Oleh : Kurnia Fajar*

Sejak pertama kali memutuskan terjun ke dunia politik, saya sudah mengerti, bahwa dunia ini membutuhkan preferensi. Membutuhkan garis keturunan yang jelas. Untuk sukses di dunia politik Indonesia anda haruslah keturunan dari seseorang, apakah anda keturunan kyai, anak seorang Jenderal, anak dari proklamator, anak mantan Presiden, atau salah satu keturunan dari wangsa Mataram. Di luar itu anda hanya akan jadi yatim piatu politik. Jika anda cerdas dan beruntung maka akan ada rumah bernama partai politik yang akan menampung anda sebagai anak kost yang setiap bulan ditarik iuran. Atau kalo mau nekat sedikit, anda bisa nebeng di rumah partai politik tersebut menjadi tukang kebun, cuci-cuci piring kotor di dapur, atau cuci kendaraan yang terparkir di garasi. Yang paling sial adalah ketika pemilik rumah bikin ulah dan memerlukan kambing hitam untuk memperbaiki citra rumahnya. Anda biasanya akan jadi orang terdepan yang dikorbankan untuk menjadi kambing hitam. Syukur jika pemilik rumah memberikan anda kompensasi atas pengorbanam ini. Setelah jadi kambing hitam anda akan terlempar keluar rumah, luntang-lantung di Jalanan. Syukur-syukur ada rumah lain yang menampung, namun jika tidak, Selamat anda resmi menjadi gelandangan politik. Anda akan berada di jalanan dan diabaikan. Jika hal tersebut terjadi, harus bagaimana?
Pilihannya hanya dua, pertama jadilah Ronin dan konsisten mengambil jalan hidup sebagai ronin. Kedua, tetap konsisten membangun kesadaran kolektif di akar rumput. Kesadaran akan kedaulatan berada dan melekat di masing-masing individu. Perjuangkan. Lakukanlah perlawanan sunyi. Menjadi gerilyawan, hidup nomaden dalam belantara politik. Ada orang yang melawan karena ingin diingat. Ada pula yang melawan karena ingin didengar. Tapi seorang ronin melawan karena ingin hidup. Karena hanya itu satu-satunya cara untuk tetap bertahan di dunia yang seringkali tidak berpihak kepada mereka yang yatim piatu dalam politik.Apa pun yang terjadi pada diri dan sekitar kita konsistenlah dengan dialektika membangun kesadaran kolektif dimana saja di bumi kita berpijak. Ini soal kesungguhan, bentuk zikir yang panjang dan cara kita bicara kepada semesta. Ini adalah campuran perjuangan fisik dan spiritual sekaligus. Dialektika ini adalah tentang perjuangan melawan sistem yang tidak berpihak kepada mereka yang tidak memiliki akses. Terhadap feodalisme yang masih tetap lestari beratus tahun lamanya. Mereka yang di luar sistem feodal bukan hanya sekedar angka dalam statistik. Mereka adalah jiwa-jiwa yang bisa membentuk bola api perlawanan. Mungkin itu sebabnya Tan Malaka dibunuh karena ia konsisten melawan feodalisme.
Restorasi Meiji di jepang itu menggusur para samurai dan metamorfosis menjadi ronin. Kemudian Ronin tiwikrama menjadi gerilyawan di sini. Gerilyawan laksanakan klandestin. Hidup di tengah masyarakat, berbaur, menentang sang penguasa yang lalim. Saya rasa, Robin Hood, Wiro Sableng adalah gerilyawan pafa masanya. Tapi Pangeran Diponegoro bukan karena ia adalah bagian dari feodal itu sendiri, hanya bedanya ia melakukan perlawanan. Mereka mendapatkan tempat di hati masyarakat yang ditolongnya. Jadi jangan resah, jika anda terlempar keluar rumah dan menjadi nomaden. Rocky Gerung saya kira saat ini sedang menjalankan misinya sebagai gerilyawan, ia keliling dari satu komunitas ke komunitas yang lain membangun kesadaran. Lalu apa bedanya dengan gelandangan politik? Seorang gerilyawan tetap setia dengan misinya. Semper Fi! Demikian Marinir Amerika sering berkata. Seorang Gerilyawan tetap melawan membangun kesadaran kolektif. Meskipun tagihan dan tuntutan hidup mendera setiap saat. Sementara gelandangan politik ia hanya membangun narasi agar perutnya tetap terisi dan tagihan hidupnya bisa terbayarkan dengan lancar.
Melawan juga adalah bentuk kemerdekaan yang hakiki. Kemarin saya membaca pernyataan menggelitik dari adiknya Kim Jong Un pemimpin Korea Utara “The truly free are those who feel the suffering of Palestine.” Orang yang benar-benar merdeka adalah mereka yang merasakan penderitaan rakyat Palestina. Sebuah pernyataan yang mampu membuat saya merenung. Jangan-jangan kita semua, sesuangguhnya tidak pernah bemar-benar merdeka. Kemerdekaan hanyalah fatamorgana padahal otak kita sudah diarahkan menerima kebenaran tunggal yang namanya dogma atau doktrin. Melawan dengan dialektika membangun kesadaran kolektif adalah tindakan publik. Ia mengubah pengalaman pribadi menjadi tuntutan sosial. Di tengah maraknya para pekerja politik yang bekerja sebagai makelar dan menggadaikan dirinya kepada oligarki. Ini bukan hal remeh, ini adalah kedaulatan diri yang hakiki. Dialektika yang berisi tuntutan dan kegelisahan atas pengkhiantan terhadap cita-cita kita bernegara, tentang kemanusiaan, keadilan sosial dan pemanfaatan sumberdaya yang hanya dinikmati para kaum feodal saja. Tentang kemiskinan dan penderitaan yang hanya tertulis dalam catatan statistik belaka. Jadi, meskipun anda seorang ronin, hidup nomaden dan yatim tetaplah bergerilya lanjutkan proses membangun kesadaran itu. Seperti orang jawa bilang urip iku urup. Hidup itu untuk menyalakan api harapan di setiap dada manusia. Tabik!
*)Senopati, Perhimpunan Gerilyawan Nusantara