Paceklik Ekonomi dan Moral

Oleh : Kurnia Fajar*

Tadi pagi saya nonton “How the Economic Machine Works”-nya Ray Dalio saya jadi teringat QS. Yusuf (12) ayat 46-49. Pada intinya economic crisis dan economic boom adalah sebuah kepastian, yang digambarkan oleh Al-Qur’an sebagai 7 tahun musim panen dan 7 tahun musim paceklik. Tidak pernah meragukan Al-qur’an. Tapi memahami hikmahnya selalu melalui jalan yang tidak pernah disangka-sangka. Ramadhan sama Lebaran biasanya jadi momentum bagi masyarakat untuk mencari keuntungan yang dua kali lipat dari biasanya, tapi tahun ini ekonomi bener-bener lesu. Kalau kita perhatikan, sekarang yang beli takjil nggak seramai tahun-tahun sebelumnya. 54,42% pondasi roda ekonomi kita berasal dari konsumsi rumah tangga alias aktivitas orang belanja. Begitu daya belinya keok, ya ekonominya lesu. Gimana gak lesu digencet living cost sana sini, biaya sekolah/kuliah makin ga ngotak, ada yg kena PHK, sampai kecanduan judi online. Ini salah satu isu yang harus kita prioritaskan. 70% ekonomi kita ada di pasar tradisional. Kalau usaha mereka lesu, bagaimana ekonomi negara bisa bergerak cepat, apalagi kita sangat tidak ingin adanya usaha yang sampai tutup akibat ketidak stabilan harga-harga bahan pangan.

Demokrasi tidak akan bisa berdiri tanpa masyarakat terbuka yang kritis dan merdeka dalam berpikir. “Open society” berdiri diatas dan ditopang oleh kepercayaan masyarakat akan institusi-institusi penghasil pengetahuan, dan rujukan etik. Kita sedang hidup didalam Post-truth, sebuah era dimana kepercayaan akan institusi-institusi seperti perguruan tinggi dikikis oleh pembodohan. Pembodohan adalah racun bagi demokrasi, yang mereduksinya menjadi semata-mata populisme. Alih-alih meritokrasi dan integritas—populisme mengisi ruang politik dengan lawak, mediokritas dan kebijakan yang latah. Yang viral itu yang benar. Perubahan tidak (pernah) lahir dari belas kasih penguasa, tapi dari Rakyat yang benci akan pembodohan. Langgar etika dianggap tidak masalah selama tidak langgar hukum. Padahal dalam filsafat moral, hukum adalah produk dari etika. Artinya, orang yang melanggar etika sejatinya melanggar hukum. Cak Sukidi seorang peneliti dan kolumnis Tempo mengatakan : Republik ini diselenggarakan dengan standar moral yang rendah. Rendahnya Kepatuhan pada aturan hukum membuat republik semakin jauh dari impian negara maju. Padahal, menurut sukidi dengan merujuk pada data bank dunia, kepatuhan pada hukum menempati porsi 44 persen dari total aset kekayaan suatu negara. Sepertinya Marx salah, bukan agama yang menjadi candu. Namun kekuasaanlah candu yang mematikan nalar.

Nietzsche pernah menulis dalam bukunya tentang dekadensi moral ini sebagai “kawanan manusia kerdil”. Dimasa industrial ini sungguh pun “kawanan manusia kerdil” ini sukar atau nihil untuk mengamini nilai apa lagi untuk men-transvaluasi-nya, dekadensi moral terjadi atas kehendak akumulasi untuk keuntungan pribadi ataukawanannya, bahwa sungguhpun kebrutalan yg terjadi dalam lingkup paling kecil hingga terbersar sekalipun dengan sikap yg seolah asketis ini terjadi dalam perampokan hak dari manusia lainnya, sukar menemukan ide otentik dalam kawanan ini mereka cenderung menunggu pengerdilan. Reformasi cuma hasilkan musim paceklik moral sepanjang masa.  Cuma omong “gak impor beras” saja langsung pada jumpalitan tepuk tangan. Histeris.

Suatu malam, saya bertanya kepada ibu tentang ayat yang selalu ibu baca dalam shalatnya yaitu “Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban?” (Maka Nikmat Tuhan Manakah Yang Kamu Dustakan?) ayat ini diulang 31 kali dalam Surat Ar-Rahman. Kenapa begitu banyak? Ibu hanya tersenyum dan balik bertanya, “Menurutmu, apa perbedaan keyakinan dan keimanan?” Saya terdiam.
“Keyakinan bisa goyah,” kata ibu. “Tapi iman mengakar. Keyakinan datang dari banyak hal, tapi iman membawamu pada satu hal: kepasrahan”
Malam itu, sholat Isya baru saja dikumandangkan. Hujan deras mengguyur, area dalam masjid sudah penuh, tapi banyak yang tetap bertahan untuk sholat. Ada banyak alasan untuk berhenti, tapi keimanan mereka seolah menjadi pelindung dari segala rintangan membuat teringat percakapan dengan Ibu. Di sini, saya paham: iman bukan sekadar percaya. Iman adalah tetap teguh, meski segala alasan mengajakmu mundur. Ramadhan ini terasa berbeda. Ibu mungkin sudah pergi, tapi setiap malam, saya belajar makna baru dari apa yang pernah disampaikannya.

Kali ini saya belajar Bahwa nikmat bukan hanya yang terasa manis, tapi juga yang menguji: kesabaran, keteguhan, bahkan kehilangan. semuanya adalah pengingat bagi kita untuk tak pernah berhenti bersyukur. Di tengah dunia yang tak pasti, semoga kita selalu menemukan kebahagiaan kecil—dalam sholat yang tak terganggu hujan, dalam sabar yang tak lekang waktu, dan dalam iman yang terus membisikkan: “Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban?” Manusia bijak dan dewasa adalah manusia yang mau mengakui kesalahannya. Meski dengan mengakui kesalahan akan membuatmu direndahkan. Namun percayalah, ketika kamu mengakui kesalahan dan kembali ke jalan Tuhan, derajatmu saat itu juga telah ditinggikan oleh Tuhan.

*)Gerilyawan selatan, Pengamat ikan di dalam kolam

Satu respons untuk “Paceklik Ekonomi dan Moral

  1. BIsmiLLAH……
    Idzin untuk bergabung ya Pak Kurnia Fajar…
    ALLAH SubhanaHu wa Ta’ala BerFirman :
    اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ
    Innamal-mu’minūnal-lażīna iżā żukirallāhu wajilat qulūbuhum wa iżā tuliyat ‘alaihim āyātuhū zādathum īmānaw wa ‘alā rabbihim yatawakkalūn(a).
    Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah,304) gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal,
    📖 Surah 8 ( Al-Anfal )Ayat 2.
    الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
    Al-lażīna āmanū wa taṭma’innu qulūbuhum biżikrillāh(i), alā biżikrillāhi taṭma’innul-qulūb(u).
    (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.
    📖 Surah 13 ( Ar-Ra’d ) Ayat 28.
    وَالْعَصْرِۙ
    Wal-‘aṣr(i).
    Demi masa,
    اِنَّ الْاِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍۙ
    Innal-insāna lafī khusr(in).
    sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,
    اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ ەۙ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ ࣖ
    Illal-lażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqq(i), wa tawāṣau biṣ-ṣabr(i).
    kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.
    📖 Surah 103 ( Al-‘Ashr ) Ayat 1-3.
    Berbekal AyatuLLAH diatas, cukup kiranya kita menjalani hidup dengan-dalam-secara ‘Aman’. Kata ‘Iman’ mengandung arti ‘Aman’. Sehingga Orang Yang BerIman -mustinya- adalah Mereka yang senantiasa merasa ‘Aman’ ( Internal ) dan kemudian bisa-senantiasa cenderung memberi-menciptakan situasi-kondisi Aman terhadap lingkungan ( Eksternal ). Internalisasi keImanan kontekstuasinya adalah sebagai AbduLLAH ( Hablum minaLLAH ). Sedangkan Eksternalisasi keImanan konteksnya ada pada fungsi Amanah sebagai Khalifah ( Hablum minan Naas ), dus aspek sosial ( Muamalah ). Apabila dianalogikan sebagai Tanah, maka Iman musti dijaga-dipelihara Stabiltasnya, keSuburannya. sehingga ‘Benih’ Ilmu dan Amal Sholih apapun yang ditanam pada Tanah tersebut akan Tumbuh d/a berKembang dengan Baik di atasnya. Akar yang kuat ( Radikal-Fundamental secara Internal ), pokok batang yang kokoh, dahan ranting berdaun lebat, menghasilkan buah yang Lebat pula, dus Besar Manfaat ( Sosial – Eksternal )…… Tumbuhlah diatas Tanah ( Iman ) itu, Pohon yang setiap hari setia pada siklus ‘siang-malam’ yakni ‘Mengeluarkan Oksigen ( Manfaat-Mashlahat ), dan Menyerap racun karbon dioksid ( -potensi- madharat-munkarat ). Iman adalah Tanah yang menumbuhkan Pohon. Dan Pohon adalah Amalan yang Menguatkan-MenStabilkan Tanah. Terbentuklah hubungan Integral yang membentuk-membangun Integritas dan Sinergitas keduanya. Tanah menjadi tak mudah mengalami erosi ( tak tergerus oleh dekadensi prinsip, etika, atau nilai moral-susila ). Dan Pohon tak mudah meranggas diterpa panas. Tetap Tegak-Istiqomah diterpa angin kencang , oleh badai yang sporadis datang dari arah kiri-kanan-depan-belakang secara bergantian, bahkan secara simultan…
    Semoga Pak Kurnia Fajar adalah salah satu Sosok yang tetap setia untuk terus merawat Tanah itu, demi menumbuh kembangkan Pohon Pohon Yang BerManfaat-Mashlahat bagi Umat sebagai Amanat…
    BisSalaam……

    Suka

Tinggalkan Balasan ke sawijining menungsa Batalkan balasan