan Kartono. Dia memenangkan pertempuran, tetapi sebenarnya kalah dalam perang. Kekerasan yang dia lancarkan meninggalkan luka kolektif yang dalam. Menjadi warisan pahit yang akan terus diingat dalam sejarah Kawedanan. Sebagai informasi, nama Kawedanan itu Konoha. Tabik!
*)Gerilyawan Selatan