Naskah Panembahan Reso dan Sang Perampok karya WS Rendra dengan Fenomena Jaksa VS Polisi

Oleh : Kurnia Fajar*

Khotbah soal moral omong keadilan
Sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu lobying dan upeti woo jagonya
Maling kelas teri bandit kelas coro
Itu kantong sampah

Lagu Bento milik Iwan Fals yang dirilis tahun 1989, menghentak sore hari yang mendung di langit Jakarta, di sebuah warung kopi dekat gedung Bentara Budaya milik Kompas media Group. Sore ini aku memang janjian dengan seorang kurator disana. Di televisi milik pedagang kopi berita masih menyiarkan peristiwa Jampidsus yang rumahnya digeledah oleh Kepolisian. Jaksa dan Polisi berseteru, dua institusi penegakkan hukum yang seharusnya kompak dan menciptakan keadilan bagi semua orang di Republik ini. Tiba-tiba saja lagu yang sidah berusia 37 tahun ini terasa relevan terutama di bagian lirik yang ditulis di awal. Rakyat dibuat terhenyak dengan temuan “harta karun” di rumah Jampidsus, yang lebih menyedihkan adalah hal ini terjadi saat rakyat sedang kesusahan, BBM yang melambung, rupiah yang makin terpuruk nilainya hingga kegagalan negara menciptakan lapangan pekerjaan bagi rakyat. Sambil menghabiskan mie instan rebus, pikiran saya mulai berimajinasi adegan-adegan lakon “Jaksa vs Polisi” ini dalam panggung teater, sepertinya akan seru jika dipentaskan batinku berbisik. Lalu aku teringat Rendra, budayawan yang tetap kritis dan idealis hingga akhir hayatnya.  Suatu ketika, mas Willy, (panggilan akrab WS Rendra) pernah berkata “dari dulu sampai nanti, perebutan kekuasaan dan suksesi di Nusantara ya gitu-gitu aja, baik pola-nya maupun aktor-aktornya”. Maksudnya gimana mas? Ya kamu baca aja buku ” Sang Perampok ” Sama tonton aja pertunjukan teater “Panembahan Reso”.

Bagi yang tidak mengenal mas Willy tentu akan mengernyitkan dahi sembari berkata ” Kok mudah bener jump to conclusions? ‘ diksi barat mengatakan “time flies and people changes”. Jaman sudah berubah banyak, apa iya masih begitu? Banyak orang mungkin lupa bahwa karakter cenderung menetap, ia menempel kuat dalam masyarakat kita, salah satu warisan kuat yang hingga hari ini masih ada adalah begitu mudahnya masyarakat kita diadu domba. Itulah sebabnya mengapa tesis Snouck Hurgronje masih relevan sampai hari ini. Kata Kolonel (Purn) Sri Rajasa Chandra dalam podcast madilog, aparat penegak hukum kita sudah tidak punya rasa malu lagi, apakah benar demikian atau sudah sejak dahulu seperti yang disampaikan Rendra melalui “Sang perampok” dan “Panembahan Reso”? Saya cenderung pada tesisnya Rendra, mari kita bedah sedikit. Naskah drama “Perampok” karya W.S. Rendra merupakan adaptasi dari karya klasik Jerman berjudul Die Räuber karya dramawan Friedrich Schiller. Mas Willy menyadur naskah ini ke dalam konteks budaya Jawa, dengan latar intrik kerajaan/bangsawan Mataram di sekitar daerah Lumajang. Cerita berpusat pada konflik persaudaraan dan perebutan kekuasaan Raden Sudrajat memfitnah kakak kandungnya sendiri, Raden Legowo. Fitnahan tersebut berhasil membuat Raden Legowo diusir dan dicap sebagai pemberontak oleh sang ayah. Dalam pelariannya ke hutan, Legowo bersama para pengikutnya terpaksa menjadi perampok untuk bertahan hidup. Namun, sasaran mereka bukan rakyat kecil, melainkan para tuan tanah, lintah darat, dan orang-orang kaya yang menindas rakyat. Dari sini, Legowo berubah menjadi sosok pembela keadilan yang memperjuangkan nasib masyarakat kecil, meskipun harus dicap sebagai penjahat.

Sementara itu, Sudrajat berhasil merebut kekuasaan, tetapi pemerintahannya dipenuhi intrik, ketakutan, dan kekacauan. Ambisi yang didasari fitnah dan pengkhianatan akhirnya menghancurkan dirinya sendiri. Kisah berakhir tragis dengan runtuhnya kekuasaan Sudrajat, sekaligus menunjukkan bahwa keserakahan dan perebutan kekuasaan hanya membawa kehancuran. Hal yang sama juga disampaikan Rendra melalui Panembahan Reso.

Panembahan Reso adalah salah satu naskah drama terhebat, terpanjang, dan paling monumental karya sastrawan legendaris Indonesia, W.S. Rendra (Si Burung Merak). Ditulis pada pertengahan 1980-an (dan dipentaskan pertama kali pada tahun 1986 berdurasi sekitar 7 jam), naskah ini adalah sebuah mahakarya yang membedah anatomi kekuasaan, intrik politik, dan sifat serakah manusia secara sangat tajam. Latar belakang cerita terjadi di Kerajaan Amarta, sebuah kerajaan fiktif yang melambangkan negeri yang sedang mengalami krisis moral dan kepemimpinan. Raja Amarta, Sri Raja Krana, sudah tua dan mulai kehilangan ketegasannya. Kerajaan menjadi tidak stabil karena ketidakpuasan rakyat dan intrik di dalam istana. Di tengah situasi ini, bermunculan pihak-pihak yang haus kekuasaan diantaranya Ratu Dara (istri muda Raja) yang berambisi meloloskan adiknya atau pengaruh keluarganya ke lingkungan kekuasaan, kemudian pangeran-pangeran saling sikut, dan para bangsawan penjilat yang concern mengamankan posisinya masing-masing. Di sinilah muncul tokoh utama, Panembahan Reso (awalnya bergelar Lembu Reso). Ia tampak seperti pejabat atau pangeran yang tenang, bijaksana, dan berada di luar pusaran konflik. Namun, di balik topeng kesetiaan dan kesederhanaannya, Reso adalah seorang manipulator ulung. Ia memanfaatkan ambisi orang lain untuk saling menjatuhkan.

Reso menghasut Pangeran Rebo dan Ratu Dara untuk mengambil langkah ekstrem. Mengadu domba sesama bangsawan dan keluarga kerajaan agar mereka saling bunuh atau tersingkir dari pusaran kekuasaan. Menggunakan perempuan, intrik politik, hingga racun demi meloloskan ambisinya. Satu per satu saingan Reso gugur. Sri Raja Krana akhirnya terbunuh oleh konspirasi yang digerakkan dari balik layar. Setelah raja mangkat dan para calon pewaris tahta saling menghancurkan, tidak ada lagi figur kuat yang tersisa di istana. Panembahan Reso tampil sebagai “penyelamat” keadaan. Dengan kelicikan dan kemampuan retorikanya, ia berhasil naik tahta dan menobatkan dirinya sebagai raja baru. Namun, Rendra tidak menyajikan cerita kekuasaan yang manis. Kekuasaan yang didapat dengan darah, tipu daya, dan pengkhianatan tidak akan pernah membawa kedamaian. Setelah menjadi raja, Panembahan Reso justru dibayang-bayangi oleh rasa paranoid, kesepian, dan ketakutan akan pengkhianatan yang sama—karena ia tahu persis bagaimana cara sebuah tahta direbut. Pada akhirnya, Reso sendiri harus menerima pembalasan tragis atas segala dosa dan kelicikannya. Ia tewas akibat racun yang dipersiapkan dalam lingkaran intrik yang ia ciptakan sendiri. Begitulah anatomi kekuasaan, khususnya di Nusantara menurut Rendra, dan saya menyetujui-nya. Mari kita nilai apa yang terjadi hari ini antara Polisi, Jaksa dalam fragmen hari-hari ini. Apakah pertunjukan drama politik ini sudah sampai adegan puncak atau baru masuk episode awal? Anda bisa menilai-nya sendiri. Lalu siapa yang akan menang? Mereka yang tidak kecanduan kekuasaan, merekalah yang akan memenangkan pertarungan ini karena “Kekuasaan adalah racun yang membuat peminumnya haus tanpa henti, hingga akhirnya ia mati oleh dahaganya sendiri.” Tabik!

*) Peneliti Senior pada Jaringan Survei Independen

Tinggalkan komentar