Oleh : Kurnia Fajar*

Tadi pagi selepas Subuh, saya menonton film Dilan ITB 1997 di Netflix—film adaptasi novel karya Pidi Baiq sekaligus karya kelima atau keenam dari Dilan Universe. Tulisan ini tidak akan mengulas jalan cerita, kualitas akting, atau memberikan penilaian rating. Saya justru tertarik menyoroti dialog antar-ideologi politik di dalamnya. Meskipun hadir dalam penggalan-penggalan pendek, penulis skenario dan sutradara cukup cerdik menampilkan pertukaran gagasan tersebut. Latar waktunya pun sangat pas, yaitu periode menjelang Reformasi yang berpuncak pada kejatuhan Soeharto.
Film dibuka dengan alur maju-mundur saat Dilan baru saja pulang dari Kuba. Cukup unik melihat ITB dikisahkan memiliki program pertukaran pelajar dengan Kuba—sebuah negara berhaluan komunis—padahal Indonesia kala itu sangat membatasi ruang bagi ideologi tersebut. Terdapat banyak adegan yang menegaskan orientasi ideologi Dilan yang cenderung Kiri (dapat diasosiasikan dengan marxisme, sosialisme, atau komunisme). Saat tiba di rumah dan bertemu Ibunya, Dilan lupa mengucapkan salam dan berseloroh bahwa salam di Kuba adalah “Revolusi!”. Begitu masuk ke kamar, dindingnya dihiasi gambar tokoh-tokoh gerakan Kiri. Bahkan dalam percakapan saat makan malam di rumah Ancika, topik yang diangkat adalah tentang cerutu, di mana Dilan secara spesifik menyebut nama Che Guevara ketimbang Fidel Castro. Seperti yang kita ketahui, Che Guevara adalah pejuang revolusi, dokter, penulis, pemimpin gerilya, diplomat, serta teoritikus militer asal Argentina berhaluan Marxis. Sebagai figur sentral Revolusi Kuba, wajahnya telah menjadi simbol perlawanan global dalam budaya populer dan gerakan counterculture.
Pada hari berikutnya, dialog ideologis berlanjut melalui pertemuan Dilan dengan seniman, budayawan Bandung, sekaligus dosen ITB, Tisna Sanjaya. Dalam adegan tersebut, Kang Tisna mengucapkan frasa asing—kemungkinan berbahasa Jerman atau Belanda—yang jika diterjemahkan bermakna “Sama rata, sama rasa, alias gotong royong.” Ucapan ini dilontarkan Kang Tisna untuk merespons pernyataan Dilan bahwa kemiskinan tidak akan menjadi masalah jika para pejabat di Indonesia juga ikut miskin.
Namun, adegan yang menurut saya paling ikonik dan menjadi gong cerita adalah ketika Dilan mendatangi kelompok mahasiswa Islam (GAMAIS) ITB. Ia membacakan puisi provokatif dengan berteriak, “Tidak ada Tuhan!” Sontak, para mahasiswa dan mahasiswi yang mendengar dibuat kaget dan bersitegang. Setelah jeda beberapa detik yang hening, Dilan melanjutkan bait puisinya, “…selain Allah.” Ketegangan pun seketika mencair. Saya tertawa lepas menyaksikan adegan tersebut.
Alur film terus berjalan. Dalam salah satu adegan, Dilan yang sudah mengenakan helm tampak memakai kaos berlogo bintang merah—simbol klasik sosialisme dan komunisme yang menyimbolkan persatuan kaum proletar lintas lima benua atau lima pilar masyarakat sosialis (buruh, petani, pemuda, militer, dan intelektual). Kesadaran kelas ini makin dipertegas dalam adegan di studio lukis rumah Dilan bersama Ancika, seorang tukang becak, dan tukang bakso dilukis dalam kostum pejabat. Ketika Ancika berujar, “Hebat ya jadi pejabat,” Dilan menyahut singkat namun menohok: “Ya, kesetaraan!”
Pada saat Dilan bertemu Milea yang merupakan sosok kelas menengah aristokrat yang memiliki privilege terhadap akses. Dalam usianya yang cukup muda sekitar 25 tahun saya rasa, Milea sudah menjadi manajer, sementara Dilan masih kuliah, menggunakan motor yang sama serta jaket yang sama. Film seolah ingin menunjukkan bahwa bagi Milea sukses adalah pemilikan terhadap materi dan memiliki kuasa.
Ada adegan yang menurut saya adalah
*) Gerilyawan Selatan
Bahas hana dan anak punk di toko buku
Ideologi cinta ancika dan ideologi cinta mamanya Dilan (Sufi)
Adegan di mobil Dilan mau ke dukun beranak, supaya terlahir lagi (suci) direspon Ancita : berTuhan lagi dong