Oleh : Harry Khoirul Anwar*

Rabu sore, Anwar sedang ngobrol di sebuah coffeeshop bersama Fitra, keduanya mantan aktivis. Anwar adalah kader Partai yang logonya kepala kerbau, untuk menyambung hidup Anwar menjadi konsultan survey bagi para politisi dan partai politik, Kadang-kadang Anwar juga mengerjakan proyek-proyek pemerintah dari relasi dan kenalan para politisi, bahkan kadang-kadang jasa survey-nya dibayar oleh proyek. Sementara Fitra pernah menjabat ketua Partai medioker di Provinsi yang menjadi barometer poltik nasional, ia adalah anggota Himpunan mahasiswa yang sangat moncer dalam urusan politik, bahkan dalam kabinet pak Subi (Presiden petahana) ada 25 (dua puluh lima) orang kader dari Ormas Himpunan Mahasiswa. Karena itu pula-lah Fitra sangat dekat dengan Kang Mulya yang notabene kader Ormas Himpunan mahasiswa yang sekarang menjabat Gubernur, kedekatan dengan para pejabat publik dan penguasa tidak serta merta menjadikan hidup mereka senang, reputasi dan rekam jejak memang sadis di dalam dunia politik. Dalam pembicaraan yang gayeng, Tiba-tiba Anwar curhat kepada Fitra “kang, bulan Juni sudah berlalu, tapi saya belum dapat kontrak pekerjaan dan tidak memiliki uang untuk persiapan sekolah anak-anak saya. Fitra menimpali pendek “ Bukannya sudah ketemu pak Hisyam dan Haji Prima? ” Anwar cepat membalas “sudah, tapi belum closing jadi uang”. Pak Hisyam adalah adik Pak Subi presiden dan Haji Prima adalah Ketua Partai burung gagak, partai kepunyaan Pak Subi. Dalam benak Fitra, seharusnya Anwar tidak dalam kesulitan lagi.
Anwar menambahkan lagi “harus ada modal kang untuk mengeksekusi peluang-peluang dari pak Hisyam dan haji Prima, sementara, relasi pengusaha saya terbatas. Kalo akang bagaimana? Masa gak dikasih kerjaan sama kang Mulya? “ Fitra mengangguk sekaligus menggeleng “dikasih mah ada, tapi belum optimal, mungkin banyak pertimbangan lain bagi kang Mulya untuk memberikan pekerjaan Diskusi tiba-tiba harus berhenti, karena televisi menyiarkan breaking news, Anwar dan Fitra spontan menghadap layar TV, menyimak dengan cermat. “Kortastipidkor Polri menggandeng Ditreskrimsus Polda Metro Jaya menggelar operasi gabungan (joint investigation). Tim gabungan melakukan penggeledahan serentak di 12 lokasi mewah yang mencakup kantor korporasi, rumah, apartemen, serta tempat usaha. Langkah ini mengaitkan tiga perkara besar sekaligus, termasuk perkara korupsi batu bara anak usaha PLN, kasus ASABRI (2020-2025), dan utang PT CBS. Dari hasil rangkaian penggeledahan, tim penyidik menyita aset-aset bernilai sangat tinggi yang diduga kuat sebagai hasil tindak pidana korupsi dan pencucian uang (TPPU), di antaranya: Emas batangan 74 Kilogram, uang dari beragam mata uang asing senilai hampir 500 Milyar rupiah”. Demikian narasi reporter di layar TV menginformasikan tentang peristiwa yang cukup dahsyat ini, sambil memegang HP masing-masing, Fitra dan Anwar saling pandang, kemudian sibuk memandangi layar HP mencoba mencari lebih dalam dari informasi layar TV barusan. Sekitar 10 menit berselang, Fitra tiba-tiba bersuara “ari kondisi kieu teh sok inget kang Rasdi, isuk urang longok yu? Anwar langsung Meng-iya-kan. Besok ketemu di parkiran Lapas-nya? Jam 09.30 seperti biasa. Lalu mereka bubar.
Di belahan dunia lain, di dalam ruang komunal milik Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), Rasdi sedang bercengkrama dengan beberapa kawannya ketika layar TV menyiarkan berita yang sama, sambil menyimak berita Rasdi bergumam “Kenapa Kejaksaan dan Kepolisian jadi berantem begini? ” Persis di bulan Juli di antara hari bhayangkara dan hari Adhyaksa yang akan jatuh tanggal 12 Juli? “Ingin rasanya pergi ke Wartel untuk menghubungi Fitra dan Anwar sahabat-nya, namun apa daya, Rasdi masih bokek, kemudian ia melipir ke dalam sel-nya dan memulai menulis dalam buku tulis A3 bergambar depan motif batik, ia menulis dengan huruf kapital SAMPAI KAPAN PENYELENGGARA NEGARA MABUK KEKUASAAN? KENAPA MEREKA TEGA MENGKHIANATI RAKYAT
1. Telah terjadi tragedi memalukan dan mencoreng muka presiden dalam sejarah Republik Indonesia sebagai kepala Negara dimana polisi dan kejaksaan bertengkar dan saling sandera dalam pemberantasan tindak pidana korupsi
2. Terjadi anomali dalam logika para penegak hukum. apa yang menjadi tugas dianggap prestasi sementara yang menjadi tanggung jawab dilupakan. Tindakan tersebut tidak ada Manfaatnya sama sekali bagi rakyat Indonesia yang saat ini sedang kesulitan, bahkan hanya untuk sekedar makan dan menyekolahkan anak
3. Menyerukan seluruh rakyat Indonesia untuk mendesak presiden Prabowo dan DPR RI untuk mengganti Jaksa Agung dan kapolri serta menghadapkan ke muka hukum semua pihak yang terlibat
4. Saatnya revolusi kembali kepada jatidiri bangsa Indonesia, yang egaliter dan Gotong royong
Selama menjalani hukuman, untuk mengusir rasa bosan, Rasdi memang senang menulis, sudah lebih dari 6 (enam) buku ia tulis selama ini, kadang Rasdi memperlihatkan Karya-karyanya kepada Fitra dan Anwar, Sambil menahan amarah dan rasa jengkel, tiba-tiba Rasdi teringat, bahwa hari senin mendatang, ia harus membayar sekolah anaknya. Cepat ia menyobek halaman bulu tulis, bermaksud mengirim surat untuk Anwar dan Fitra agar membantunya mencarikan uang agar anaknya dapat bersekolah. Masih ada waktu menitipkan surat kepada sipir, Rasdi bicara sendiri pada dirinya
“Kang Fitra dan Anwar, anak saya tidak diterima di SMP negeri, karena di luar zonasi, saya sudah kirim surat ke ketua DPRD namun jawabannya kosong, Satu– satunya jalan hanyalah masuk swasta dan itu artinya harus ada 10 juta. Rasdi yang mantan aktivis dan pernah menjadi Direktur BUMD ini terpaksa harus mendekam dalam penjara, perkara utang piutang yang seharusnya delik perdata. Nasibnya makin tidak karuan karena uang pinjaman tersebut dibawa kabur oleh kawan-nya. Akibatnya, Rasdi menjadi kaum miskin baru, anak istrinya terpaksa harus keluar dari rumah dan menumpang di sebuah gudang milik bibi-nya di pinggiran kota yang tentu saja tidak terkena zonasi SMP di kotanya. Keadaan makin parah karena karakternya dibunuh sehingga ia sulit mendapatkan pekerjaan dari kawan dan kolega- nya karena semua menjauh dari Rasdi. Praktis selama ia menjalani hukuman Rasdi hanya berharap dari kebaikan orang-orang yang masih peduli kepada keluarganya. Rasdi, memiliki 4 (empat) orang anak dan semuanya masih bersekolah SMA, SMP, SD dan TK, kebetulan tahun ini anaknya lulus SD dan segera masuk SMP. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Rasdi mati-matian cari cara agar anaknya dapat bersekolah. Dalam perspektif penulis, di luar sana masih banyak Rasdi-Rasdi yang lain sedang bertaruh nasib untuk sekedar bertahan hidup di Republik Indonesia yang makin tak ramah pada kaum miskin dan marjinal. Negeri ini sudah terlalu angkuh dan kebanyakan narasi, cita-cita proklamasi 17 Agustus yang ingin mencerdaskan kehidupan bangsa, melindungi segenap tumpah darah hanyalah omong kosong belaka.
Coba anda renungkan, Anwar hanya sejengkal dari pusat kekuasaan, Fitra hanya berjarak Sepelemparan batu dari episentrum Gubernur, Rasdi yang mantan pejabat publik itu harus menyerah dengan status kaum miskin baru. Anwar,Fitra dan Rasdi masih merangkai asa untuk mendapatkan penghidupan layak dan keadilan. Lalu bagaimana dengan puluhan juta rakyat lainnya yang tidak memiliki akses kepada kekuasaan, tidak memiliki akses kepada ekonomi dan sumber daya alam, apakah saatnya Indonesia revolusi? Diruwat agar negeri ini lebih setara dan lebih merata, marilah kita renungkan. Tabik!
*) Penulis adalah Direktur Eksekutif Jaringan Survey Independen