Oleh : Kurnia Fajar*

Hari-hari belakangan ini, saya sedang terkenang dengan kebaikan kang Dadang, saya biasa memanggil beliau dengan sebutan kang Haji, dan beliau memanggil saya dengan sebutan ayi Kurfa. Barangkali beliau adalah satu-satunya orang yang memanggil saya dengan sebutan Ayi. Takdir mempertemukan saya dengan kang Dadang ketika saya memutuskan berkecimpung dalam lapangan politik. Ketika baru mulai mengenalnya, saya katakan “dalam politik saya ini yatim piatu, tidak punya sandaran kepada siapa-siapa”. Kang Dadang, menanggapi dengan hangat “teu nanaon yi, engke abdi nu jadi bapana”. Ketika di puncak kemenangan perjuangan politik, ketika merengkuh kekuasaan, kalimat itu terdengar biasa saja. Namun ketika di titik terendah, terlempar dari panggung kekuasaan, ucapan tersebut sangatlah berharga. Di saat semua mahluk menjauh, rasanya sosok mentor, ayah akan menjadi harta yang tak ternilai harganya. Perjalanan waktu akhirnya membuktikan, bahwa ucapannya tulus, dalam setiap interaksi, kesetiaan kepada misi perjuangan adalah yang utama. Benefit ekonomi hampir tak pernah keluar dari mulutnya, dalam berbagai kesempatan beliau hanya meminta peluang untuk komunitasnya. Rekan-rekannya yang masih kesulitan mencari nafkah.
Politik Indonesia kita ketahui, sangatlah feodal, primordial dan masih mementingkan nasab. Jika anda anak Presiden atau mantan presiden, minimal anak anda bisa menjadi pejabat negara seperti ketua dan anggota DPR, Menteri, ketua Partai dan jabatan lain yang memungkinkan anda bisa menggunakan pengaruh untuk mencapai kekuasaan (kembali). Saya mencatat hanya GusDur dan BJ Habibie yang tidak ikut-ikutan feodal. Tapi inilah realita di Indonesia Republik tapi rasa Feodal. Saya pernah melakukan riset kecil-kecilan, dan saya menilai hampir semua partai politik tetap mempertahankan corak feodalnya dengan beragam cara. Jadi itulah mengapa saya gunakan diksi “yatim piatu dalam politik” karena ketika engkau bukanlah anak dari seseorang, maka penguasa akan memperlakukan engkau seperti “anak kost” atau pekerja dalam sebuah rumah yang bernama kekuasaan politik. Dalam perjalanan “berjuang” bersama kang Dadang setidaknya saya mencatat ada 3 (tiga) persamaan antara saya dengan beliau, pertama kami adalah orang-orang yang ditempa di lapangan, demonstrasi ekstra parlementer, kedua kami dibesarkan dalam komunitas seni, jika kang Dadang berkesenian bersama Remy Sylado, maka saya ditempa oleh WS Rendra. Ketiga, kami memiliki passion pemberdayaan terhadap kaum marjinal, rakyat bawah yang ber-abad-abad tetap miskin meskipun hidup di Nusantara yang kaya ini.
Awal dekat secara emosional dengan kang Dadang adalah ketika, aksi fenomenal 212, meskipun belum saling mengenal baik, tapi karena ada kesamaan visi berjuang kami kompak di lapangan. Setelah aksi 98, barangkali aksi di tahun 2016 lalu adalah fragmen yang akan saya kenang dalam perjalanan hidup. Kang Dadang sering memaksa saya untuk melampaui batas kemampuan diri, dari mulai Cileunyi sampai Padalarang kami membersamai kawan-kawan dari Ciamis berjalan kaki. Kekompakan di momen 212 tersebut membawa kami akan agenda-agenda keumatan yang langsung bersinggungan dengan rakyat dari mulai pasar, pertanian, buruh dan nelayan. Tidak ada kesepakatan tertulis, tidak ada brainstorm dan adu pendapat, semuanya mengalir saja. Dari kang Dadang, saya berjumpa langsung dan sedikit eksklusif dengan Habib Rizieq, dengan pengurus FPI Jawa Barat dan dengan beragam tokoh pergerakan Islam lainnya, saya takjub karena dahulu kawan-kawan banyak beraliran kiri, namun kini saya berada di tengah-tengah “kanan”. Bagi saya, yang penting adalah bagaimana sebuah perjuangan bisa mengubah bangsa ini menjadi lebih baik. Dalam perjalanan, jika ada fragmen-fragmen politik, maupun hal yang kurang enak terdengar beliau ba’da subuh sudah di depan rumah saya dengan motor bebek tua-nya menyapa dan langsung menanyakan hal yang terjadi. Dalam islam hal ini dikenal dengan istilah Tabayyun. Barangkali satu-satunya yang selalu bertabayyun kepada saya adalah beliau. Mayoritas masyarakat kita lebih senang mendengarkan informasi pihak ketiga yang seringkali “jauh panggang dari api” itulah mungkin mengapa acara gosip sangat digandrungi disini. Kesukaan bergosip ini berbanding lurus dengan rendahnya skor literasi Indonesia yaitu peringkat PISA ke 69 dari 80 negara.
Seorang kawan, politikus senior pernah mengatakan begini “mungkin kang Dadang bukan tulus, tapi memang penugasan dari partai untuk ngawasin lu”. Pendapat-nya sah-sah saja, tapi ketulusan, kebaikan bukankah bisa kita rasakan? Ada kenikmatan ketika usai berjuang, meneteskan air mata ketika upaya politik mencapai keberhasilan. Saya rasakan itu dalam perjalanan pendek bersahabat dengannya. Pada suatu ketika beliau pernah berujar pada saya “mungkin saya bukan orang baik, tapi setidaknya saya ada dalam barisan perjuangan bersama orang-orang yang saya yakini baik”. Ketika hari berpulang beliau tiba, saya kaget, karena dua hari sebelumnya kami masih berjumpa dan membahas satu agenda di kantor. Saya hanya bisa merenungi, karena sejak hari itu, saya kembali menjadi yatim piatu di dunia politik, kembali menjadi Ronin yang berharap kelak bisa menjadi seorang samurai kembali, Hari ini di penghujung Mei 2026 , menjelang enam tahun kepergian-nya, saya mengingatnya, mendoakannya dan bersaksi bahwa beliau adalah orang yang baik. Saya membayangkan jika beliau masih ada, tentu beliau akan Tabayyun, memeluk saya dan melakukan tugasnya sebagai sahabat. Selamat beristirahat kang, Rabb yang selalu engkau rindukan kini telah memelukmu. InsyaAllah buku, yang tertunda tahun depan akan diterbitkan. Perjuangan tidak akan pernah berhenti seperti pesan Rasulullah SAW yang engkau idolakan “Amar Maruf nahi Munkar” dan bermanfaat untuk orang lain. Allahumagfirlahu warhamhu waafihi wafuanhu
*) Sahabat kang Dadang (Semoga Allah selalu merahmati beliau)