(Bagian I)
Oleh : Kurnia Fajar*

Sekitar 12 tahun yang lalu, dalam acara kongres alumni UNPAR saya berkenalan dengan Ilham Aidit, putra dari Ketua CC (Comitee Central) Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai yang menyejarah, terlarang dan menjadi musuh bersama hingga hari ini. Meskipun sebelumnya sudah pernah bertemu dengan bang Ilham, namun dalam kongres kami berkomunikasi cukup intensif. Waktu itu, saya berperan sebagai sekretaris tim pemenangan calon ketua IKA. Sedangkan ketua tim pemenangan adalah Dr. Happy Bone (Politisi Golkar) dan ketua II nya Maruarar Sirait (Kini Menteri Perumahan). Sedangkan jagoan kita, calon ketua yaitu Dr. Bima Arya (Sekarang menjabat Wamendagri). Dalam kongres tersebut, terdapat tiga calon ketua selain Dr. Bima, yaitu Ilham Aidit alumni Arsitek dan Reiner yang alumni teknik sipil. Kongres berjalan seru, namun tiba-tiba, pada saat mau pemungutan suara, bang Ilham mengundurkan diri dan mendorong dilakukan sistem presidium yang kolektif-kolegial, untuk kepengurusan IKA. Saya terkejut dengan usulannya, meskipun hati kecil saya cenderung menyetujuinya. Organisasi perkumpulan alumni memang seharusnya tidak terlalu serius, lebih mengedepankan kekeluargaan dalam menyelesaikan masalah atau menyusun program. Namun akibatnya, rapat kembali di skors dan menyebabkan acara pemungutan suara menjadi molor hingga jam 19.00. Yang akhirnya, memberikan waktu kepada pendukung Reiner, yang pada akhirnya kongres tersebut dimenangkan oleh Reiner dan menyingkitkan Dr. Bima.
Saya mencoba menganalisa dan memahami alam pikiran Ilham, sebagai seorang anak dari tokoh yang dianggap sebagai musuh bangsa, bagaimana ia melakoni hidupnya? Awalnya saya tidak terlalu memedulikannya, hingga akhirnya saya mengalami rangkaian peristiwa fitnah, tuduhan dan pembunuhan karakter yang menyudutkan dan mengucilkan diri ini bahkan keluarga saya. Tidak ada itu peristiwa tabayyun, klarifikasi atau rekonsiliasi. Kini, saya mencoba untuk belajar dari bang Ilham, mengenai cara dia melakoni hidupnya. Ilham Aidit mungkin adalah sosok yang paling sering muncul di ruang publik Indonesia untuk menyuarakan rekonsiliasi. Selain sebagai arsitek, ia dikenal sebagai salah satu pendiri Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB). Forum ini unik karena mempertemukan anak-anak dari tokoh yang dulu berkonflik, seperti anak-anak pahlawan revolusi, anak-anak tokoh DI/TII, dan anak-anak tokoh PKI, dengan misi memutus rantai dendam sejarah. Ilham sering bercerita betapa beratnya tumbuh dengan nama “Aidit” di belakang namanya, mulai dari perundungan saat sekolah hingga kesulitan dalam mencari pekerjaan karena skrining politik di masa Orde Baru. Momen pelantikan Ilham Aidit menjadi anggota Wanadri (Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung) memang menjadi salah satu fragmen sejarah yang paling mengharukan sekaligus ironis dalam narasi rekonsiliasi di Indonesia.
Kejadian tersebut terjadi pada tahun 1981. Saat itu, Ilham Aidit yang baru saja menyelesaikan pendidikan dasar Wanadri (PDW) dilantik langsung oleh Jenderal Sarwo Edhie Wibowo, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum Wanadri sekaligus dikenal sejarah sebagai tokoh kunci dalam penumpasan PKI. Berdasarkan penuturan Ilham Aidit dalam berbagai wawancara dan memoar, ketika Sarwo Edhie hendak menyematkan syal (slayer) Wanadri di leher Ilham, beliau berhenti sejenak, menatap tajam, lalu berkata dengan nada yang dalam namun tenang : “Kamu tetap anak saya”. Kalimat ini sangat bermakna karena Sarwo Edhie sudah mengetahui bahwa pemuda di depannya adalah putra dari D.N. Aidit. Beliau menegaskan bahwa dalam konteks Wanadri dan kemanusiaan, hubungan mereka adalah antara senior dan junior (bapak dan anak), terlepas dari sejarah kelam yang melibatkan orang tua mereka masing-masing. Ada beberapa detail menarik yang melatarbelakangi momen tersebut, Selama masa pendidikan Wanadri yang sangat berat, Ilham menggunakan nama “Ilham” saja tanpa nama belakang. Namun, rahasia itu akhirnya terungkap saat proses administrasi kelulusan. Sarwo Edhie memilih untuk merangkul Ilham. Beliau menunjukkan sikap ksatria dengan tidak mendiskriminasi Ilham atas dosa atau kesalahan yang dituduhkan kepada ayahnya.
Momen ini diakui Ilham sebagai salah satu titik balik dalam hidupnya. Hal ini membantunya untuk tidak memelihara dendam dan nantinya mendorongnya untuk mendirikan Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) bersama anak-anak dari para Jenderal yang gugur di Lubang Buaya. Bang Ilham memang dikenal memiliki wawasan politik yang tajam dan cara berkomunikasi yang sangat terukur (well-educated), yang kemungkinan besar terbentuk dari pengalaman hidupnya yang kompleks serta latar belakang pendidikannya di Unpar. Pemikiran Bang Ilham mengenai model kepemimpinan presidium atau kolektif-kolegial sangat selaras dengan prinsip-prinsip organisasi modern yang mengedepankan musyawarah mufakat di atas dominasi satu figur pusat. Beliau sangat sadar bahwa nama belakangnya sering kali dipolitisasi oleh pihak-pihak tertentu untuk memicu sentimen negatif. Oleh karena itu, ia cenderung sangat berhati-hati dalam mengambil langkah politik praktis agar tidak memberikan amunisi bagi kelompok yang ingin menghambat proses rekonsiliasi. Ketika saya bertanya langsung kepadanya, bagaimana ia melakoni hidupnya di tengah lautan fitnah dan diskriminasi? Jawabannya sungguh sederhana “serahkan semuanya kepada Tuhan”. Jalani saja, seperti Nabi Yusuf yang dimasukkan ke dalam sumur. Saya akan lanjutkan ke bagian 2. Tabik!
*)Gerilyawan Selatan