Oleh : Kurnia Fajar*

Disadari atau tidak, salah satu keunggulan bangsa Indonesia adalah membangun Intangible Industri. Pariwisata misalnya, kita punya Bali, yang sudah mapan dengan industri pariwisata-nya. Kita juga punya sektor ekonomi kreatif yang perlahan bergerak menuju Industri. Sekarang, yang sedang punya potensi menuju Industri adalah sepakbola. Jika mau jujur, barangkali ada satu sektor lainnya yang bisa dikategorikan (jika mau) sebagai industri, yakni sebagai negara peng-ekspor tenaga kerja (TKI/TKW). Pemerintah harusnya menyadari kekuatan dan potensi ini. Kekalahan kita pada sektor industri manufaktur dan teknologi sudah selayaknya berpindah pada sektor Intangible ini. Kita bisa ambil contoh Korea Selatan, dengan K-Pop nya yang berhasil mencuri perhatian dunia dan saya rasa mengalahkan Hollywood dan Bollywood dalam memimpin industri hiburan dan perfilman. K-pop berhasil membawa beberapa hal lain menjadi industri seperti kecantikan, perawatan kulit, film/drama, himgga industri food and beverage-nya. Korea bahkan berhasil meningkatkan kunjungan wisatawan asing ke negara-nya berkat K-POP yang mendunia. Dari sektar 9 juta wisatawan di tahun 2010 menjadi 17 juta wisatawan di tahun 2019. Setelah sempat anjlok pada masa covid. Di tahun 2025 sudah pulih kembali di angka 18 juta wisatawan. Artinya sudah melampaui angka di tahun 2019.
Hal ini terjadi karena kesadaran pemerintah Korea Selatan dengan potensi budaya-nya. Meang kontribusi K-Pop hanya 1% terhadap PDB. Jika dibandingkan dengan industri otomotif dan teknologi yang menyumbang 20% kepada PDB Korsel. Namun sesungguhnya K-Pop lah yang menjadi backbone. Berdasarkan data dari Korea Creative Content Agency (KOCCA), setiap USD 100 ekspor konten budaya (termasuk K-POP) akan memicu ekspor produk konsumen lain (seperti kosmetik/K-Beauty, makanan/K-Food, dan gadget) sebesar USD 248. Perusahaan seperti Samsung dan Hyundai justru menggunakan K-POP untuk mendongkrak nilai mereka. Contoh nyata: Samsung berkolaborasi dengan BTS untuk lini Galaxy Z Flip, atau Hyundai yang menjadikan BTS dan NewJeans sebagai duta global untuk mobil listrik seri IONIQ mereka. Nilai K-POP tidak bisa hanya diukur dari penjualan album atau tiket konser, melainkan dari bagaimana industri ini membangun nation branding (citra negara). K-POP mengubah Korea Selatan dari negara industri menjadi pusat tren global yang dicintai anak muda di seluruh dunia.
Sekarang, mari kita kembali ke Persib Bandung. Sebagai klub Sepakbola, Persib memang anomali, ia begitu dicintai masyarakat jawa barat secara khusus dan beberapa bagian propinsi lain secara umum. Hal ini tidak terlepas dari posisi kota Bandung yang berhasil menjadi kota akulturasi sejak awal abad 20, kota perdagangan komoditas pangan internasional, sehingga sepakbola yang dibawa oleh orang Eropa menjadi cara komunikasi dan diplomasi. Persib telah bergerak menjadi ikon budaya. Persib menjadi cara bagi sebagian masyarakat untuk mengekspresikan harapan. Di tengah terbunuhnya harapan di sektor-sektor lain. Kesadaran itu sudah tampak di manajemen Persib. Professionalisme klub sudah terlihat sejak Persib mendapatkan hak pengelolaan GBLA di tahun 2018 untuk selama 30 tahun ke depan. Hal ini juga diikuti dengan prestasi klub yang terus membaik dalam tiga tahun terakhir. Saat tulisan ini dibuat, Persib sedang bertanding dengan Persijap untuk mempertahankan gelar juaranya. Sejak pagi hari, kota Bandung sudah meriah dengan atribut Persib. Tua dam muda, setidaknya saya menghitung paling tidak Persib dicintai 4 sampai 5 generasi sejak berdiri. Kakek saya kelahiran 1920 mengajarkan Persib kepada Uwa yang kelahiran 1952. Lalu dari uwa kepada saya yang kelahiran 1980. Kemudian saya ajarkan kepada anak yang kelahiran 2008. Itulah Persib yang secara organik akhirnya memiliki supporter pendukung yang militan, yang tidak bisa diukur dengan logika. “Bahasa hate” kata orang sunda mah.
Suka tidak suka, Persib punya potensi mendongkrak semua hal dari Bandung khususnya dan Jawa barat pada umumnya. Manajemen Persib harus mau dan pada akhirnya harus mampu mendorong ekosistem bisnis di sekitarnya untuk tumbuh. Jangan selesai pada atribut Persib saja, namun kecintaan pada kota Bandung, pada kulinernya, pariwisata-nya dan juga pada atribut yang dimiliki kota ini. Di lubuk hati saya, keyakinan itu ada. Saya perkirakan, jika Persib mampu jadi juara di level Asia. Maka kota Bandung akan dihitung sebagai kota tujuan wisata internasional. Ketika hal itu terjadi, apakah ekosistem kota ini sudah siap? Pemerintah kota dan provinsi sudah seharusnya bersiap dan bersikap lebih progresif dan menyadari potensi Intangible Industri ini. Jika pada akhirnya saat itu tiba, saya berharap semoga efek domino ekonomi dari sebuah klub bernama Persib Bandung tidak hanya dirasakan oleh manajemen Persib semata. Namun bisa dirasakan oleh komponen ekosistem bisnis yang lain. Jung maju maung Bandung!
*) Menonton Persib di Stadion sejak 1986