Oleh : Kurnia Fajar*

Kamu laki-laki Jawa, dan laki-laki jawa hidup sendiri lelaning jagat (pesan simbah)
Memaafkan orang yang telah membuat hidup kita menderita memang sulit. Meskipun kita tahu hidupnya pun menderita. Barangkali kita harus memaafkan diri sendiri. Apalah artinya kita bila tanpa cerita, hanya debu yang singgah di semesta. Barangkali, keluarga bukanlah tempat dimana kita diterima apa adanya. Tapi keluarga adalah tempat untuk belajar menerima diri apa adanya. Demikianlah satu kalimat dari film “tulang belulang tulang”. Kegagalan besar seorang laki-laki adalah ketika dia gagal memberikan yang terbaik serta gagal melindungi orang-orang yang dicintainya. Istrinya, anak-anaknya, orangtuanya bahkan adik atau kakaknya. Rasanya seperti sumber kesalahan di dalam hidup semua orang. Setiap saat pikirannya selalu berusaha untuk memperbaiki dan keluar dari situasi tersebut. Tapi bisa jadi tertahan atau ia tidak tahu bagaimana caranya. Saya jadi teringat tokoh Joker dalam mitologi Batman milik DC Comics. Joker seperti contoh dari laki-laki yang patah. Dalam Film Joker yang diperankan oleh Joaquin Phoenix setelah sebelumnya diperankan dengan sangat baik oleh Heath Ledger. Atas perannya Heath Ledger diganjar dengan Oscar meski ia menerima secara anumerta karena Heath dikabarkan bunuh diri setelah depresi memerankan Joker. Joker memang sosok yang depresi, barangkali di Alun-alun Gotham City, ia akan berteriak “I am a mistake in everyone’s life”. Bahkan Kucing atau anjing yang setia pun tak ingin bertahan dalam kehidupannya.
Joker adalah tokoh antagonis yang menjadi musuhnya Batman. Ia sering mengganggu ketertiban umum. Dan Joker digambarkan sebagai pekerja seni, sebagai badut yang menghibur, menggunakan topeng riasan wajah, ia tersenyum dan menari menghibur siapa saja. Tapi Joker dikalahkan dunia. Ia orang baik yang terpaksa bermigrasi menjadi tokoh jahat karena ia dimarjinalkan oleh norma sosial pada umumnya. Dia murung, dan mengalami depresi berat dengan hidupnya. Pernahkah anda mendengar tentang paradoks Badut? Alkisah ada seorang anak manusia yang kehidupannya menyedihkan. Tidak pernah terlihat bahagia. Kemudian, datanglah seorang kawan dan menyuruhnya untuk nonton pertunjukan badut yang sedang “hype” di kota tersebut. Datanglah kawan, engkau akan tertawa melihatnya. Engkau akan bahagia. Kemudian si murung ini menjawab “akulah pemeran badutnya”. Ketika seseorang yang terlihat lucu dan bahagia di luar dan tampil layaknya badut namun sebenarnya ia sedang tersiksa dan sedih secara emosional di dalam. Anda pernah menonton Film Collateral Damage? “Collateral damage” dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai “kerusakan tambahan”. Sederhana-nya, sedih dan kecewanya Joker selalu menghasilkan kerusakan tambahan pada pranata sosial.
Begitulah Joker, ia bisa memilih berdamai dengan hidupnya atau berjuang untuk kaum marjinal. Perjuangan inilah yang membuat setiap aksinya dibenci warga normal umumnya. Konon katanya setiap laki-laki akan mengalami patah hati yang akan merubah cara dia memandang cinta seumur hidupnya. Kemarin saya diberi kesempatan sharing ke kelas saat mengajar kuliah terutama buat laki-laki yang memang lagi sedih entah karena patah hati, insecure sama kuliah, merasa gagal. Kalo memang lagi sedih lepasin aja, kalo mau nangis ya nangisin aja. Jangan ditahan, pilih tempat yang aman biar gak malu. Jangan merasa lemah jadi laki-laki yang vulnerable, yang sedih, yang nangis. Itu tandanya kita bisa merasakan emosi, gak denial, dan sadar bahwa kita adalah manusia, bukan robot. Rasakan emosinya, biarkan mengalir, nanti jadi sembuh karena paham kenapa sedih, apa yang harus dilakukan selanjutnya. Habis itu lanjutkan lagi hidup, selesaikan masalahnya, fokus ke diri sendiri. Saya bilang ini utamanya buat laki-laki, soalnya kalo perempuan pasti otomatis release emosinya, tapi laki-laki gak semua paham. Kebanyakan denial dan ngerasa lemah kalo sedih, merasa cengeng kalo nangis. Gapapa, nangis aja ya guys.
Ingat, kamu memang laki-laki, tapi kamu juga manusia yang punya perasaan. Kamu boleh mengejar semua yang kamu mau, tapi ingat kamu bisa kehilangan semua hal yang sudah kamu miliki. Pada akhirnya hidup ini bukan tentang siapa yang lebih kaya, Bukan tentang siapa yang lebih berkuasa. Juga bukan tentang siapa yang mendapat lampu sorot. Ini soal diri sendiri. Tentang bagaimana kita bersyukur, dan bahagia dengan apa yang dimiliki. Itu saja. Hidup itu dualisme. Harapan adalah hal yang membuatmu hidup. Tapi harapan juga membunuhmu. Semuanya serba paradoks. Kamu bisa hidup 1 minggu tanpa makan. Tapi tidak akan bisa hidup 1 detik tanpa harapan. Tapi harapan itu yang membuatmu kecewa. Kalo tidak ingin kecewa jangan punya harapan. Tapi tanpa harapan tak ada kehidupan. Terakhir, nasehat yang tidak pernah henti saya yakini dan selalu bersemayam dalam hati yaitu : Segala sesuatu dalam hidup adalah sementara. Jika semuanya berjalan baik, nikmatilah karena itu tidak akan bertahan selamanya. Dan Jika keadaan menjadi buruk, jangan khawatir karena itu juga tidak akan bertahan selamanya. Tabik!
*)Senopati, Perhimpunan Gerilyawan Nusantara
Nobody sees my pain but everyone sees my mistake