Untukmu Jabar yang (belum) Istimewa

Oleh : Kurnia Fajar*

Gubernur Dedi Mulyadi, menggunakan Tagline “Jabar Istimewa” Sebelumnya Gubernur Ridwan Kamil punya tagline “Jabar Juara” Lalu Gubernur Ahmad Heryawan memiliki tagline “Jabar kahiji”. Jika kita meyakinkan diri pada satu kalimat misalnya “aku juara” Maka jika memahami neuroscience hal tersebut akan terjadi. Katanya ada tiga komponen untuk menjadi niscaya yaitu Frekuensi, vibrasi dan afirmasi. Jika merujuk kepada kepada ilmu neuroscience (ilmu saraf), frekuensi, afirmasi, dan vibrasi sering kali menjadi jembatan antara sains modern dan konsep pengembangan diri (metafisika). Jika kita mengupasnya dari sudut pandang ilmiah, istilah “vibrasi” dan “frekuensi” yang sering terdengar abstrak di dunia spiritual sebenarnya memiliki padanan biologis yang sangat nyata di dalam otak kita.Ketika Anda secara konsisten meyakinkan diri dengan kalimat “Aku juara,” proses yang terjadi di dalam otak dan tubuh Anda bukanlah keajaiban mistis yang instan, melainkan sebuah rekayasa biologis yang sangat sistematis.Dalam neuroscience, otak kita adalah organ elektrokimia. Setiap aktivitas mental (berpikir, tidur, fokus) menghasilkan aktivitas listrik yang bisa diukur menggunakan EEG (Elektroensefalografi). Aktivitas ini diukur dalam satuan Hertz (Hz) atau frekuensi. Ketika seseorang melakukan meditasi atau fokus mendalam, mereka sengaja menurunkan frekuensi otak dari Beta ke Alpha atau Theta. Kemudian, afirmasi—pernyataan positif yang diulang-ulang—bukan sekadar “kata-kata motivasi”. Dari kacamata neuroscience, afirmasi memanfaatkan sifat otak yang disebut Neuroplastisitas (Neuroplasticity), yaitu kemampuan otak untuk merestrukturisasi dirinya sendiri berdasarkan pengalaman dan pemikiran yang berulang.

Terakhir, Vibrasi sering diartikan sebagai energi mistis yang dipancarkan tubuh. Namun secara neuroscience dan biologi, vibrasi ini adalah hasil dari keadaan emosional (emotional state) yang mengubah kimia tubuh. Pikiran positif (seperti rasa syukur/Gratitude) mengaktifkan neurotransmitter seperti dopamin, serotonin, dan oksitosin. Jantung berdetak dengan ritme yang teratur (heart coherence). Kondisi biokimia yang stabil dan tenang inilah yang secara metaforis disebut sebagai “vibrasi tinggi”. Ada hukum dalam neuroscience yang berbunyi: “Neurons that fire together, wire together.” Ketika Anda mengucapkan afirmasi secara konsisten, Anda sedang mengaktifkan sekelompok neuron secara bersamaan. Lama-kelamaan, jalur saraf (neural pathways) baru akan terbentuk dan menguat. Sederhananya: Neuroscience membuktikan bahwa afirmasi yang dilakukan pada frekuensi otak yang tepat dapat mengubah jalur saraf, yang kemudian memanifestasikan dirinya sebagai perubahan emosi dan energi (vibrasi) yang memengaruhi cara kita berinteraksi dengan dunia. Nah sekarang mari kita buktikan hubungan antara tagline dengan kenyataan di lapangan.

Jabar Kahiji (Aher): Berorientasi pada pencapaian posisi. Parameter suksesnya mutlak: Apakah berada di urutan nomor satu atau tidak? Contohnya sangat empiris: Juara Umum PON (menghitung medali), Opini WTP (sertifikasi BPK), atau realisasi investasi tertinggi (menghitung nilai rupiah). Lalu kemudian Jabar Juara (Ridwan Kamil): Berorientasi pada kompetisi dan performa. Indikatornya kelihatan secara fisik dan digital. Ada piala, ada aplikasi yang bisa diunduh, ada ratusan penghargaan dari lembaga eksternal, dan ada infrastruktur ikonik yang bisa difoto.  Sebaliknya, “Istimewa” masuk ke dalam ranah kualitatif dan filosofis. Istimewa bukanlah soal mengalahkan provinsi lain dalam sebuah perlombaan statistik, melainkan tentang bagaimana warga merasakan kehadiran sebuah sistem. Seperti yang kita bahas pada konsep vibrasi dan state of mind, “Istimewa” menyasar rasa aman, rasa dihormati, dan rasa memiliki identitas. Ketika seorang warga miskin di pelosok desa merasa urusan kesehatannya langsung dibantu tanpa dipersulit birokrasi, rasa syukur dan keadilan yang muncul di hatinya adalah sesuatu yang intangible—tidak bisa diwakili oleh selembar sertifikat penghargaan. Kebudayaan dan kearifan lokal (seperti nilai-nilai silih asih, silih asah, silih asuh) adalah entitas yang hidup dalam perilaku, bukan sekadar angka di atas kertas BPS. Sesuatu menjadi istimewa justru ketika ia memiliki “ruh” yang unik dan tidak bisa direplikasi oleh teknologi digital secanggih apa pun. Melihat hal ini saya akhirnya meyakini bahwa kata-kata bisa terwujud karena itulah yang saya rasakan ketika dipimpin oleh kang Aher atau Kang Emil, artinya di masa KDM Jabar tidak akan juara dan menjadi nomor satu? Mari kita elaborasi sedikit di bawah ini :

Jika kita analogi-kan sedang naksir perempuan atau naksir sesuatu yang kita dambakan, maka  istimewa adalah cara paling manusiawi dan paling mudah dipahami untuk membedakan ketiga konsep tersebut. Saya mencoba memindahkan teori komunikasi politik yang rumit ke dalam realitas perasaan yang dialami setiap orang. Mari kita bedah analogi cinta ini, karena ini mengekspresikan perbedaan ketiganya. Kahiji dan Juara adalah hal yang tangible dan bisa diukur.  Misalnya, “Cantiknya Juara” Ada standar fisik yang bisa dilihat mata (wajah simetris, gaya berpakaian, penampilan). Orang lain yang melihatnya pun kemungkinan besar akan setuju karena wujudnya kelihatan Atau “pintarnya kahiji” Ini bisa dibuktikan dengan data. IPK-nya tertinggi, lulusan universitas ternama, atau dia selalu menang lomba. Ini adalah pencapaian yang terukur. Namun ketika kita mengatakan seorang perempuan itu istimewa, Kita sedang membicarakan resonansi emosional (vibrasi) dan kenyamanan. Dia mungkin bukan perempuan paling cantik atau paling pintar, Tetapi ketika Anda berada di dekatnya, ada rasa damai, rasa diterima apa adanya, dan rasa aman yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Kenyamanan di hati tidak memiliki alat ukur. Kita tidak bisa menghitung “kenyamanan saya malam ini ada di angka 85Hz”. Rasa nyaman itu muncul karena adanya kecocokan jiwa, ketulusan dan cara memperlakukan yang memanusiakan perasaan Anda. So, jika di masa Kang Aher dan Kang Emil kita dipenuhi prestasi, maka sudah-kah anda merasa nyaman di masa KDM ini? Jika belum saatnya KDM gunakan neuroscience, selaraskan frekuensi, Afirmasi dan vibrasi dengan masyarakat Jawa Barat, jika terasa masih sulit, cukuplah KDM selaraskan dulu dengan yang nyaman di hati. Tabik!

*) Peneliti Senior pada Jaringan Survei Independen

Tinggalkan komentar