Oleh : Yudho Prasodjo*

Wafatnya Pakubuwono XIII yang kemudian diwarnai dengan perebutan tahta Pakubuwono XIV di Keraton Surakarta Hadiningrat seolah menjadi momentum untuk melihat ulang bagaimana perjalanan suksesi berlangsung di Nusantara khususnya di tanah jawa. Meskipun sudah berbentuk Republik melalui proklamasi 17 Agustus peran Kasunanan Surakarta masih diakui sebagai Cagar budaya dan sesungguhnya pewaris tahta Surakarta Hadiningrat ini adalah keturunan darah dari wangsa Mataram islam yang berkuasa sejak Panembahan Senopati menjadi Raja Mataram pertama di tahun 1587. Peristiwa ontran-ontran atau geger perebutan kekuasaan ini bukanlah pertama kali, melainkan setiap saat mulai dari jaman kekuasaan Majapahit, Demak, Kalinyamat, Pajang, Mataram, VOC, Inggris, Belanda, Jepang hingga berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Budayawan dan Dramawan besar WS. Rendra menyimpulkan dan menyusunnya dalam satu pertunjukan teater yang berjudul “Panembahan Reso” dan buku yang berjudul “Sang Perampok”. Yang mengisahkan tentang proses suksesi di Nusantara alias tanah jawa ini. Peristiwanya berbeda-beda namun cirinya selalu sama, mari kita kupas ciri-cirinya satu persatu
Ciri pertama : Durasi kekuasaan di Nusantara khususnya di Tanah Jawa itu tidak pernah lama, rata-rata hanya 100 tahun saja, mari kita teliti sejak runtuhnya kerajaan Majapahit di tahun 1525 atau persis 500 tahun dari hari ini. Majapahit sendiri berusia sekitar 200-an tahun sejak berdirinya. Setelah Majapahit runtuh berdirilah Kerajaan Kalinyamat tahun 1527 dan bubar tahun 1599 atau sekitar 72 tahun dan beriringan dengan Kesultanan Demak tahun 1475-1568 atau selama 93 tahun. Kemudian dilanjutkan dengan Kerajaan Pajang yang hanya berusia 33 Tahun. Sehingga persis di awal Abad ke 16 tersisa Kerajaan Mataram di bawah Panembahan Senopati yang berusia sekitar 90 tahun-an. Karena pada masa pemerintahan Pakubuwono I di tahun 1710 kekuasaan Mataram sudah lemah dan tunduk di bawah kekuasaan VOC. Kemudian VOC sendiri berkuasa sekitar 90 tahun hingga 1800. Lalu Inggris berkuasa hingga 1820 kemudian Belanda hingga tahun 1942 atau sekitar 120 tahun. Jepang 3,5 tahun dan Republik Indonesia yang sampai hari ini berusia 80 tahun. Melihat Sejarah tersebut di atas, kekuasaan di Nusantara ini khususnya di tanah Jawa selalu dinamis dan rata-rata usianya 100 tahun saja.
Ciri Kedua dan ketuga : Perebutan kekuasaan selalu diwarnai pertumpahan darah dan atau pemberontakan. Serta aktor yang bertarung dalam suksesi masih dalam satu darah atau keluarga. Pada jaman Majapahit terjadi pemberontakan Ranggalawe, Rakuti hingga peristiwa Paregreg yang merupakan Perang saudara yang terjadi antara istana barat (dipimpin oleh Wikramawardhana) dan istana timur (dipimpin oleh Bhre Wirabhumi) pada 1404–1406, yang menjadi salah satu penyebab kemunduran dan pecahnya Majapahit. Kemudian Kesultanan Demak yang dipimpin Raden Patah yang adalah adipati memisahkan diri dari Majapahit dan memutuskan merdeka. Padahal Raden Patah adalah keturunan Bhre Kertabumi yang kalah berebut tahta Majapahit dengan Brawijaya. Di jaman Kesultanan Demak pun terjadi pemberontakan-pemberontakan dalam rangka merebut kekuasaan mulai dari Arya Penangsang, Joko Tingkir, ratu kalinyamat sampai lahirnya Danang Sutawijaya yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Dalam periode Mataram pun sama, keributan antar keluarga menyebabkan kisruh dalam setiap pemerintahannya. Meskipun sempat mengalami kejayaan pada masa Sultan Agung. Puncaknya adalah Palihan Nagari Peristiwa penting pada 1749 di Mataram adalah penyerahan kedaulatan Kerajaan Mataram kepada Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Peristiwa ini menjadi salah satu pemicu utama pecahnya Mataram yang kemudian diresmikan melalui Perjanjian Giyanti pada 1755. Setelah kekalahan Pangeran Diponegoro dalam perang Jawa, praktis sejak 1830 hingga 1942 Nusantara dikuasai oleh Kerajaan Belanda. Setelah Republik Merdeka dan berkuasa, setiap perebutan kekuasaan selalu diwarnai geger, sejarah mencatat peristiwa 1965 sebagai salah satu peristiwa pertumpahan darah besar dalam tradisi suksesi di tanah jawa.
Ciri keempat : selalu ada campur tangan pihak asing atau pihak luar yang berkepentingan, mulai dari Tiongkok yang selalu campur tangan dalam suksesi Majapahit dan Demak. Kemudian VOC, Inggris dan Belanda dalam Suksesi Mataram kemudian Amerika Serikat, Rusia dan Tiongkok yang ikut campur dalam suksesi 1965 hingga hari ini Republik Indonesia selalu menjadi episentrum kepentingan dari kekuatan global seperti Tiongkok, World Bank dan Amerika serikat.
Ciri Kelima : selalu terjadi adu domba sesama rakyat. Dalam setiap peristiwa perebutan kekuasaan dengan label perang atau pemberontakan selalu berhadap-hadapan dua kekuatan yang isinya adalah sesama rakyat. Dari sekian banyak peristiwa, dapat kita tuliskan beberapa kejadian besarnya seperti perang Paregreg, geger Sapehi, Perang Dipinegoro, sampai Peristiwa PKI 1965. Dari semua peristiwa tersebut di atas selalu saja terjadi bunuh-bunuhan sesama rakyat dengan korban jiwa yang fantastis. Perang diponegoro mencatat korban 200 ribu rakyat Jawa ditambah 8 ribu prajurit Belanda dan 7 ribu prajurit pribumi yang mendukung Belanda. Perang Kemerdekan periode 1945-1949 mencatat korban sampai 150 ribu orang baik pihak Indonesia maupun Belanda dan juga sekutunya (inggris). Sedangkan Peristiwa 1965 mencatat jumlah korban tewas lebih fantastis lagi ada yang menyebut 500 ribu orang bahkan Benedict Anderson menyebut jumlah korban sebanyak 1 juta orang. Begitulah suksesi di tanah Jawa selalu saja menumpahkan darah rakyatnya sendiri.
Republik Indonesia, sampai tulisan ini dibuat sudah berusia 80 Tahun. Apakah Republik akan bernasib seperti Majapahit yang berusia 200-an tahun, atau seperti VOC yang berusia 90 tahun, atau Belanda yang berusia 120 tahun atau Kesultanan Demak yang berusia 93 tahun. Yang paling dekat memang seusia Kesultanan Demak dan Presiden Prabowo pun sudah menyampaikan kisi-kisi-nya setelah membaca buku Ghost Fleet bahwa Indonesia akan bubar di tahun 2030. “Saudara-saudara,” katanya dalam sebuah pidato yang ditayangkan di laman Facebook Partai Gerindra, “Kita masih upacara. Kita masih menyanyikan lagu kebangsaan. Kita masih pakai lambang-lambang negara. Gambar-gambar pendiri bangsa masih ada di sini, tetapi di negara lain mereka sudah bikin kajian-kajian di mana Republik Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi tahun 2030.” Apalagi jika merujuk pada ramalan atau sumpah Sabdapalon yang akan kembali setelah 500 tahun sejak Kerajaan Majapahit runtuh, saat korupsi merajalela dan kejayaan Jawa akan “kembali”. Jika dihitung dengan penanggalan Masehi maka akan jatuh di tahun 2027. Tentu saya berdoa supaya Republik Indonesia panjang umur dan rakyatnya sejahtera. Namun sejarah itu seperti cermin, ia adalah kumpulan jejak kaki kita. Dari sanalah seharusnya kita belajar. Siapapun penguasanya, tanah Jawa selalu diwarnai geger dan ontran-ontran dalam setiap pergantian kekuasaan. Selamat merenung, Tabik!
*)Senopati, Perhimpunan Gerilyawan Nusantara